Kau menatap pohon-pohon karet yang meranggas, kemarau telah merontokkan daun-daun dan membikinnya bertumpuk-tumpuk di tanah yang kerontang. Kau tahu, seharusnya kau pulang dan membiarkan pohon-pohon itu istirahat, tetapi kau pun tahu, perut anak-anakmu tak dapat tidak merasa lapar. Meski hatimu tercubit, pisau di tangan yang selalu kau asah saban Subuh menggores satu demi satu pohon yang meradang.
Getah putih menyembul perlahan-lahan, serupa kaca di matamu yang retak-retak dan menggenang. Kau pandangi getah yang enggan mengalir, berharap cairan putih itu sederas air matamu tiap-tiap malam. Tetapi kemarau telah mengeringkan segala. Sesak dadamu menyadari betapa pohon pun mesti diperas bahkan ketika ia sendiri kekurangan.
Matahari menyorot garang sebab tunas-tunas daun karet tak cukup menjadi peneduhmu. Awan berarak, bergerak lambat seperti kerbau sehabis makan. Kau tatap langit yang biru, memantullah sinar kuning pada wajahmu, pada biru pudar di tulang pipimu, pada ungu gelap di tulang punggungmu yang menonjol nyaris merobek kulitmu yang kering, pada dadamu yang tak pernah utuh sejak tujuh belas tahun silam, yang padanya menganga lubang sebesar kepalamu, yang kian masa kian meleleh pula ia tergerus kesakitan yang kau tahankan seorang diri.
Kemarin malam, rumahmu yang suram disinggahi tamu yang tak ingin kau jumpai. Ayah dan anak itu duduk di ruang depan rumahmu yang sempit sehingga kau merasa begitu sesak. Di atas tikar itu, kau hidangkan teh manis dalam gelas kaca yang mesti cepat-cepat dicuci sebab debu menempelinya saking lamanya gelas-gelas itu mendekam dalam laci lemari.
Mereka bilang, hendak melamar putrimu yang seminggu lalu merayakan kelulusan. Perih hatimu, membayangkan putrimu yang manis dan cerdas mesti menikah padahal seharusnya ia kau kirim jauh ke perantauan, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan meraih impiannya.
Sementara itu, suamimu tertawa-tawa, berbahagia ia menyambut jabat tangan tamu kalian.
"Aku tak setuju," katamu selepas tamu itu pergi meninggalkan sekotak rokok yang cepat-cepat disulut suamimu sebatang.
"Apalagi yang kurang? Saima sudah lulus sekolah, sudah sepantasnya menikah," jawab suamimu angkuh. Seolah-olah ia-lah yang telah bersusah payah melahirkan dan membesarkan putrimu itu.
Kau tatap dinding rumahmu, piagam-piagam bergantungan di sana. Amat cantik, seperti mimpi-mimpimu dahulu sekali. "Aku ingin Saima melanjutkan sekolah–"
Suamimu tergelak-gelak, asap putih tipis berhamburan dari mulutnya, cepat-cepat meninggalkan bibir hitam yang lebih sering mengumpat ketimbang berdoa itu.
"Seolah hartamu teramat banyak." Ia mengejek.
Sejak dahulu, Engkau membenci suamimu sedemikian sangat, menganggapnya tak lebih dari seekor binatang yang ironisnya harus kau nikahi tersebab tuntutan yang tak membiarkanmu menyuarakan penolakan.
Bertahun-tahun sudah kau tahankan rumah tangga yang timpang, selama itu pula kau jijik terjadap dirimu sendiri sebab mesti rela ia ditiduri di ranjang. Laki-laki yang wajahnya menakutkanmu bertahun lamanya sebelum kau menjadi begitu muak.
Meskipun suamimu tak pernah melayangkan tangan barang sekali, ketakutan dalam dirimu tak pernah lenyap meski sekejap. Kau selalu memalingkan muka, menatap apa saja selain wajah suamimu, sebisamu.
Kau telan apa-apa yang ia katakan dan menyimpannya dalam perut sehingga tak perlu kau meladeni serapahnya, sebab ia begitu lihai membuatmu bungkam. Selalu. Tetapi, kali ini, tersebab ini adalah perihal masa depan putrimu, maka kau berdiri di hadapannya. Kakimu gemetar, serupa suara yang keluar dari tenggorokanmu. Kau tentang keputusan sepihak yang tak kau setujui itu, dan kau yakin putrimu pun bakal menolak.
"Saima tak akan menjadi sepertiku," katamu sembari menantang sorot matanya, yang tak pernah kau lakukan sebelumnya.
