SUMPAH KEPADA LANGIT DAN LAUT - Tulip's

Cerpen Naskah Terpilih
Event Benang Bahasa Mythic Romance

SUMPAH KEPADA LANGIT DAN LAUT
Karya: Tulip's


Jikalah engkau bertanya siapa perempuan yang untuknya dapat saya bersekutu dengan setan, maka akan saya sebut namamu. Yang meski saya ucap dalam hati, maka bergetarlah dada saya, hendak berlari menyongsong rupamu yang jelita, membaui angin yang membawa aroma rambutmu, menatap matamu yang dinaungi sepasang bulu mata lentik, yang tiap kali kau tersenyum, nampaklah gigi putih terapit lesung pipi yang terpatri amat manis.

Duhai, tiadalah pernah saya temui gadis sepertimu, yang tutur katanya selembut kapas yang dibawa angin, yang tiap langkahnya serupa air yang mengaliri tangga-tangga batu. Begitu indah, begitu gemulai, begitu memukau.

Adalah hal baik engkau tumbuh dalam pengasuhan ibumu yang seorang janda itu. Menurut apa yang saya dengar, kau dan ibumu adalah garis keturunan dari seorang dukun di masa lampau, yang konon diyakini pada tubuh kalian, mengalir pula darah hitam yang kotor. Sehingga tiada yang berani mempersuntingmu, Ratna, sebab takut pada dongeng yang menggelikan itu.

Akan tetapi, rupanya saya terlampau lama berleha-leha dalam angan-angan, sehingga tak sadar bahwasanya ketakutan akan keluargamu telah terkikis seiring waktu. Petang itu, kau datang berlari-lari kecil menyibak rumput di pekarangan belakang, senyummu amat merekah seperti bunga kertas merah jambu. Selagi saya mematung menatap kilau matahari yang memantul di rambutmu, kau genggam tangan saya yang bergetah buah jarak. Katamu, "Senang sekali saya, Bang. Senang sekali."

Senyummu begitu menular, lalu kau tertawa ringan sementara saya menatap sepasang pipimu yang merona merah. Tak mengerti saya apa yang membuatmu begitu berbahagia, tetapi, sayangku, saya tak hendak juga bertanya sebab terlampau terlena akan suara tawamu yang manis.

Kita berjalan beriringan, melewati rumpun perdu berbunga putih, lalu duduk di atas batu yang menghadap laut di kejauhan. Langit begitu jingga dan merah, memantul pada permukaan laut yang bergelombang. Di belakang kita, ilalang bergoyang pelan, memenuhi udara dengan bau daun yang terpanggang matahari.

"Abang tahu, Ikhsan hendak datang ke rumah," katamu dengan binar mata yang menyala-nyala.

Saya termangu, tak pernah saya dengar nama itu dalam kedekatan kita selama ini. Bukankah katamu saya abang yang engkau banggakan sebab selalu ada untukmu? Tetapi, bagaimana kedatangan orang asing itu membuatmu merona?

"Siapa dia?" Saya memalingkan muka dari wajahmu yang berseri-seri. Tahulah saya apa yang hendak engkau katakan. Kepala saya mendidih, dan amatlah buruk jika kau melihat betapa saya ingin mengumpati laki-laki itu.

"Sebenarnya ...."

Lalu kau bercerita, mengatakan bahwa ia adalah kekasihmu yang tinggal di kota. Ia tak percaya pada cerita-cerita kelam keluargamu, yang katamu dapat menerima dirimu apa adanya. Serta akan membawamu jauh dari desa yang mengucilkanmu dan ibumu yang tua.

Angin laut menampar muka saya, menyadarkan betapa terlalu lama engkau saya biarkan tanpa berani mengungkapkan perasaan. Betapa kedok murahan saya sebagai tetangga yang selalu membantumu tak cukup menarik hatimu untuk tertambat kepada saya.

"Bagus sekali, kalau begitu." Susah sekali mengucapkan itu, seolah-olah gumpalan ilalang kering menyumbat kerongkongan saya, menggoresinya sehingga panas di leher saya, merambati kepala hingga mata.

Laut di depan sana selalu indah, desir ombaknya acapkali serupa desiran dalam dada saya setiap kali kita duduk bersama sementara kau menceritakan keluhan-keluhanmu. Tetapi, petang ini laut amat memuakkan, merah jingga di permukaannya, debur ombaknya, dan langit yang pelan-pelan menggelap seolah-olah tengah menertawakan saya. Mengejek betapa pengecut laki-laki tak tahu malu yang mendamba terlalu tinggi.

