Cerpen Harapan 3
Event Benang Bahasa Kartini
TUSUK PERTAMA
Karya: Azizah Mahira
Farida lupa rasanya didengar. Sedari kecil, hidupnya sudah berjalan seperti benang yang telah ditentukan arahnya, tanpa pernah dipegang sendiri ujungnya. Sekolahnya pun tidak sampai lulus, dan berhenti sampai di bangku kelas dua SD.
Sejak saat itu, ia mulai belajar hal-hal yang lebih penting, sebagaimana disebutkan oleh orang-orang di sekitarnya, bahwa wanita harus bisa menyelesaikan pekerjaan rumah, memasak, mengurus keluarga, dan taat jika sudah bersuami.
Kini, di usianya yang menginjak lima puluh tahun, tangannya tetap sibuk memotong kangkung yang ia petik di belakang rumah, mengiris cabai, bawang, dan menanak nasi. Tangan keriput itu tidak pernah benar-benar diam. Dari dapur ke halaman, dari halaman ke dapur. Terus saja begitu, tetapi tidak pernah sekali pun Farida berhenti untuk bertanya pada dirinya sendiri, sebenarnya apa yang ia inginkan.
“Neng, dua minggu lalu, kan, kamu daftarin Emak ke balai pelatihan.” Suara Farida pelan, hampir tenggelam oleh bunyi pisau yang beradu dengan talenan. “Emak dapat tawaran kerja menjahit di konveksi Bu Dewi.”
Ratih yang sedang mencuci buah-buahan langsung menoleh. Senyumnya bersinar dan hangat seperti mentari pagi yang menyelinap di sela-sela jendela.
“Serius, Mak?” Farida mengangguk kecil.
“Alhamdulillah. Akhirnya, enggak sia-sia Neng daftarin Emak di balai pelatihan desa.”
Pisau di tangan Farida pun berhenti sejenak. Ia menatap potongan kangkung yang belum selesai.
“Tapi kalau abahmu marah gimana, Neng? Terus nanti apa kata tetangga kalau Emak jadi istri durhaka karena tidak izin dulu sama suami saat ikut pelatihan.”
Ratih menghela napas kasar. “Semoga aja enggak, Mak. Terus kenapa, sih, Emak selalu takut sama omongan orang?”
Farida tidak menjawab. Tangannya kembali bergerak memegang pisau dengan erat, lebih cepat dari sebelumnya, seolah ingin menutup percakapan itu bersama potongan-potongan sayur yang jatuh.
***
Malam datang seperti biasa, sunyi, tetapi penuh dengan sesuatu yang tidak terucap. Desir angin pun menyelinap lewat celah-celah ventilasi, dan hanya ada suara jangkrik yang membelah kesunyian. Degup jantung Farida pun terdengar seperti derap langkah kuda.
Ia menyeduh kopi hitam untuk Kasta, suaminya. Tangannya juga sedikit gemetar saat meletakkan cangkir di meja kayu tua yang mulai lapuk.
“Ini kopinya, Bah.”
“Taruh saja.”
Farida berdiri sebentar di ambang pintu. Napasnya tertahan bak waktu yang sejenak lupa berdetak.
“Ada apa lagi?” tanya Kasta tanpa menoleh. Tangan kanan pria berusia 55 tahun itu sibuk mengelus ayam jago kesayangannya.
Lidah Farida terasa kelu. “A–aku ... dapat tawaran kerja menjahit di konveksi Bu Dewi, Bah.”
Suasana langsung hening sejenak. Lalu pria berjanggut lebat itu berdiri. “Umur segitu masih mau kejar mimpi kayak anak muda?” Suaranya tajam. “Orang kampung itu gampang ngomong, Farida. Kalau istri kerja, nanti dibilang suaminya enggak becus, gimana? Yang malu pasti saya!”
Farida menunduk. Jemarinya meremas ujung daster cokelat yang dikenakannya.
“Ta–tapi, Bah—”
“Diam!” potongnya. “Enggak izin aja itu udah salah. Sekarang mau membangkang? Liat itu keluarga si Santi! Suaminya tiap hari jadi bahan omongan orang sekampung karena istrinya kerja. Dibilang laki-laki enggak berguna karena cuma di rumah!”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti batu yang menghantam sesuatu yang rapuh di dalam diri Farida. Ia tidak berani menjawab. Hanya berbalik, langkahnya pelan menuju dapur, lalu pergi ke gudang di belakang rumah.
Gudang berukuran sedang itu terasa pengap. Bau debu dan kain lama bercampur jadi satu. Pelan-pelan Farida membuka lemari plastik warna biru.
