PEREMPUAN YANG MENYIMPAN WANGI MALAM - Erlyna

Cerpen Juara 1
Event Benang Bahasa Mythic Romance

PEREMPUAN YANG MENYIMPAN WANGI MALAM
Karya: Erlyna


Malam-malam di Al Fahidi kala musim dingin tiba, selalu ada pemuda yang ditemukan terkapar tidak bernyawa di rumah menara angin yang dinding batu karangnya telah menguning oleh garam laut. Darah tiada henti-hentinya meleleh dari dada yang berlubang sebesar dua kepal orang dewasa, yang isinya telah dicerabut dengan paksa dan entah ada di mana. 

Awal mula dari mencengkamnya udara adalah hilangnya seorang pria muda. Lalu menjadi dua, tiga, dan semakin lama tidak terhitung lagi jumlahnya. Tanah-tanah tiada meninggalkan jejak, pun darah-darah yang menjadi pertanda. Hanya ada aroma manis dari parfum yang terbawa angin dan berputar-putar di atas kepala.

Adalah Rashid bin Talal, seorang pemuda yang siang itu baru saja pulang dari museum dan tengah istirahat sebentar sembari memperhatikan orang-orang. Mereka mengerubungi pedagang yang menjual dupa, minyak wangi, dan produk beraroma oud. Dari kerumunan itulah ia mendengar cerita perihal kematian-kematian yang tidak wajar.

“Ada perempuan jelita yang menjemput mereka.”

“Ah, jangan percaya.”

Namun, samar-samar tersebutlah nama itu, lirih saja, tetapi seketika meremanglah bulu kuduk Rashid, yang pada telinga dan mulutnya telah ia haramkan mendengar dan mengucap nama itu: Umm Al-Duwais.

Segera bangkitlah Rashid dengan kaki yang limbung dan langkah terhuyung-huyung. Di kepalanya, mulai tersusun sebuah cerita yang ia rangkai sendiri lewat potongan-potongan yang terus saja menggema-gema: pemuda-pemuda yang ditemukan mati itu, tiada lain dan tiada bukan adalah korban dari perempuan siluman yang berhasil memperdaya mereka dalam jebakan kecantikannya, lalu diajaknya mereka berhubungan, kemudian dihukum dengan direnggutnya isi dada.

Selama bekerja sebagai penjaga arsip di museum, Rashid percaya bahwa setiap benda-benda yang terlupakan itu memiliki roh. Maka ia pun mengimani bahwasanya isi dada yang hilang barangkali masih berdetak-detak di suatu tempat yang tidak terlihat.

Langkah-langkah Rashid semakin cepat kala menyadari senja yang semakin pekat. Bayangan gedung bergoyang-goyang, angin datang dari barat dengan aroma kasturi yang menusuk-nusuk. Wewangian yang sejatinya lembut itu justru mengganggu dan membuat pening kepala.

Berhentilah ia di bawah lampu jalan yang bergetar-getar, yang mana berdiri pula seorang perempuan dengan burqa putih sewarna bulan yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.

Perempuan yang sudah sangat dikenalnya itu mengangguk pelan sembari mendekat ke arah Rashid yang menatapnya dengan penuh kelegaan di sepasang matanya.

“Apakah dikau sedang tersesat, Ya Qalbi?”

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menatap dalam seolah-olah membaca sesuatu di balik sorot mata Rashid.

“Saya memang selalu tersesat,” katanya akhirnya, “begitulah cara engkau menemukan saya.”

Keduanya lalu berjalan menyusuri sikka yang hanya cukup untuk sepasang bayangan yang saling berkelindan, sementara lampu-lampu kecil yang menggantung-gantung rendah, terus saja bergoyang-goyang.

Dalam keremangan cahaya, kegundahan menjelma batu besar yang membuat langkah-langkah Rashid terantuk. Sesekali diliriknya Sayba, perempuan pendatang yang belum lama ini dinikahinya, berjalan di sampingnya dengan ketenangan milik seorang ibu yang menatap bayinya tertidur. Pandangannya menunduk, menyembunyikan keelokan wajahnya dari keramaian dunia. Untuk sesaat, ditepisnya gulana yang mendera hatinya.

“Apa gerangan yang sedari tadi begitu mengganggu engkau, Kasihku?”