Petang itu, kita berpisah ketika matahari hampir tenggelam di ujung garis laut. Wajahmu masih merona, matamu masih berbinar, dan rambutmu yang hitam legam menari-nari diterpa angin. Katamu, Laki-laki bernama Ikhsan akan datang minggu depan. Kau tersenyum saat mengucapkannya. Senyum yang tak pernah saya lihat di sepanjang hidup saya.

Tidak, sayangku, selagi saya masih mampu menghirup udara, tiada sesiapa dapat menculikmu dari pandangan saya. Tidak meski kau amat mendamba hidup di tempat yang jauh. Tidak sekali pun kau akan sangat berbahagia.

Tiga hari setelah percakapan memuakkan itu, kau datang dengan wajah serupa susu basi ketika saya tengah mengangkat sekeranjang biji jarak dari kebun belakang. Dengan mata berair dan bibir gemetar, kau katakan bahwa seorang pria baya telah mati siang tadi.

"Lalu apa yang merisaukanmu?"

Kau mengeluh, jari-jarimu saling terpaut di atas paha, dudukmu gelisah. "Memangnya abang tak dengar gosipnya?"

Saya mengangguk pelan. Di desa sekecil ini, tidak ada yang tidak dapat didengar. Angin yang bertiup dari laut cukup kuat menghantarkan cerita-cerita yang didengar dari balik dinding-dinding papan.

Laki-laki baya yang mati mendadak tanpa sakit adalah sesuatu yang merisaukan. Melihat orang yang sehat di pagi hari dan muntah darah di sore hari yang menyebabkan kematian tanpa luka luar, tentu amat menakutkan. Padahal, pria baya itu sempat bertandang di teras saya sepulang ia dari ladang. Kami minum, merokok, dan bercakap-cakap soalan harga biji jarak di pengepul yang kian turun.

Wajahnya yang pucat pasi masih segar terpatri dalam benak ketika saya ceritakan bahwa malam-malam lalu, sesuatu yang mengerikan melintas di atas atap rumahmu.

"Leak?" Ia bertanya pelan, berbisik, lalu bergegas menengguk air yang saya suguhkan sebelum ia pulang melintasi rumahmu secepat yang dapat dibawa sepeda tuanya.

Bisik-bisik pasca kematiannya pun telah sampai ke kuping saya. Ibumu yang tua telah menggunakan ilmu turunannya, memakan korban pertamanya yang tak bersalah.

Saya mengelap tangan setelah mencucinya dengan sabun, lalu menepuk kepalamu yang menunduk. Saya mengerti kerisauanmu, engkau takut dan ibumu pun begitu.

"Kau percaya apa yang orang-orang katakan?" Kepalamu terangkat, menatap saya dengan sepasang mata yang basah. Kau menggeleng pelan, lemah. "Kalau begitu, tak perlu dipikirkan."

Saya pikir, kematian yang ganjil dan gosip buruk yang menimpa keluargamu cukup menyiutkan nyali Ikhsan. Tetapi agaknya perhitungan saya keliru. Engkau masih riang-gembira menceritakan kekasihmu tiap-tiap kita bertemu.

Saya menatap biji-biji jarak yang mengering, ampas sisa-sisa pembuatan minyak, dan rumah Mak Tua di pinggiran ladang. Hari telah menguning ketika saya menyambangi rumahnya yang sunyi. Betapa senang ia ketika saya ulurkan sekeranjang ubi dan menimbakan air untuk mengisi kentong airnya.

Sayangku, perempuan tua kesepian itu mungkin amatlah malang. Ia telah mati hari ini, dua hari sejak kunjungan saya. Amat sedih saya, membayang senyumnya di ambang pintu ketika saya pamit pulang. Itulah kiranya terakhir kali saya melihatnya masih bernapas.

"Dik ...."

Kau meletakkan bunga-bunga yang kau guntingi dari halaman belakang rumah, menatap saya dengan matamu yang bulat. "Ya, Bang?"

"Sebaiknya Ikhsan tak usah datang besok." Agaknya, perkataan saya telah menyinggungmu, lekas saja binar ceria di wajahmu berganti murung.

"Kenapa?"

"Semua orang sedang membicarakanmu. Abang khawatir, sedikit banyak ia terpengaruh bila mendengar cerita dari banyak mulut."

Kau merengut.

"Lagi pun, bagaimana jika mereka yang mati sebenarnya sebab penyakit menular? Kau tak mau Ikhsan terkena, 'kan? Sebab itu, sampai jelas keadannya, tahanlah dulu untuk mengundangnya."

Kau mengangguk lemah, matamu berkabut. Cepat kau berdiri dan menyebrangi halaman, membuat gaun kuning pucatmu berkibar-kibar ditiup angin. Di atas tanah, bunga-bunga merah muda jatuh dan berserak. Saya mengulurkan tangan hendak meraih satu kelopak yang luruh, tetapi angin menerbangkannya sebelum saya menyentuhnya.

