CANTING IBU YANG MELUKIS BAPAK - Layla Nusayba



Cerpen Pilihan
Event Benang Bahasa Kartini

CANTING IBU YANG MELUKIS BAPAK

Udara di rumah kami kadang diselimuti ketegangan. Ia menggantung di antara asap rokok kelobot Bapak dan uap malam yang dipanaskan Ibu di ruang tengah. Aku sering duduk di antaranya, mengamati Bapak yang kaku dengan tradisi dan Ibu yang menolak kekangan dengan caranya yang hening.

Bapak baru saja mengunyah daging rawon buatan Ibu yang memang tak ada duanya; empuk dengan kuah kehitaman dan rempah yang meresap hingga ke serat terdalam. Namun, ketenangan makan siang itu pecah saat aku melontarkan pertanyaan yang sudah lama mengendap di kepalaku tentang siapa orang yang paling ia benci sekaligus ia cintai.

Bapak berhenti mengunyah. Ia menelan pelan sisa makanan yang masih di mulutnya, lalu menatapku. “Ibumu!” Ia menjawab datar. Liurnya sedikit menyembur ke meja kayu jati kami. “Perempuan itu keras kepala. Tapi kalau ia tidak ada, rumah ini jadi sepi.”

Ibu, yang hendak menaruh piring bekas makannya ke dapur, membalas dengan dengusan dan lirikan tajam. “Bicara itu jangan seenak jidat, Pak. Di depan anak sendiri kok bicaranya kasar begitu.” 

Bapak tidak menyahut. Ia justru beralih menatap ke arah jendela. Di luar sana, di bawah naungan pohon trembesi di halaman, pemandangan yang paling Bapak benci sedang berlangsung. Sekitar sepuluh gadis belasan tahun duduk menekur di depan gawangan. Aroma malam dari wajan kecil yang dipanaskan merayap masuk ke ruang makan kami melalui jendela yang terbuka.

“Lihat, tuh.” Bapak menunjuk dengan dagunya yang mulai ditumbuhi jenggot kasar putih. “Rumah ini sudah seperti barak pengungsian. Saban hari penuh gadis-gadis ingusan. Harusnya mereka belajar di dapur, bukan sibuk menggoreskan malam ke kain begitu.”

Aku melirik Ibu. Ia meletakkan piringnya di meja, lalu duduk kembali dengan punggung tegak. “Mereka bukan sekadar menggoreskan malam ke kain, Pak. Mereka sedang belajar punya penghasilan sendiri,” ujar Ibu tenang. Suaranya rendah, tapi mengandung kekuatan yang membuat Bapak tidak segera menanggapi.

Bapak menyalakan rokok kelobotnya, mengisapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan. Ia masih berpegang pada keyakinan lamanya bahwa nasib perempuan memang berakhir di dapur. Bila ada lelaki yang datang melamar, tugas orang tua selesai. Menurutnya, menikahkan anak perempuan tak ubahnya seperti melepas beban yang sudah lama dipanggul.

Ibu menunggu sejenak, membiarkan asap rokok itu mengambang di udara. Baru kemudian ia berkata bahwa di situlah letak persoalannya: cara Bapak memandang anak perempuan sebagai beban yang bisa dipindahkan begitu saja. Ia tidak ingin gadis-gadis itu tumbuh hanya untuk berkutat di dapur dan membuka paha di ranjang.

Malam harinya, saat Bapak sudah terlelap di kamar, aku menemui Ibu di ruang tengah. Ia masih terjaga, memperbaiki pola parang pada kain mori yang rencananya akan dikirim ke kota.

“Kenapa Ibu begitu gigih membela gadis-gadis itu?” tanyaku sambil duduk di lantai, dekat kakinya.

Ibu menghentikan gerakan cantingnya. Ia menatapku lama dan dalam, seolah-olah tengah membaca lembaran-lembaran masa lalunya di mataku. “Ibu menikah karena dijodohkan, Cah Bagus. Ibu beruntung karena bapakmu masih punya hati, meski kolot.” 

Ia lalu bercerita tentang penghuni rumah berdinding gedek di seberang rumah kami. Seorang perempuan muda di sana hampir selalu terlihat menggendong bayinya yang tak henti menangis. Wajahnya pucat kelelahan; tubuhnya yang tak terurus diayun ke kanan dan ke kiri. Sementara di dekatnya, suaminya yang jauh lebih tua duduk santai di atas lincak, menghisap rokok dan menyesap kopi.

Sesekali, kata Ibu, perempuan itu berdiri sebentar di dekat halaman kami, menyaksikan teman-teman sebayanya sibuk dengan canting di tangan. 

“Bukan cuma ia,” lanjut Ibu pelan sambil membuang pandangan ke arah lain, sebelum kemudian menghela napas. “Banyak perempuan muda yang putus sekolah, hidupnya berakhir seperti itu. Hidup mereka habis untuk tunduk pada lelaki.” 

Ibu mengajari gadis-gadis di halaman bukan hanya cara mencanting, tapi juga cara menghitung dan membaca. Ia menunjukkan pada mereka berapa harga selembar batik bisa dihargai, berapa yang bisa disisihkan, dan bagaimana uang itu cukup untuk menyambung hidup.

Bapak sebenarnya tidak benar-benar bisa menahan kemauan Ibu. Meski enggan berinteraksi dengan gadis-gadis di halaman, ia tetap memastikan kebutuhan mereka selama membatik terpenuhi. Aku tahu, Bapaklah pemimpin secara hukum di rumah ini, tapi Ibulah yang diam-diam memegang kendali.