Setibanya di rumah, tiada mampu lagi Rashid membendung kegamangannya. Ditatapnya Sayba yang menyadari sesungguhnya ada sekelimun perkara yang mengaduk-aduk isi kepalanya.

Namun, apakah pantas jika cerita horor bermuatan tidak patut itu, dikisahkannya kepada sang istri hanya demi kelegaan hatinya, yang terus-menerus dibayang-bayangi oleh sebuah nama yang sejatinya tidak layak diingat itu?

Rashid hanya mematung dengan tatapan kosong, memandangi halaman tengah dengan sumur kecil dari jendela tempatnya berdiri.

“Ah, tidak ada. Aku baik-baik saja.”

Rashid berpaling, menatap istrinya yang tengah mengangkat wajahnya sembari membuka penutup kepala. Ia yakin, perempuan itu sedang gundah pula.

*** 

Sayba tidak hanya gundah. Ia juga marah! Marah kepada Rashid, tetapi tentu saja ia tidak bisa serampangan menunjukkan raut muka yang mewakili rasa itu tersebab sang suami baru saja tiba selepas bekerja dan kini telah beranjak dari hadapannya dan berbaring lemas di dipan.

Naluri kewanitaannya jelas memberi tahu bahwa tubuh yang kini tampak lemas itu bukan hanya karena lelah bekerja dan menempuh perjalanan jauh, tetapi juga buah dari banyaknya hal-hal ganjil yang terus mengganggunya belakangan ini.

Sayba begitu iba melihat wajah Rashid yang pucat, matanya yang cekung, yang sayang sekali harus mengganggu ketampanannya. Andai sehat, pipinya begitu memesona dengan sepasang lesung, matanya bersinar, suaminya itu akan menjadi sosok yang sempurna sekali pesonanya.

Lalu teringatlah Sayba pada penyakit aneh yang beberapa bulan terakhir mendera suaminya. Setiap malam sering demam tinggi dan mengeluh nyeri di sekujur tubuhnya, lalu lemas. Jikalau sudah begitu adanya, sosok perkasanya hanya bisa berbaring berjam-jam. Kadang pula ia tampak sehat-sehat saja, tiada memendam penyakit apa-apa. Tabib pun bingung dibuatnya. Berkali-kali diperiksa tiada didapati masalah yang mengarah pada satu pun jenis penyakit. Dan lebih aneh lagi, sehabis demam dan nyeri, ia selalu ingin jalan-jalan ke taman atau hutan buatan di tepi kota. Di sana ia terlihat ceria dan tiada sakit sedikit pun. Kondisinya akan membaik sampai beberapa minggu. 

***

Pada suatu malam yang dingin, Rashid pernah bertanya kepada istrinya, “Apakah dikau percaya pada cerita rakyat atau legenda?”

Sayba duduk menunduk di bangku kayu yang ada di halaman belakang. Kakinya yang telanjang diayun-ayunkannya dengan pelan. Ia kemudian menuangkan gahwa dari dallah perak, uapnya naik bersama aroma kapulaga yang lembut, seolah-olah malam sedang diajak duduk bersama dan ikut berbicara.

“Legenda hanyalah bagian dari cara manusia mengingat ketakutannya.”

“Lalu ... kebenaran?”

Sayba menoleh cepat dengan sorot mata yang menyimpan banyak hal. “Kebenaran ... adalah legenda yang belum selesai diceritakan.”

Rashid merasakan ada sesuatu di balik kalimat itu, tetapi urung menanyakannya.

Keduanya kemudian berjalan-jalan mengusir penat melewati pasar tua. Lampu-lampu menggantung serupa bintang-bintang yang melayang rendah.

Sayba berhenti di depan cermin tua yang dijual pedagang barang antik. Ditatapnya pantulan dirinya yang kosong.

Rashid mengerjap dengan cepat saat melihatnya, seakan-akan merasa ada sesuatu yang salah pada matanya.

“Apakah engkau pernah merasa,” kata Sayba perlahan, “bahwa dunia melihatmu bukan sebagai dirimu, tetapi sebagai cerita yang dibuat orang lain?”

Rashid mengangguk cepat. Ia kerap merasa seperti itu. Kemudian tanpa sengaja, mengalirlah kisah-kisah yang belakangan ini mengganggu ketenangannya.

