KESAKSIAN YUYU KANGKANG; ANDE ANDE LUMUT TIDAK BENAR-BENAR MENCINTAI KLENTING KUNING - Puput Sekar

 

Cerpen Juara Harapan 3
Event Benang Bahasa Mythic Romance


KESAKSIAN YUYU KANGKANG; ANDE ANDE LUMUT TIDAK BENAR-BENAR MENCINTAI KLENTING KUNING


Apakah kalian percaya bahwa cinta seorang yang menguji itu juga sama tulusnya dengan pasangan yang ia uji?

Kukabarkan satu hal, tidaklah sama emas dan kuningan meski tampak sama warnanya. Tidaklah sama perunggu dengan tembaga meski sekilas tidak jauh berbeda, maka seperti itulah cinta mereka yang suka menguji pasangannya. Tidak sama.

Duduk, dan dengarkan ceritaku baik-baik hingga mata kalian lebih terbuka dan tidak lagi menuduhku si Yuyu Kangkang mesum yang suka menciumi gadis-gadis cantik.

Padahal jika seekor kepiting sepertiku jatuh cinta, kupastikan cintaku hanya untuk seorang puteri raja yang cantik dan kelembutan pekertinya tiada terkira, Dewi Sekartaji.

Tetapi kisah ini kututup rapat-rapat sampai hari ini terpaksa kututurkan kepada kalian wahai para penghuni Sungai Brantas. Karena kalianlah saksi bisu cintaku kepadanya selama ini, sebelum akhirnya aku harus menjadi kacung Panji Asmarabangun untuk menuntaskan keegoisannya.

Ketika itu, Jenggala diserang musuh. Semua wilayah porak-poranda. Detik-detik itu, munculah seorang kesatria bernama Panji Asmarabangun yang tampil heroik di medan pertempuran. Ia mampu menghalau musuh dengan hebatnya. Ia berhasil membekuk lawan dan menjadikan Jenggala menang perang.

Tetapi sayangnya, ia kehilangan kekasih hatinya. Pada saat itulah ia merasa kehilangan kehormatannya.

Karena seorang perempuan yang ia nikahi pergi menghilang entah ke mana. Panji Asmarabangun mencari Sekartaji ke pelosok negeri, tetapi tak jua ia temui.

Padahal aku tahu, Sekartaji tidak sedang ke mana-mana. Ia hanya ingin menepi. Jauh dari ingar-bingar istana dan kekuasaan. Mencuci di kali setiap hari. Sementara aku selalu mengawasi dari tepian Brantas.
 
Diam-diam kurahasiakan keberadaan Dewi Sekartaji. Sebab bagaimana bisa aku menunjukkan keberadaan wanita yang kucinta kepada pria yang menjadi sainganku? Meski akhirnya aku mengaku kalah, Panji Asmarabangun teramat sakti, hingga mampu mengetahui penyamaran Sekartaji menjadi seorang gadis desa bernama Klenting Kuning.

Tetapi Panji Asmarabangun rumit sekali, ia malah ikut-ikut menyamar menjadi sosok pemuda desa bernama Ande Ande Lumut. Ia menyebar sayembara mencari istri. Menjadikan aku sebagai alat penguji. Maka jadilah aku seekor kepiting mesum dalam cerita cintanya.

Sebenarnya tuanku itu tidak sedang menguji ketulusan. Ia hanya memperturutkan egonya. Apakah Sekartaji yang sekarang beralih nama menjadi Klenting Kuning masih benar-benar setia kepadanya atau telah terjamah oleh yang lain.

Sungguh ironi, seorang gadis sesuci Sekartaji dipertanyakan ketulusan cintanya oleh lelaki yang egois. Sementara aku yang dijadikan alat penguji. Lantas kalian katakan dalam banyak cerita bahwa aku si kepiting yang penuh muslihat.

Seandainya kalian tahu sangat mudah bagiku untuk melakukan apa saja yang kumau, selain mencium ketiga Klenting itu, Klenting Kuning pun tidaklah sulit kucium keningnya meski sekejap saja. Tetapi kutegaskan lagi bahwa cinta tidak harus dibuktikan dengan sentuhan. Cinta bahkan mampu bersembunyi di ruang hati yang paling dalam. Ia lindap, hingga tidak seorang pun tahu kepada siapa cinta akan dipersembahkan.

Ketika Klenting Merah, Hijau, Biru pasrah saja saat aku cium, maka sampailah kepada Klenting yang kucintai. Tentu saja aku hanya berpura-pura mesum di hadapannya sebagai bentuk menjalankan tugas dari tuanku Panji Asmarabangun.

Begitu juga dengan cambuk yang ia arahkan ke Sungai Brantas yang membuat airnya menyusut dan aku juga pura-pura takluk. Sebentar, aku tidaklah sama dengan para kepiting pada umumnya yang mudah kalian temukan di sungai dan sebagai mainan tuyul yang akan mencuri uang. Aku adalah kepiting jejadian dari tentara Jenggala dan menjadi abdi dari tuanku Panji Asmarabangun. Aku tidak takut hanya karena air sungai yang surut. Aku hanya pura-pura takut. Dengar, ya, pura-pura!

“Bawa aku kepada Ande Ande Lumut!” begitu kata Klenting Kuning.

Aku menurut bukan karena takluk, tapi karena aku cinta. Meski kurasakan seolah tubuhku dikuliti hidup-hidup ketika mengantarkan gadis yang setiap hari kuperhatikan secara diam-diam selama ini menuju kekasih hatinya.