Suatu hari seorang perempuan paruh baya datang dengan wajah kuyu. Ia ingin menjemput anaknya, salah satu gadis pembatik Ibu. Kabarnya, seorang duda kaya dari desa sebelah sudah melamar dengan mahar berupa seekor sapi. 

Ibu sudah berdiri di ambang pintu ketika perempuan itu hendak kupersilakan masuk. Tamu itu tertunduk, suaranya terbata-bata saat menyampaikan maksudnya. Ibu lalu memanggil gadis pembatik itu.

Si gadis menghampiri dengan jemari yang masih belepotan malam. Langkahnya ragu-ragu. Aku teringat, sehari sebelumnya, ia menangis di depan Ibu sambil bersimpuh, menolak dinikahkan dengan duda yang hampir seumuran bapaknya.

“A-aku ndak mau dikawinkan sama lelaki itu, Bu.” Gadis itu terisak di depan ibunya.

“Tapi bapakmu sudah setuju, Nduk,” jawab ibunya pasrah. Suaranya serak, seperti dipaksa keluar dari kerongkongan.

Ibu mengerutkan kening. Barangkali baginya, pemandangan itu adalah luka lama yang kembali berdenyut di dadanya.

“Biarkan ia di sini. Biarkan ia belajar membatik dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Jika urusannya uang, aku bisa membantumu,” ujar Ibu. Ia meraih tangan perempuan itu, lalu menyelipkan beberapa lembar uang yang diambilnya dari lipatan kain kebaya.

Aku menahan napas. Di tempat kami, menentang perjodohan adalah dosa sosial yang lebih berat daripada pencurian. 

“Jangan, Ndoro. Ndak perlu.” Perempuan itu gemetar, mencoba mengembalikan uang pemberian Ibu.

“Ambil saja,” kata Ibu tegas.

Ketegangan itu memuncak ketika Bapak tiba-tiba muncul di halaman, entah dari mana. Ia menghampiri kami dengan langkah berwibawa, membuat udara di teras mendadak terasa menipis. Aku sempat panik, takut amarahnya akan meledak. Namun begitu melihatnya, perempuan itu justru ketakutan dan segera pamit, meninggalkan anaknya begitu saja. Gadis itu pun kembali ke depan gawangan.

Bapak menatap Ibu dengan sorot mata yang sulit diartikan, lalu menggeleng pelan. “Bu, jangan terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang.”

“Tugas orang tua itu melindungi anaknya, Pak. Bukan malah menjualnya demi seekor sapi,” jawab Ibu tanpa menoleh. Pandangannya tetap lurus ke arah matahari yang mulai tergelincir di balik pepohonan.

Bapak ternganga. Mulutnya seperti hendak berkata sesuatu, tapi urung. Melihat gadis-gadis di halaman tetap tekun menggoreskan malam pada kain, ia hanya mendengus pelan. Wajahnya yang semula mengeras perlahan mengendur.

Keesokan paginya, perempuan itu datang lagi dengan suaminya. Lelaki yang seumuran Bapak itu menyapu halaman kami dengan tatapan tajam. Di belakang mereka, anaknya mengikuti dengan wajah masam. Jemarinya memainkan sebatang ranting kering.

Aku yang sedang duduk di teras bersama Bapak langsung bangkit, khawatir lelaki itu akan melakukan sesuatu yang menyakiti Ibu. Namun, Bapak menahan langkahku. Ia membiarkan Ibu, yang saat itu tengah mengobrol dengan salah satu gadis di halaman, menghampiri mereka sendirian.

Sambil menyesap teh melatinya, Bapak memperhatikan mereka dari kejauhan. Si perempuan menarik-narik lengan suaminya yang sedang berbicara dengan Ibu dengan mata melotot. Pasangan itu sempat membelalak sambil menoleh ke arah Bapak, lalu mengangguk-angguk kecil dan tertunduk. Aku menduga Ibu memakai nama keluarga Bapak yang terpandang untuk menekan mereka hingga akhirnya pasangan itu memilih berbalik dan pergi. Anak mereka, sekali lagi, kembali duduk di depan gawangan.

Aku melirik Bapak. Ia hanya tersenyum tipis.

Tak butuh waktu lama hingga kasak-kusuk tentang penolakan Ibu terhadap perjodohan itu sampai ke telingaku. Aku mendengarnya tanpa sengaja saat mengantar pesanan kain batik milik salah satu langganan Ibu.

Ketika malam merangkak makin turun dan rumah menjadi sunyi, Bapak duduk di ruang tamu, memperhatikan kain-kain batik yang digantung Ibu pada seutas tambang. Ada gurat bangga yang sempat singgah di wajahnya, sebelum kembali datar saat aku membawakannya secangkir kopi.

“Ibumu itu memang gila. Ia tak gentar meski banyak warga menggunjingnya,” gumam Bapak. “Tapi kalau semua perempuan di kampung ini seperti dirinya, mungkin tidak ada lagi lelaki yang memandang rendah.”

Aku tidak menjawab. Di balik keluh kesahnya, Bapak seperti sedang menyaksikan sesuatu yang perlahan mengubah rumah ini.

Dan aku diam-diam menyukai pemandangan itu, saat Ibu berdiri di tengah kerumunan gadis yang sedang membatik di halaman, dengan kebaya yang rapi dan wibawa priayi yang tak bisa disangkal. 


Solo, 05 Mei 2026

Posting Komentar

0 Komentar