Murka suamimu membuatmu terdorong berkali-kali. Tetapi kau tak hendak menyerah. Keterkejutan atas pembangkanganmu jelas memantik bara di matanya, yang hampir-hampir menyiutkan nyalimu. Namun, kau pertahankan egomu, kau keraskan suaramu, kau singgung harga dirinya yang teramat tinggi. Sampai kau dengar tangis anak-anakmu dalam bilik, juga isak putrimu yang menyayat dadamu sedemikian rupa. Barulah engkau tersungkur, diam, menjadi pihak yang mengalah sekali lagi setelah sekian kali.
Malam itu, amat terkejut engaku sebab keberanian mulutmu membantah telah membuatmu mendapat satu tamparan, dua lebam di punggung, dan suatu kesadaran betapa tubuhmu yang kecil teramat lemah. Kau tak berdaya membela anak-anakmu dengan sedikit tenaga yang kau punyai, yang tiap-tiap hari habis untuk menyadap getah karet, juga menggendong rumah dan seisinya.
Angin kemarau bertiup menghantarkan panas yang merasuk ke tulang-tulangmu. Kau terhenyak sebab telah terlampau lama berdiri di hadapan sebatang karet yang meringis. Setetes getah akhirnya jatuh, lalu pecah di atas tempurung. Kau mengusap wajahmu, mendongak, mengedip-ngedip, berharap air yang jatuh dan pecah ke tanah cukuplah sudah sebagai penghabisan air mata.
Pagi itu, kau duduk di kebun yang tak mau dikerjakan suamimu itu, matamu menatap sungai yang mengalir malas. Kau selalu ingin menyeberanginya, memasuki dunia baru dan meninggalkan desa yang menjerat kedua kakimu. Tujuh belas tahun telah berlalu, kau masih takut pada orang-orang desa, kau takut menziarahi makam ibu bapakmu yang tak membelamu dahulu, kau takut pada tetua yang menikahkanmu, kau takut pada tokoh adat yang mengharuskanmu menikah sementara lukamu belum mengering, kesakitan dan rasa malu masih menghunjammu tiap-tiap saat, dan ketakutanmu diabaikan demi–kata mereka–menutup malu keluargamu.
Seringkali kau berpikir, dan meskipun kau tak pernah tahu jawabannya; siapa sesungguhnya yang membikin malu? Siapa yang tak dapat menjaga diri?
Kau menggigil, kedua tanganmu menyentuh lehermu yang kurus. Kau megap-megap, soalan-olah tangan kekar itu mencekikmu kembali.
Ketika napasmu yang putus-putus hampir habis dan kau jatuh di atas daun-daun, tahulah engkau bahwa sesungguhnya kau tidak pernah sembuh. Pengabaianmu menjadikanmu muak akan suamimu, tetapi kenangan pahit itu tetap bersarang di kepalamu, di dadamu yang menganga, dan di kedua tanganmu.
Saat itulah kau sadar, putrimu harus kau kirim jauh-jauh.
***
Petang menyingsing dan terahim menggema samar-samar dari musola. Api merah jingga berkobar-kobar menjilati periuk hitam di atas tungku. Asap meliuk-liuk, bergumul menyentuh atap sebelum merengsek keluar dari celah-celah yang terbuka.
Putrimu duduk di sampingmu, mencacah sayur dengan muka semasam kulit jeruk yang mengerut kering. Kedatangan tamu itu tentulah jadi penyebab kemurungannya, kau tahu itu.
"Kau mau berkuliah, Saima?" tanyamu selagi kau mengaduk nasi yang mendidih. Kau tatap buih yang muncul dan pecah bergantian, harap-harap cemas kau menanti jawaban Saima. Tetapi, sebab gadis itu tak juga menjawab, kau palingkan muka padanya. Katamu, "Kau bisa berkuliah, tetapi kau mungkin tak dapat kembali ke desa ini."
Barulah Saima mengangkat muka, matanya yang kecil rupa-rupanya telah digenangi air mata yang luruh ketika kau ulurkan cincin nikahmu. Cincin yang satu bagiannya telah kau lilitkan dengan benang agar tak jatuh dari jarimu yang kian kurus. Cincin yang diharamkan suamimu lepas dari jarimu sebab itu adalah pertanda kau telah diperistri olehnya.
"Tapi kau mungkin akan kesusahan. Tahan-tahankanlah, Saima. Ibuk mungkin tak selalu dapat mengirimimu uang."
Pecahlah tangis gadis itu, tersungkur ia di pangkuanmu.
Kau telah kukuh mengambil risiko. Sebab bagaimana pun, putrimu harus meraih impiannya, menyambung mimpimu yang patah dan membusuk. Saima tak akan mengulang kehidupanmu yang nelangsa, ikrar itu menguatkan niatmu. Lalu, kau belai kepala gadis itu lembut.
