Cerpen Harapan 2
Event Benang Bahasa Kartini
AUTOPSI NURANI
Karya: Putra Mahardhika
Lampu di atas meja bedah ini bergumam. Apa kamu juga bisa mendengarnya? Dengung listrik yang konstan dan lirih, seumpama amarah yang tertahan.
Jangan takut. Ayo, mendekatlah sedikit.
Aroma formalin di ruangan ini memang menyengat, tapi setidaknya ia jujur. Aromanya tidak seperti parfum mahal di ruang dekan yang mencoba menyembunyikan bau busuk sebuah konspirasi.
Perkenalkan, namaku Mariana, seorang dokter spesialis forensik.
Malam ini aku sengaja menyuruh para asisten pulang lebih cepat. Mereka tidak boleh ikut menanggung risiko dari apa yang akan kutulis di lembar visum. Dan perempuan yang membujur kaku di hadapanku ini adalah Nurani.
Nama itu ironis, bukan?
Di kota yang sudah kehilangan nuraninya, ia justru singgah di sini setelah berstatus jenazah.
Nurani. Aku tidak pernah bertemu dengannya, apalagi mengenal pribadinya. Yang aku peroleh dari heteroanamnesis, dari penuturan ketiga anaknya didampingi penyidik saat kuajak bicara di ruang khusus tadi, ia tidak punya riwayat penyakit berat; ia ibu yang cukup sehat dan pekerja keras.
Coba cermati ujung kuku tangannya. Kamu lihat ada sisa tanah liat mengering di sana? Itu bukan kotoran biasa, itu bukti perjuangan.
Mungkin Nurani sempat mencakar tanah, berusaha mencari pegangan ketika keserakahan menyeretnya ke dalam kegelapan di lahan kosong belakang pabrik, seperti yang tertulis di laporan olah TKP.
Lalu coba raba telapak tangannya. Bertekstur kasar, kapalan tebal di pangkal jemari, tanda jasa dari ribuan helai pakaian yang ia ucek dan bilas setiap hari demi menyuapi mulut sekeluarga.
Kapalan itu selintas juga mengingatkan kepada tangan ibuku dulu, masa-masa beliau berjuang mati-matian untuk membiayai sekolah dan kuliahku di fakultas kedokteran.
Menatap Nurani yang kini hanya bisa terbaring membisu tanpa detak, dadaku sempat sesak. Rasanya seperti melihat kepingan masa laluku tengah diinjak-injak.
Di jari manisnya, aku menemukan lingkaran kulit lebih terang, bekas cincin yang tak tersemat lagi. Entah siapa yang telah merampasnya, atau mungkin ia sendiri yang merelakannya di toko emas demi kelangsungan pendidikan anak-anaknya.
Kulitnya cokelat kemerahan, begitu matang oleh terik matahari.
Telapak kakinya lebar, khas seseorang yang lebih sering berjalan atau berdiri lama tanpa alas kaki layak.
Namun, tahukah kamu apa yang paling menyakitkan? Pihak berwajib bilang ia mati karena kecelakaan kerja. Konon, jatuh dari tangga.
Sekarang, mari kita gunakan mataku; mari kita gunakan pisauku.
Perhatikan, aku membuat sayatan pertama. Bisakah telingamu menangkap bunyi gesekan scalpel ini pada kulitnya? Mirip bunyi kertas usang yang disobek, bukan?
Pisauku memisahkan jaringan subkutan, lapisan lemak yang tipis, salah satu isyarat seseorang lebih akrab dengan kelaparan daripada kemewahan. Prosedur ini disebut eviscerasi. Membuka tabir daging untuk melihat sedalam apa manusia bisa saling menghancurkan.
Di bawah lampu ini aku tidak melihat seorang buruh cuci yang malang. Yang tampak adalah sebuah peta ketidakadilan, dicetak samar pada daging dan tulang.
Amatilah memar di bahunya. Warnanya ungu kehitaman, berbentuk lonjong sempurna. Jika Nurani benar jatuh dari tangga, memar itu akan tidak beraturan, mungkin disertai luka lecet kasar. Sedangkan ini? Ini adalah kerusakan akibat desakan statis yang luar biasa kuat. Aku membacanya sebagai bekas tekanan lutut seseorang dengan bobot sangat berat. Seseorang ingin ia tetap rebah di lantai, mengunci pergerakannya, sementara tangan-tangan lain aktif membungkamnya.
Hei, kenapa kamu diam saja?
Apa kamu mual?
Atau kamu mulai merasa bersalah sebab selama ini kamu menganggap pemberitaan orang-orang semacam Nurani itu cuma gimmick dari jurnalis haus atensi?
Tanganku sedikit tremor saat menyentuh tulang rusuknya. Bukan gara-gara minum kopi sewaktu perut kosong, bukan pula takut mayat ini nanti bangun sendiri. Aku teringat kepada bayangan pria yang mendatangiku tadi pagi.
Pria itu mengenakan setelan jas, mungkin seharga gajiku setahun. Ia tersenyum agak lebar, tapi binar di matanya terasa dingin.
"Dokter Mariana, Nurani ini hanya orang kecil. Jangan buat masalah kecil menjadi besar. Pikirkan karier Anda."
Ancamannya sungguh nyata; semalam kaca mobilku dihancurkan; pagi ini akses rekening bankku mendadak bermasalah.
Mereka menyebutku pembangkang. Mereka juga menuduhku tidak "kooperatif".