Sayba mendengarkan sembari tersenyum, tetapi matanya tampak lelah. “Begitulah saya,” katanya, dengan suara lirih, menyerupai gumaman untuk dirinya sendiri.

Dalam perjalanan pulang, Rashid menyadari sejatinya Sayba sedang marah kepada dirinya. Hal itu ia yakini sejak ia menceritakan apa yang selama ini mengganggu pikirannya. Sayba bergeming, tiada menanggapi dan baru membuka suara dengan lirih setelah diguncangnya pundak kurusnya beberapa kali.

“Tentu saja, saya baik-baik saja. Saya hanya ... begitu terhanyut dengan cerita engkau, Kasihku. Bagaimana mungkin di tempat yang tenang ini, ada sosok perempuan yang ....”

Digenggamnya tangan Sayba yang dingin, diremasnya dengan lembut jari-jari istrinya yang tampak sedikit kebingungan itu. Dengan hati-hati, dituntunnya dengan penuh cinta sosok yang sangat dikasihinya itu menuju rumah. Rashid menyadari, sungguh sebuah kesalahan besar menceritakan perihal Umm Al-Duwais kepadanya istriny.

Di dalam kamar pun, Sayba menolak dengan halus untuk duduk berdampingan. Ia lebih memilih kursi di samping dinding pembatas. Tiada sekali pun pula ia mau ditatap. Sayba hanya memandangi halaman samping lewat jendela yang sengaja dibuka.

Sementara itu, Al-Fahidi semakin ramai oleh rumor. Kabar-kabar yang dibawa angin mengatakan Umm Al-Duwais adalah roh pembalas. Sebagian besar orang meyakini bahwa sosoknya diciptakan oleh kesedihan perempuan-perempuan yang dilupakan.

Sementara sisanya menganggap kehadirannya hanyalah dongeng untuk menakut-nakuti para pria muda.

Namun, kenyataan adalah kejujuran paling hakiki. Orang-orang yang telah hilang belakangan ini, semuanya dikenal selalu mempermainkan perasaan tanpa sadar diri. Pembohong, pengkhianat, penipu, dan segala gelar buruk lainnya yang tiada termaafkan lagi.

Angin dari teluk berembus membawa bau asin laut yang bercampur dengan harum gaharu. Malam-malam di Al Fahidi tidak pernah benar-benar sunyi, melainkan hanya menurunkan suaranya menjadi bisik-bisik yang menyelinap melalui celah jendela dan sela-sela hati manusia.

Kisah tentang Umm Al-Duwais kian beranak-pinak merupa bayang-bayang yang melahirkan bayang-bayang lain. Setiap pemuda yang ditemukan mati memiliki kisah yang serupa: dada berlubang, jantung tiada, dan aroma manis yang tertinggal di udara, kasturi bercampur pekat mawar.

Rashid menjalani hari-hari dengan kecemasan yang tiada mampu ia jelaskan. Setiap kali demamnya datang, ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang memanggil-manggilnya dari kejauhan, suara perempuan yang tidak sepenuhnya asing. Dalam mimpinya, ia berjalan menyusuri taman buatan di tepi kota, dan di sana berdiri seorang perempuan. Wajahnya kabur seperti pantulan di air yang berguncang-guncang, tetapi matanya, mata itu selalu sama: teduh, dalam, dan menyimpan rahasia.

Kemudian, ia selalu terbangun dengan keringat dingin dan harum wewangian yang melekat pada bantalnya.

“Engkau bermimpi lagi?” kata Sayba suatu malam, tanpa menoleh dari jendela.

Rashid terdiam. Ia tiada pernah bercerita perihal detail mimpinya. “Bagaimana dikau tahu?”

Sayba tersenyum tipis. “Karena engkau menyebut-nyebut nama seseorang dalam tidur.”

“Siapa?”

Sayba menoleh perlahan. Sorot matanya seredup lampu yang hampir padam. “Nama saya.”

Jantung Rashid bergetar-getar. Sekujurnya terasa dingin tanpa sebab. “Aku menyebut namamu?”

“Ya,” jawabnya pelan. “Tetapi bukan sebagai istrimu.”