"Saima," katamu, "jika nanti kau telah berhasil dalam pendidikan, maukah kau menjadi pembela bagi perempuan-perempuan yang tak punya suara atas hidup ... bahkan tubuhnya sendiri? Ini adalah permintaan gadis yang mati tujuh belas tahun lalu, Nak."
Saima mendongak, matanya yang berair menangkap kaca yang bergurat-gurat di matamu. "Mati? Siapa, Mak?"
Kau tersenyum, bangkit dan menutup periuk, lalu mengeluarkan beberapa potong kayu yang membara dari tungku. Di luar terahim telah berganti azan. Suara-suara motor terdengar dari jalan di depan, bising ayam yang berkokok-kokok bergantian dengan anjing yang berkaling-kaling.
"Mak...?"
"Kemas apa-apa yang akan kau bawa. Ini kesempatan kita satu-satunya. Pergilah, lekas." Kau dorong tubuh putrimu tanpa membiarkannya berkata lagi.
Suamimu terlampau sibuk dengan togel dan tuak dalam botol-botol plastik di warung ujung desa. Kau melihat motornya terparkir di sana selepas pulang dari kebun karet, dan kau tahu, ia tak akan pulang sampai besok pagi, sebagaimana kebiasaannya.
Di depan pintu, kau menatap langit merah yang menaungi punggung bukit yang hijau. Kedua anak lelakimu yang kecil-kecil bergantian mencium tanganmu, sebelum berlarian ke jalan dan bergabung dengan kawan-kawan yang hendak mengaji.
Dadamu berdebar kencang-kencang. Malam itu kau tak bisa tidur, takut suamimu tiba-tiba pulang dan gagallah rencanamu. Putrimu mungkin akan diikat jikalah ketahuan hendak meninggalkan desa dan pernikahan yang diangan-angankan. Dan kau, sungguh tak dapat kau bayangkkan apa yang dapat ia perbuat, setelah ia begitu berani melayangkan tangan atasmu.
Sebab itu, kau jaga matamu agar tetap terbuka. Supaya kau tidak jatuh terlelap, meski sekejap.
***
Dalam gelap dan dingin yang menggigilkan kau dan putrimu menyeberangi sungai yang dangkal tetapi cukup deras, batu-batu telah menjadi amat licin sehingga jatuh kalian sekali dua. Kau tak cukup nyali melintasi jembatan sebab was-was dilihat orang, pun tak berani membawa penerangan. Sehingga kalian harus melalui jalan yang lebih sukar.
Sampai di seberang sungai, kau tatap lekat-lekat wajah putrimu. "Pergilah, Saima. Maapkan ibuk yang membebanimu dengan tinggi pengharapan."
Saima mengangguk samar. "Doakanlah aku selalu, Buk."
"Jika suatu saat nanti kau ingin melayat pada gadis yang telah mati itu, maka, putriku, ziarahi ia di depan tungku dapur pada waktu Subuh, atau di kebun-kebun karet. Ia di sana, selalu di sana."
Saima terkesiap, lama sekali dipandanginya matamu yang basah, lalu menghambur ia memeluk tubuhmu erat-erat, diciuminya tanganmu berkali-kali, dihirupnya aroma tubuhmu, hendak menyimpan sebanyak-banyaknya tentang dirimu di dalam kepalanya.
Dini hari yang gelap itu, kau berdiri di sana, menatap punggung putrimu yang menghilang di tikungan jalan setapak. Sementara desir aliran sungai dan suara-suara hewan menyamarkan tangismu dan Saima.
Angin beku menampar wajahmu dan sadarlah bahwa engkau harus cepat-cepat kembali. Tetapi, kau malah termangu di hadapan aliran sungai. Kau telah menitipkan impianmu pada pundak Saima dan tertutuplah sedikit lubang di dadamu.
Hidup telah memberimu kepahitan sepanjang kau berumah tangga. Sungai yang berbatu-batu mungkin dapat menghanyutkan ragamu, juga segala sakit dan deritamu. Pikiran itu mengguncang hatimu. Lalu, wajah-wajah putramu menyadarkanmu. Mata polos mereka, hati mereka yang suci, yang belum ternoda kedengkian dunia. Kau tidak akan meninggalkan keduanya dalam dekap suamimu itu. Sebab itu pula, di hadapan sungai yang menderu lirih, kau tanggalkan dirimu yang mati. Kau tak akan menjadi perempuan yang berpasrah, seperti waktu yang sudah-sudah.
Kakimu yang telanjang sekali lagi menyeberangi sungai. Kembali ke rumah di mana putra-putramu tidur lelap dalam mimpi, kembali pada lelaki pemerkosamu, kembali pada desa yang mengutukmu.
Akan tetapi, kau rasakan langkahmu kini lebih ringan, dan kau tahu itu bukan tersebab sendalmu yang telah hanyut dibawa arus.
Padang Lawas, 05 Mei 2026

0 Komentar