Jika aku boleh bicara rasanya ingin kupaksa ia tetap di sini, bersamaku saja. Panji Asmarabangun tidak benar-benar mencintainya, ia hanya mencintai dirinya sendiri. Mencintai kesucian seorang gadis yang akan ia nikahi.

Berbeda denganku yang tidak butuh alasan apa-apa. Apakah dia tulus atau tidak, suci atau ternoda, aku tidak butuh semua pengujian remahan itu. Aku cinta karena cinta itu sendiri yang mekar di hatiku tanpa mampu kubendung.

Lalu kulihat tuanku Ande Ande Lumut tersenyum bangga didatangi oleh kekasih hati yang mencintainya. Ia tidak mencari Sekartaji, ia hanya menunggu dengan memberi umpan muslihat. Tetapi dunia bertepuk tangan melihat mereka yang akhirnya saling membuka penyamaran.

Ande Ande Lumut kembali menjadi Panji Asmarabangun, Klenting Kuning beralih kembali menjadi Klenting Kuning yang bersatu dan hidup bahagia selamanya. Konyol!

“Sudah hentikan ocehanmu!” celetuk burung bangau rekan kerjaku.

“Siapa pun yang melihat Sekartaji akan mudah jatuh cinta. Kau pikir aku tidak sakit hati ketika harus mengabarkan bahwa Ande Ande Lumut adalah jelmaan Panji Asmarabangun? Sementara aku harus gigit jari ketika melihat mereka bersama. Padahal awalnya aku mendoakan mereka terpisah selamanya!” lanjut burung bangau lagi.

“Jadi kau menyimpan cinta kepada Sekartaji?”tanyaku tidak percaya.

“Apa perlu kukatakan lebih jelas lagi?”

Aku tertegun. Kini sainganku bertambah satu lagi. Dunia selalu berpihak kepada kesatria. Bukan kepada kami makhluk-makhluk yang hanya bisa jadikan kacung.

“Tapi kalau kau mencintai Sekartaji, mengapa juga kau mau menciumi ketiga saudaranya, hah? Dasar mesum!”

“Berhenti mengatakan aku mesum! Aku hanya menjalankan perintah pada orang yang hidup matiku ada padanya!” Aku terpaksa membentak lebih keras kepada bangau sialan itu.

Ia lagi-lagi tidak percaya kalau aku hanya menjalankan tugas. Apakah besok-besok aku harus mengelak jika peranku ternyata tampak seperti antagonis?

Tetapi seandainya mereka tahu bahwa kelak ujian cinta tidak lagi sekadar kesetiaan semata, mereka pasti berpikir ulang saat jatuh cinta.

Meski kami bukan manusia, tetapi kami mengetahui banyak rahasia. Seperti sebuah rahasia bahwa di dalam pernikahan mereka, Klenting Merah tidak diam menyerah. Dia terus berupaya menggoda Asmarabangun untuk berpisah dengan Sekartaji. Kemudian, kalian tidak pernah tahu berapa banyak perempuan yang telah jatuh ke pelukan Panji Asmarabangun, termasuk Klenting Merah.

Aku tahu itu, Sekartaji pun mengetahuinya. Tetapi demi kehormatan ia memendam rasa sakitnya.

“Fitnah lagi!” cetus bangau.

“Diam! Ini bukan fitnah. Ini sebuah kebenaran. Kebenaran memang butuh waktu lama untuk membuktikannya.”

“Lalu apa yang akan kaulakukan?”

“Tentu saja berusaha menyelamatkan Sekartaji jika kebenaran itu terungkap dan menyakitkan untuknya.”
“Dengan cara apa, sementara kau hanya seekor kepiting!”

“Heh, sudah kukatakan aku bukan sembarang kepiting. Jika saatnya tiba, Sekartaji pasti akan kubawa pergi jauh dari Panji Asmarabangun. Kubuktikan bahwa cintaku lebih tulus dari kesatria yang mabuk peperangan itu!”

Sebab kebahagiaan Panji Asmarabangun dan Sekartaji hanya ada dalam dongeng-dongeng. Sebenarnya, aku jelas lebih mengetahui, tetapi sejarah akan selalu ditulis ulang oleh mereka yang menang perang.

“Ya, ya, ya. Silakan saja bicara sesuka hatimu. Bagaimana bisa aku memercayai binatang yang jalannya saja menyamping, tidak maju atau mundur!

Rasanya aku ingin mencapit leher bangau tengik itu! Kupandangi arus Sungai Brantas yang mengalir tenang. Airnya memantulkan langit senja yang memerah seperti lukaku yang belum juga sembuh.

Ini yang tidak kalah menyakitkan. Mereka selalu mentertawakan karena jalanku menyamping. Padahal manusia juga sering berjalan seperti itu—tidak benar-benar maju, tidak pula mundur, hanya berputar pada egonya sendiri.

Di istana Panji Asmarabangun, dunia akan terus memuji kisah cintanya dengan Dewi Sekartaji. Dongeng itu akan diceritakan turun-temurun kepada anak-anak sebelum mereka tidur.

Tidak akan ada yang mengingat seekor kepiting yang pernah mencintai sang puteri dalam diam. Cinta tidak selalu menuntut untuk dimiliki. Kadang-kadang ia hanya memilih tinggal diam di dasar sungai, bersama rahasia yang tidak pernah sempat diucapkan.

Lalu jika suatu hari nanti kebenaran benar-benar menelanjangi kebahagiaan yang kerap mereka banggakan itu, aku akan tetap berada di sini. Untuk membawamu bersamaku, Sekartaji. []


Catatan kaki: Berdasarkan kisah Ande Ande Lumut
Puput Sekar-Kalasan 2025.

Posting Komentar

0 Komentar