***

Beberapa hari berselang, seorang pemuda kembali ditemukan mati di menara angin yang telah lama kosong. Rashid dipanggil ke museum lebih awal untuk membantu mengarsipkan benda-benda peninggalan keluarganya. Di antara tumpukan surat-surat, ia menemukan secarik kertas yang berisi puisi pendek:
‘Aku mencintai perempuan yang datang bersama malam. Ia memberiku ciuman yang manis, lalu mengambil sesuatu yang tiada pernah kupelajari cara menjaganya.’

Rashid merasakan tengkuknya meremang. Tulisan tangan itu miring tidak beraturan, seperti ditulis oleh seseorang yang menyadari bahwa waktu miliknya tidaklah lama lagi.

Malamnya, ketika ia pulang, rumah terasa berbeda. Lampu-lampu meredup, tirai bergerak-gerak walau tiada angin. Di sudut ruangan, mabkhara kecil mengepulkan bukhoor, dan asapnya naik perlahan serupa roh-roh yang merasa berat meninggalkan tubuhnya.

Sayba duduk di tengah ruang tamu, rambutnya tergerai, wajahnya pucat diterpa cahaya bulan.

“Engkau lama sekali, Kasihku.”

“Ada lagi ... yang mati.”

Sayba mengangguk pelan, seolah-olah kabar itu telah ia dengar sejak pagi.

Ditatapnya sang istri begitu lama. Ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya, bahwasanya setiap kali kabar kematian tersebar, demamnya mereda. Setiap kali ia merasa sehat, seseorang di luar sana kehilangan nyawa.

“Sayba,” suaranya bergetar, “sejak kapan dikau menyukai wewangian kasturi?”

Perempuan itu tersenyum samar. “Sejak aku menjadi perempuan.”

“Dan sebelum itu?”

Sayba berdiri perlahan. Jubah putihnya menyentuh lantai seperti kabut yang turun dari langit. “Sebelum itu, aku hanyalah sepotong cerita.”

Rashid mundur selangkah. “Cerita?”

“Cerita yang diulang-ulang oleh para ibu untuk menakut-nakuti anak lelaki mereka. Cerita yang lahir dari air mata perempuan yang dikhianati. Cerita yang ... tumbuh dari dada-dada yang menganga.”

Lampu ruangan bergetar-getar lebih keras. Bayangan mereka di dinding bergoyang-goyang tidak beraturan, memanjang, dan saling bertaut.

“Aku ingin percaya bahwa semua ini hanya kebetulan,” bisik Rashid, “bahwa engkau hanyalah istriku. Bahwa demamku hanyalah penyakit biasa.”

Sayba mendekat. Aroma manis yang pekat seketika memenuhi ruangan, menusuk-nusuk dan memabukkan. “Bagaimana jika bukan?”

Rashid memejamkan mata. Dalam kegelapan, potongan-potongan kenangan menyatu: bagaimana dirinya pertama kali bertemu Sayba di taman, tampak tersesat seolah-olah menunggu ditemukan. Bagaimana sosok wanita itu selalu tahu kapan ia bermimpi. Bagaimana cermin di pasar tua memantulkan kekosongan pada sosoknya.

“Dikau pernah mengatakan,” Rashid membuka mata perlahan-lahan, suaranya nyaris tidak terdengar, “bahwa kebenaran adalah legenda yang belum selesai diceritakan.”

Sayba mengangguk.

“Apakah ini akhir ceritanya?”

“Bukan, tentu saja bukan, Kasihku,” jawabnya lembut.

Di luar, angin berhenti berputar-putar. Semesta seolah-olah ikut mendengarkan percakapan mereka berdua sembari menahan napas. Sayba berdiri teramat dekat. Wajahnya begitu cantik hingga menyakiti mata. Namun, di balik keelokan itu, Rashid melihat kesedihan berlipat-lipat yang coba disembunyikan.

“Saya tidak pernah memilih menjadi apa yang mereka kutuk,” katanya lirih. “Nama itu, diberikan kepada saya oleh ketakutan-ketakutan. Saya hanya berusaha mengembalikan apa yang diambil dengan paksa.”

“Jantung mereka?”

“Bukan,” Sayba menggeleng pelan. “Keadilan.”