Terduduk saya di atas tanah. Pohon-pohon jarak mengejek saya, mencemooh hidup saya yang menyedihkan. Tangis dari rumahmu menusuk dada saya, terdengar begitu tajam merobek gendang telinga.

Kemudian, setiap kali tangismu yang pilu terdengar, serta-merta saya tertawa. Menertawakan mimpimu dan laki-laki itu. Sebab pada petang di mana kau mengutarakan keinginan dan menyebut nama pemuda itu untuk pertama kali, telah bersumpah saya demi laut dan langit bahwa tak akan saya lepas engkau, sayangku, betapa pun indahnya mimpi yang kau bayangkan.

Tidak, tidak ... sebab sedari dahulu, sedari tiada seorang pun yang sudi mengajakmu bermain selagi kanak-kanak melainkan saya, ketika tak sesiapa sedia berkawan denganmu dan beramah-tamah dengan ibumu melainkan saya, maka seharusnya tahulah engkau bahwa sepenuhnya dirimu adalah milik saya yang berharga. Betapa pun hubungan kita tak dapat melewati garis sebagai tetangga yang mengasihi, betapa pun kau menganggap saya sebagai abang yang sedia dikala kau butuh. Betapa pun tak ada sebersit keinginanmu mencinta kepada saya.

Malam ketika bulan begitu bulat dan angin laut begitu ganas menerpa ilalang-ilalang, berdiri saya di muka sumur di tengah padang ilalang yang dipenuhi suara-suara binatang malam.

Sinar perak bulan memantul pada permukaan sumur yang hitam, memantul pada badan botol yang tergenggam di tangan saya yang gemetar, dan menimpa saya dengan tuduhan apa yang hendak saya perbuat terhadap sumber air desa. Namun, sayangku, membayangkan dirimu bersanding dengan pemuda itu mengaburkan pantulan bulan, mengaburkan pandangan, dan pikiran-pikiran waras saya.

Suara kecipak air mengoyak pendengaran saya ketika botol dalam genggaman meluncur jatuh. Satu kutukan terikrar, apa-apa yang tersimpan di dalamnya mestilah larut bersama isi sumur; masuk lewat mulut, mendekam dalam perut, menggerogoti apa yang bisa ia hancurkan dalam tubuh.

***

Berhari-hari sudah desa kecil kita dihantui ketakutan akan kematian. Mulanya, satu dua orang mengalami sakit yang serupa dengan pria baya dan Mak Tua yang mati berhari-hari lewat, namun, seiring waktu, tubuh-tubuh mulai berjatuhan. Anak-anak, wanita dan para lelaki mulai muntah dan diare parah sehingga katanya ada pula yang bercampur darah. Seseorang telah mengirim tulah, begitu bisik-bisik yang saya dengar.

Di hadapan jenazah seorang anak kecil saya duduk. Menyedihkan sekali ia, tubuhnya yang pucat dan mata cekung itu telah menceritakan bagaimana ia amat menderita sebelum mati. "Seakan-akan jiwanya telah disedot ilmu sihir yang mematikan," kata saya pelan, tetapi telinga-telinga di samping saya cukup untuk mendengar.

Seseorang menyentuh lutut saya, merapatkan tubuhnya dan berbisik, "Benar kan? Kupikir pun begitu."

Saya mengangguk, di sisi kepala jenazah, ayah mendiang menatap saya dengan mata merah. "Saya tak ingin mengatakan ini. Tapi, tiga malam lepas, melintas di atas rumah Ratna, saya ... melihat ...."

Desas-desus menjalar secepat tumbangnya satu demi satu penduduk desa dalam waktu yang singkat. Kemudian, tercetuslah satu nama, suatu tuduhan yang diyakini dengan sepenuh amarah dan kebencian. Ibumu yang tua, telah menggunakan sihirnya untuk membalaskan dendam kepada khalayak.

***

Ketika saya bertandang ke kediamanmu pada malam itu, engkau diliputi kesedihan yang kentara. Kau dan ibumu tidak lagi sekadar dikucilkan, melainkan sebagai terdakwa akan kematian yang beruntun. Ibumu yang tua menatap saya lamat-lamat, sementara kau menangis, sehingga terpantullah sinar lampu yang pucat di pipimu yang basah.

"Kenapa mereka menuduh Ibu, Bang? Kami tidak melakukan apa-apa." Begitu katamu di antara tangis yang pilu.

"Sebab mereka butuh satu orang untuk disalahkan, Ratna."

"Tapi kami tidak mungkin melakukan hal itu."