Tangannya mencari sesuatu yang ia sembunyikan setelah selesai kursus diam-diam, lalu berhenti saat melihat gamis putih. Ia mengangkatnya perlahan. Jahitannya sudah rapi, setiap tusuk benang tersusun hati-hati. Akan tetapi, tangannya mulai gemetar saat menyentuhnya. Ia melipatnya sebentar, lalu membukanya kembali, seolah mencari alasan untuk berhenti bermimpi.
Jemarinya menyentuh jahitan di bagian lengan gamis itu. Dulu, di rumah neneknya, tangan kecil Farida sering belajar menjahit. Jahitan pertamanya adalah kain batik Mega Mendung khas Cirebon untuk mendiang ibunya. Dari sanalah ia mulai bisa menjahit kecil-kecilan.
“Terlalu tua,” gumamnya lirih. “Memang enggak pantas untuk kudambakan.” Tangannya mengepal, meremas gamis itu hingga kusut.
Hari-hari berikutnya, Farida sering salah menuang garam, lupa mematikan kompor, dan beberapa kali terdiam lama sambil menatap kosong. Ia juga beres-beres rumah lebih pagi dan memasak lebih awal dari jam biasanya, tetapi di sela-sela kesibukannya itu, bayangan mesin jahit terus datang di pikirannya; suara berisiknya, kain yang bergerak di bawah jarum, serta potongan-potongan kain perca yang dulu ia kumpulkan diam-diam saat masih kecil.
Karena pikirannya sering terusik, Farida pun bermimpi saat usianya menginjak remaja. Dalam mimpinya itu ia duduk di lantai, dan menjahit kain perca. Tangannya sangat lincah dengan wajah berseri.
“Ambu ... lihatlah aku bisa bikin baju sendiri!” Farida pun terbangun dengan napas tersengal, seolah mimpi itu direnggut sebelum sempat ia genggam.
Paginya, ia duduk lama di depan kertas persyaratan kerja. Tangannya menggenggam erat, lalu perlahan meremasnya. Kertas itu hampir saja ia sobek. Namun, tiba-tiba tangannya berhenti. Ia mengingat kembali wajah remajanya saat dalam mimpi. Dengan napas panjang, ia merapikan kembali kertas tersebut.
“Kali ini aku ingin mencoba.”
Sejak hari itu, Farida mulai berubah. Ia bangun lebih pagi. Semua pekerjaan rumah selesai sebelum matahari tinggi. Setelah itu, Farida diam-diam belajar menjahit lagi. Tangannya masih kaku. Beberapa jahitan ada yang melenceng, tetapi ia tetap belajar dan tidak berhenti.
***
Saat menjelang sore, Kasta pulang lebih cepat. Ia melihat Farida duduk di ruang tamu, ditemani secangkir teh hangat di atas meja. Lalu ada jarum dan kain di tangannya. Benar-benar pemandangan yang berbeda dari biasanya.
“Bah,” suara Farida pelan, tetapi kali ini tidak goyah. “Aku sudah memutuskan mau menerima pekerjaan itu, Bah.”
Kasta yang masih berdiri menatap tajam ke arah istrinya dengan wajah memerah. “Masih berani membantah?”
Farida langsung mengangkat wajah. Kali ini, ia tidak menunduk. Punggungnya kini lebih tegak dari biasanya. “Abah juga punya ayam-ayam jago kesayangan,” katanya tenang. “Abah rawat, Abah jaga, karena itu bagian dari hidup Abah, kan?”
"Iya. Terus apa hubungannya dengan kamu kerja di konveksi?"
Farida berhenti sejenak. “Dan ini ... lihatlah!” Tangannya mengangkat kain di pangkuannya, “Ini bagian dari hidupku, Bah. Seperti Abah menjaga ayam-ayam itu, aku juga ingin menjaga jahitan ini.”
Kasta mendengkus. “Kalau maunya begitu, kamu memang istri pembangkang!”
Farida tersenyum kecil. Ia langsung mengambil jarum. Menusukkannya ke kain. Satu tusukan. Lalu satu lagi, sampai benang itu benar-benar menguatkan jahitannya.
“Kalau menjadi diriku sendiri dianggap membangkang ...." Suaranya lembut, “Biarlah.”
Karena selama ini Farida hidup seperti yang orang lain inginkan. Kali ini ia ingin tahu seperti apa hidup yang dipilih sendiri.
Jarum itu pun terus bergerak di tangan Farida. Untuk pertama kalinya, ia tidak menjahit untuk orang lain, melainkan untuk dirinya sendiri. Yang ia jahit kini bukan sekadar kain, melainkan hidup yang selama ini terlepas dari tangannya, satu tusukan pertama yang akhirnya ia pilih sendiri.
Kasta yang melihat perubahan istrinya hanya diam tidak bersuara. Di tengah keheningan itu, hanya terdengar suara ayam jantan yang berkokok panjang dari halaman belakang.
Cirebon, 05 Mei 2026

0 Komentar