Dalam lamunan yang tegang, Rashid kemudian teringat para pemuda yang telah mati, yang beberapa di antaranya ia ketahui namanya dan perilakunya. Semua memang dikenal gemar mempermainkan hati. Namun, bagaimana dengan ia sendiri? Dengan kekacauan batin ditelusurinya masa lalu yang penuh lembar-lembar kelam. Ada seorang gadis yang pernah ia janjikan sebuah pernikahan, tetapi ia tinggalkan demi ambisi duniawi. Ada pula surat-surat yang tidak pernah ia balas meski telah dibacanya berulang-ulang.

Demamnya ternyata bukanlah penyakit biasa, melainkan sebuah panggilan kekasih.

“Aku mencintaimu,” kata Rashid tiba-tiba, seolah-olah kalimat itu bisa menjadi perisai atas dosa-dosa masa lalunya.

Sayba tersenyum, senyum yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. “Saya tahu.”

“Apakah cinta di dadaku cukup untuk menyelamatkanku?”

Perempuan itu terdiam cukup lama. Di langit yang pekat, bulan bergerak perlahan-lahan di antara menara angin. “Cinta bukanlah sebuah penebusan,” katanya akhirnya.

Rashid merasakan dadanya berdenyut-denyut aneh saat tangan Sayba menyentuhnya dengan lembut. Perempuan itu seolah-olah hendak menenangkan bayi yang terus saja menangis.

“Tentu saja engkau berbeda, Kasihku,” bisiknya. Sayba menatapnya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, ada kegamangan di balik sepasang mata yang biasanya dipenuhi binar-binar. “Namun, tahukah engkau, Kasihku, saya telah menjadi cerita yang tidak pernah diberi akhir selain darah.”

Tangannya yang menyentuh dada Rashid bergetar-getar semakin hebat. Aroma kasturi menguat, sebelum akhirnya perlahan-lahan memudar.

Di kejauhan, terdengar azan Subuh berkumandang, memecah-mecah malam menjadi serpihan cahaya. Sayba menarik tangannya. Rashid terjatuh berlutut, terengah-engah, tetapi dadanya masih tetap utuh. Jantungnya berdetak kencang, masih pada tempatnya.

“Pergilah dari kota ini,” kata Sayba pelan. “Bawalah hidup engkau sejauh mungkin.”

“Bagaimana dengan dikau?” tanya Rashid dengan mata basah.

Perempuan itu melangkah mundur. Wajahnya mulai kabur serupa bayangan yang ditelan cahaya pagi. “Saya akan kembali menjadi legenda, sampai dunia berhenti melahirkan pemuda-pemuda yang durhaka.”

Rashid berteriak-teriak memanggil nama istrinya. Namun, yang tersisa hanyalah burqa putih bulan yang tergeletak di lantai dan sisa aroma yang perlahan-lahan menghilang.

Beberapa minggu kemudian, Rashid meninggalkan Al Fahidi. Orang-orang tentu saja masih membicarakan sosok Umm Al-Duwais, tetapi tiada lagi kematian ganjil yang baru.

Sebagian mengatakan roh itu telah puas, sebagian lain percaya ia hanya mengawasi di kejauhan.

Di tempat yang terasing dari keramaian, Rashid kerap terbangun oleh mimpi tentang taman dan perempuan dengan burqa putih bulan. Namun kini, dalam mimpinya, perempuan itu tiada mendekat untuk merenggut apa pun. Ia hanya berdiri dari kejauhan, menatapnya dengan sorot mata penuh duka yang lembut.

Setiap kali Rashid terbangun, ia akan meletakkan tangannya di dada, memastikan detaknya masih setia di sana.

Legenda belum selesai, tetapi untuk pertama kalinya, ia diberi kesempatan untuk menulis akhirnya sendiri.

Di museum selepas kepergian Rashid, sebuah bejana besar di sudut ruangan yang telah lama kosong, kini terisi penuh oleh debaran-debaran yang tiada beraturan.

Selesai.


Purworejo, 20 Februari 2026

Sekadar catatan:
Sikka: gang-gang sempit
Mabkhara: wadah pembakar dupa
Bukhoor: kayu aromatik dibakar
Dallah: teko 
Gahwa: Cangkir kecil tanpa pegangan

*Umm al-Duwais adalah sosok hantu dalam cerita rakyat Emirat dan Teluk yang digambarkan sebagai wanita cantik namun menakutkan dengan rahasia mengerikan.

Posting Komentar

0 Komentar