Saya menganggukkan kepala. "Pernahkah kau dengar legenda Calon Arang?" Kau mendongak. "Seorang Ibu yang mengirim tulah karena merasa terhina sebab tak ada yang mau mempersunting putrinya."

Di tempatnya duduk, Ibumu masih menatap saya.

Kau kian terisak ketika saya katakan apa-apa yang telah saya dengar di luar sana, sebab kau dan ibumu telah mengurung diri di rumah berhari-hari.

Di warung-warung, di teras-teras, hingga di sungai-sungai dan pasar, ibumu telah menjelma Calon Arang tanpa ia ketahui. Ia mungkin tak tahu cara mengirim tulah, tetapi mulut yang tak terjaga lebih tahu bagaimana membuat cerita yang mudah diyakini di saat khalayak membutuhkan satu pelampiasan. Garis keturunanmu, sayangku, telah menjadi jalan dalam mengutuk dirimu, terlebih ibumu yang bahkan tak sanggup lagi berdiri lama-lama saking tuanya ia.

"Telah banyak yang mati, Ratna. Kudengar, mereka akan menangkap kalian dan membakar rumah ini."
 
Kau terkesiap, ibumu mengeluh. Sepasang mata tuanya dipenuhi kaca-kaca yang siap retak dan luruh.

"Bersiaplah, kita mesti pergi sebelum mereka datang." Tanganmu begitu dingin dalam genggaman saya. Dapat saya rasakan tubuhmu yang gemetaran.

Kau menggeleng. "Tapi Ikhsan akan datang besok, Bang."

Saya melepas tanganmu yang halus, menatap sorot lampu yang menggantung rendah. Saya tahu itu, sebab kau berkali-kali mengatakannya. "Dan dia akan menemukan abumu di sini."

***

Langit malam merona merah, asap membubung, keretak kayu dilahap api teredam oleh suara-suara yang meneriakkan kemenangan. Di antara ilalang-ilalang yang menggores betis dan lengan kita berlari. Di bawah naungan awan yang pelan-pelan menelan bulan, kesiur angin menyamarkan tangisanmu. Kau terseok-seok selagi saya membawamu menjauh dari amukan khalayak yang kalap.

Kita berdiri di mulut tebing yang dingin dengan napas yang hampir putus. Laut di bawah sana begitu gelap. Kau terduduk lemas di atas batu, menangis memanggil-manggil ibumu yang tak dapat kita bawa serta.

Kedatangan orang-orang itu ternyata lebih cepat dari dugaan saya. Ketika kau masih ragu-ragu di kursimu, cahaya lampu dan obor menyorot beserta teriakan-teriakan pengusiran yang memuakkan.

Ibumu yang renta menolak ketika saya ulurkan tangan. Ia bilang tak akan pergi dari rumah yang diwariskan suaminya sebelum mati. Ia katakan tak akan lari sebab ia tiada bersalah. Meski telah saya yakinkan bahwa mereka yang datang tak peduli benar dan salah, ibumu kukuh pada pendirian. Ia perintahkan saya untuk membawamu pergi sementara ia menghadapi keramaian, mengulur waktu agar dapat saya bawa kau berlari lebih jauh.

Percayalah, sayangku, saya tak berniat melangkah sejauh ini. Saya tak hendak membuatmu kehilangan begitu banyak sehingga amat menderita begini. Saya hanya ingin membuat gertakan pada pemuda pongah yang merasa dapat merampasmu dari sisi saya. Tetapi, agaknya saya terlampau buta oleh ketidakrelaan akan perpisahan. Tak seharusnya saya ....

Tetapi, segalanya telah terjadi, sayangku. Saya telah menjadikanmu putri Calon Arang meski sesungguhnya saya tak mau.

"Mari, Ratna." Kau menatap uluran tangan saya, meraihnya ragu, berdiri di sisi saya dan mengedarkan pandang pada kegelapan yang dingin.

"Ke mana, Bang?" Suaramu serak, parau.

"Laut."

Kau mundur. Saya mengulurkan tangan dan kau mundur lagi.

"Jangan takut, laut akan memeluk kita." Saya tersenyum, tetapi kau menatap saya seperti melihat hantu. Kenapa sayangku? Saya akan memelukmu dalam dingin laut yang gelap.

Sadar saya kau tak akan bersedia hidup bersama saya sebagaimana Ratna Manggali berbahagia bersama Empu Bahula selepas kematian ibunya. Sadar saya jikalah kita berhasil melarikan diri, engkau akan jatuh dalam peluk Ikhsan dan melupakan saya.

Maka, kau mesti ikut bersama saya ke neraka. Sebab jika bukan saya, maka tidak siapa pun, sayangku.



Padang Lawas, 20 Februari 2026

Catatan kaki;
Legenda/Mitos : Calon Arang

Posting Komentar

0 Komentar