PEREMPUAN YANG MELUDAHI BADAI - Hanni Kanita

 




PEREMPUAN YANG MELUDAHI BADAI
Karya: Hanni Kanita


Percikan darah tongkol menyentuh ujung sepatu bot karetku, berbaur dengan uap amis yang menguar dari sela papan-papan Pelabuhan Tanjung Luar. Angin malam bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa bau karat lunas kapal yang bercampur pekatnya tumpahan solar. Di bawah temaram lampu pelabuhan, aku memutar baut karburator menggunakan kunci pas nomor dua belas. Deriknya terdengar nyaring memecah sepi. Kubiarkan pelumas hitam menyusup ke bawah kuku, otot lenganku menegang mengencangkan ikatan logam terakhir.


Tiba-tiba, sepasang sepatu bot mendarat keras pada papan kayu di dekatku. Suara dahak ditarik paksa dari tenggorokan, disusul ludah kental yang mendarat tepat lima sentimeter dari tempatku berjongkok. Binsan menyeka mulut dengan punggung lengan, menatapku dengan mata memicing. Di belakangnya, Haji Unir berdiri dengan kopiah putih yang miring dan sarung Wadimor tersampir asal.


“Berapa kali bapakmu akan dikutuk di alam kubur sana, melihat anak perempuannya keras kepala begini?” Haji Unir membuka suara. Nadanya serak, mengembuskan bau kopi hitam pekat. “Laut itu menelan nyawa, Kartika. Nelayan bernapas panjang pun tak ada yang berani turun. Malam ini akan ada badai, jangan kau sok berani menantang alam.”


Kunci pas kulempar ke dalam kotak perkakas baja hingga berdenting nyaring beradu dengan kunci inggris. Tanganku meraup kain majun kotor, menyeka sisa pelumas berserat tebal dengan tenang. “Ikan tak pernah menanyakan jenis kelamin pemburunya, Tuan Haji,” balasku datar.


Binsan tertawa meremehkan. Suaranya menyayat pendengaran menyerupai seng bergesekan. “Perempuan malah mengangkang di depan kemudi! Rahimmu bisa rontok dihantam ombak Selat Alas. Pulang sana. Rebus air, panaskan sayur lodeh.”


Aku hanya menatapnya dingin. Binsan dan para lelaki pesisir ini selalu mereduksi eksistensiku menjadi sekadar urusan kasur dan sumur. Mereka pikir nyaliku ciut hanya karena dogma busuk mereka. Tanganku yang berlumur oli ini tahu persis kapan mesin siap membelah ombak, dan nyaliku justru menebal dari vonis-vonis merendahkan itu.


Kain majun kulempar ke sudut geladak. Tangan kananku merenggut tuas starter mesin Yanmar. Tarikan pertama meleset, tetapi pada tarikan kedua, otot punggungku berkontraksi penuh. Mesin terbatuk hebat, lalu menyemburkan asap hitam pekat dari knalpot yang menampar wajah Binsan telak. Mengabaikan umpatannya, aku menekan tuas gas. Lambung kayu Prakasa mulai membelah air cokelat pelabuhan, meninggalkan dua pria itu hingga sosok mereka mengecil dan tertelan kegelapan malam.


Tiga mil laut terlewati. Aku menurunkan putaran gas ke titik terendah untuk memantau arus. Senyap seketika menyergap di sela deru mesin yang tertahan, menyisakan bunyi kecipak air dan detak jantungku yang memburu. Di titik ini, aku hanyalah manusia kecil di atas kepingan kayu yang mengapung di tengah raksasa hitam.


Harus kuakui, rasa dingin mulai menggigit tulang, merayap dari telapak kaki hingga mencekik leher. Di tengah hamparan laut tanpa batas ini, ingatanku justru terlempar pada ruang paling sempit yang pernah kulihat, dapur ibuku. Dulu, Ibu mati perlahan sambil mengatupkan bibir di depan tungku kayu. Napasnya habis diisap asap, matanya dipaksa menatap api, dan kakinya seolah dipaku di lantai tanah tanpa pernah mengecap kebebasan.


Menatap pekatnya lautan di depanku, aku meremas tuas kemudi. Aku menolak mati dengan cara yang sama. Ketakutan ini nyata, tetapi tekadku lebih besar dari badai mana pun.


Cakrawala tiba-tiba menghilang. Langit utara menyatu dengan permukaan laut, membentuk kanvas hitam bergolak. Angin berubah arah dengan buas, membawa partikel garam tajam yang mengikis kehangatan di kulit. Prakasa mulai terombang-ambing, lambung jatinya bergetar hebat saat haluannya membentur dinding ombak. Air asin menyembur masuk ke dalam kerah baju, menyisakan rasa logam di lidah. Aku segera merapatkan tubuh ke tiang kemudi, melilitkan tali nilon dua kali pada pinggang dan mengikat ujungnya di pilar penyangga.


Layar sonar kuno di balik kemudi tiba-tiba berkedip merah. Titik-titik berkumpul padat pada kedalaman lima belas meter. Itu kawanan tuna sirip kuning yang bersembunyi di bawah pusaran arus dingin. Kesempatan ini tak akan datang dua kali. Dengan tangan kiri yang terus menahan kemudi melawan arah angin, tangan kananku melepas tuas pengunci alat gulung pancing ulur. Umpan dan pemberat timah jatuh berdebum, menarik seratus meter kawat dan tali nilon lurus ke dasar laut yang sedang mengamuk.