Di sisi lain, setiap kali kegelisahan itu menyelip, aku melihat kembali jasad di depanku ini. Jika sampai menuruti mereka, aku bukan lagi seorang dokter, melainkan kaki tangan kezaliman yang ikut menginjak bahu Nurani.
Oke, kita lanjutkan saja proses ini.
Perhatikan baik-baik sewaktu gergaji tulang ini bekerja. Raungannya kasar, tapi kebenaran memang jarang terdengar merdu, bukan?
Seseorang telah menutup jalan napas Nurani dengan paksa, memadamkan lampunya sebelum tiba waktunya.
Paru-paru Nurani tidak bisa berbohong, permukaannya dipenuhi bintik-bintik merah kecil bernama petechiae, bukti kapiler yang pecah lantaran asfiksia.
Turun sedikit ke bawah dan kamu akan melihat jantungnya ikut bersaksi. Tidak ada jejak sumbatan kronis. Jantung ini sehat hingga sepasang tangan menghentikannya. Sisi kanan membengkak besar, penuh oleh darah pekat yang terjebak, wujud dari sebuah dada yang sesak oleh ketidakadilan.
Oh, tidak. Kamu sudah mau pergi?
Jangan pergi dulu! Aku masih ingin kamu menemaniku memeriksa bagian lehernya. Ini bagian yang paling mereka takuti.
Tampak jejak jeratan tipis. Sangat halus. Nyaris tak terlihat andai aku tidak membersihkan sisa darahnya dengan teliti.
Ini bukan jeratan tali seperti pada kasus gantung diri. Ini 'tapak tilas' dari ligatur yang datar dan melingkar penuh, mirip sekali kabel pengisi daya ponsel.
Bayangkan, alat yang kamu gunakan setiap hari untuk berkomunikasi, digunakan untuk membungkam suara anggota keluargamu. Selamanya.
Bukankah semua ini terlalu gamblang? Pekerjaan yang sungguh 'amatir' bila niat mereka memang ingin menyingkirkan saksi. Seolah-olah pelaku dan majikannya begitu yakin hukum di Zamrud Khatulistiwa ibarat macan tua ompong: kalaupun mereka tertangkap, tidak bakalan bisa dikunyah dan ujung-ujungnya dilepaskan lagi.
Hei, kenapa kamu menggigit bibir? Apa yang membuatmu cemas? Atau siapa?
Ya, ya, ya. Biar kutebak jalan pikiranmu.
Aku bisa saja memilih untuk abai, menjahitnya kembali, kemudian menuliskan 'perdarahan hebat akibat trauma benda tumpul di kepala' sesuai pesanan mereka yang ingin kepergian Nurani dianggap sebagai kecelakaan kerja biasa, dan semudah itu menerima promosi jabatan yang dijanjikan.
Aku bisa saja membeli rumah yang lebih besar, mobil yang lebih bagus, dan tidur nyenyak—mungkin dibantu obat tidur.
Namun, bagaimana dengan Nurani? Siapa yang akan menceritakan kisahnya?
Berani kujamin, di luar sana mobil hitam masih menungguku.
Mereka menginginkan laporan yang "rapi", sedangkan mauku adalah memberikan laporan jujur yang "berantakan". Aku akan menuliskan setiap detail kekerasan ini. Aku akan mengambil sampel di bawah kuku Nurani, menyegelnya untuk uji DNA di laboratorium, lantas memastikan rantai barang bukti ini tidak dirusak oleh siapa pun, termasuk si paling berkuasa di kota ini.
Kamu pikir aku pahlawan? Bukan. Aku hanya sebutir pasir dari sahara yang teramat lelah, dipaksa menganggap kegelapan sebagai hal biasa.
Jiwa Kartini yang mereka agung-agungkan dalam pidato setiap April ... menurutmu ada di mana? Bersemayam di balik kebaya-kebaya mewah yang berkerumun dalam perhelatan demi entah? Atau laksana burung berparas cantik yang bersarang di sanggul berat?
Nganga di dada Nurani aku jahit kembali. Satu jahitan untuk keberaniannya; dua jahitan untuk air matanya; tiga jahitan untuk keadilan yang harganya sangat mahal.
Lampu di atas kita masih berdengung. Pria misterius di luar mungkin mulai dititah untuk bersiap meniup lilin kehidupanku. Tapi ingat ini: meski nanti ruangan dibuat gelap total, aku sudah hafal setiap inci dari luka Nurani. Aku sanggup mengingat detailnya, lalu menuliskannya di kertas, bahkan dengan mata tertutup.
Sebagai epilog sekaligus hadiah perpisahan, aku akan menyerahkan bingkisan pertanyaan. Ya, untukmu yang sedang membaca ini.
Jika sebentar lagi aku keluar dari pintu itu dan mereka menyergapku, apa yang kiranya kamu lakukan?
Apa kamu akan menutup halaman ini dan mencari hiburan lain?
Atau kamu akan ikut menceritakan tentang Nurani kepada dunia?
Lumpur ini memang dalam, kawan. Sungguh dalam dan sangat ... kotor. Setidaknya, di bawah lampu bedah yang bergumam ini, aku tidak membiarkan Nurani tenggelam sendirian.
Aku mematikan lampu sekarang.
Klik.
Gelap, bukan? Tapi jangan takut. Kegelapan ini hanya sementara jika ada satu orang saja yang berani menyalakan korek api.
Kamu saksinya bahwa aku sudah menyalakan milikku. Bagaimana denganmu?
- Selesai -

0 Komentar