Pukul dua dini hari, puncak badai menghantam tanpa ampun. Kilat menyambar membelah awan hitam, menerangi gelombang vertikal raksasa yang naik membentuk dinding air kokoh. Kapal-kapal besar di kejauhan memutar haluan, lari terbirit-birit menuju daratan. Namun, Prakasa justru merangsek maju.


“Kunyah kapalku kalau kau lapar!”!teriakku menantang guntur.


Krak!


Suara retakan kayu memekakkan telinga. Lambung kanan Prakasa koyak dihantam ombak, menciptakan celah di atas garis air. Bersamaan dengan itu, tali pancing menegang mendadak hingga kawat baja penyangganya menjerit. Di bawah sana, monster perairan dalam meronta panik karena kail menancap rahang mereka.


Aku mencengkeram erat tuas kerekan mekanis. Kaki kananku menjejak kuat pada blok mesin untuk mengunci keseimbangan. Kerekan kuputar paksa, tetapi tarikan balik dari dasar laut terlalu brutal.


Trak!


Engkol besi lepas kendali sepersekian detik dan menghajar punggung tangan kiriku dengan keras. Rasa sakit yang tajam meledak hingga ke pangkal leher, membuat napasku tertaham dan air mata merembes bercampur air laut. Tangan kiriku mati rasa seketika.


Pisau komando terselip manis di sepatu botku. Satu sayatan pada tali akan membiarkan ikan-ikan itu pergi, menyelamatkan nyawaku agar aku bisa segera menambal kapal dan pulang. Namun, pantang bagiku pulang membawa kekalahan. Mengabaikan denyut nyeri yang menyiksa, tangan kananku mengambil alih. Aku mengunci putaran kerekan murni menggunakan sisa tenaga urat bahu. Sarung tangan karetku robek parah, gesekan kawat mengelupas kulit telapak tanganku hingga berdarah, tetapi aku tidak peduli.


Kunci penahan kulepas lambat-lambat. Tali utama akhirnya tertarik ke geladak. Tiga ekor tuna sirip kuning raksasa sebesar tubuh manusia dewasa menggelepar ganas, menghantam papan geladak yang basah. Napasku memburu hebat. Aku terjerembap telentang di dekat tumpukan ikan licin itu dengan tangan yang gemetar tak mampu mengepal. Tubuhku menggigil, perih menyayat kulit, tetapi di tengah deru badai yang mulai reda, aku tersenyum getir.


Matahari mengintip lamban dari arah timur saat Prakasa melaju pincang mendekati Pantai Tanjung Luar. Kapalku nyaris tenggelam, air merendam seperempat dari badannya karena celah di lambung, ditambah beban ratusan kilogram ikan di geladak. Tubuhku bersandar lelah pada tuas kemudi, basah kuyup oleh percampuran air, darah, solar, dan lendir.

Di pesisir, Haji Unir, Binsan, dan puluhan pria bersarung berdiri berjajar kaku. Karena haluan terlalu berat untuk bermanuver halus ke dermaga kayu, aku tak punya pilihan selain menekan gas, membiarkan perahu meluncur lurus menabrak gundukan pasir putih.


Braak!


Suara debum keras memecah keheningan pagi. Lambung bawah Prakasa yang sudah rapuh akhirnya pecah berderak menghantam karang dangkal pinggir pantai. Kapal miring tajam seketika. Akibat kemiringan itu, dari atas geladak, tiga monster laut berbobot fantastis merosot turun, mendarat dengan suara gedebuk berat di atas pasir putih Tanjung Luar. Kilau sisik perak tuna raksasa itu memantulkan cahaya mentari, menyilaukan mata para lelaki yang serta-merta mematung bisu.


Mesin mati dengan bunyi desis. Perlahan, aku melangkah turun memijak pasir yang dingin. Sisa darah menetes dari telapak tanganku yang terkoyak, mewarnai butiran putih pesisir, sebuah deklarasi tanpa suara bahwa sejarah kampung ini berhenti ditulis oleh rasa takut.


Binsan mundur dua langkah. Wajah kasarnya pias, rokok kretek jatuh dari jepitan bibirnya yang bergetar. Tak satu pun dari puluhan laki-laki dewasa itu berani menatap lurus ke arah mataku.


“Timbang ikannya, Tuan Haji. Jangan sunat harganya untuk biaya perbaikan kapalku,” ujarku terengah.


Haji Unir menelan ludah. Tangannya yang memegang sarung tampak gemetar melihat luka di tanganku, lalu beralih menatap laut lepas dengan sorot mata lelaki yang baru saja menyadari kepengecutannya sendiri. Puluhan tahun ia melaut, ia sadar tak pernah punya nyali sebesar itu. "L" Kapalmu sudah hancur, Kartika,” gumamnya lirih, nyaris tanpa tenaga.


“Papan kayu bisa dibeli ulang,” jawabku sambil menatapnya tajam. “Tapi harga diri yang hancur digerus ketakutan, tak ada toko gantinya.”


Aku menyeret langkah menjauh. Tangan kiriku terkulai mati rasa, bengkak membiru akibat hantaman engkol, mengantarkan denyut ngilu hingga ke sumsum tulang. Namun, kepalaku tetap tegak. Aku membelah barisan laki-laki pesisir yang kini menunduk, tak lagi memiliki dogma konyol untuk dipertahankan.



Langkahku menyisakan jejak dalam di atas pasir. Sambil menahan perih, bibirku membisikkan kata-kata pada angin pagi yang dingin, menatap sejenak ke arah Prakasa yang kandas. Biarlah retak, karena kalau semuanya terus utuh tanpa diuji, terangku tak kan pernah punya jalan pulang.


Narmada, 01 Mei 2026

Posting Komentar

0 Komentar