SETABIR SELINGKUNG AKU - Lanang Irawan



Cerpen Juara 2
Event Benang Bahasa Kartini
 
SETABIR SELINGKUNG AKU 


Saya bukannya benci atau apa kepada Sunengsih. Saya jamin pikiran saya maju dan terbuka; tidak terbatasi gender, umur, status sosial, atau apa pun itu. Selama masukan atau kritik itu baik untuk desa yang saya pimpin, dari siapa pun datangnya, kenapa tidak?

Saya terlahir dari keluarga akademisi, keluarga sarjana. Paling rendah gelar di keluarga kami itu diploma. Malah pada tahun 1926, nenek buyut saya sembunyi-sembunyi mengirim artikel dengan nama yang disamarkan sebagai Sangkuriang Anak Andjing ke koran Warta Pembebasan. Beliau menggugat hak-hak agraria yang saat itu dikuasai kolonial. Peristiwa itu, meskipun hanya diketahui beliau sendiri pada saat itu, tetapi kemudian menjadi kebanggaan keluarga kami turun-temurun. Tidak ada alasan bagi saya berlaku impulsif kepada orang yang memberikan saran di muka publik hanya karena dia seorang perempuan.

Namun, Sunengsih, bukan begitu caranya mencanangkan sebuah program. Semua ada regulasinya, ada urutan kepentingannya. Hanya karena ide yang kau ajukan masuk akal dan murah secara hitung-hitungan, tidak serta-merta dapat dengan mudah saya setujui. Ini bukan karena kau perempuan sarjana yang baru pulang belajar dari kota, yang mungkin dahaga akan pengakuan intelektual. Bukan! Saya tak peduli dengan semua itu. Apa kau lalu berpikir saya patriarkal?

Ah, terlalu berlebihan! Mantan istri saya dan adik-adik perempuan saya bisa dikatakan sebagai potret emansipasi yang sempurna. Saya membiayai sekolah dan kuliah mereka, memastikan mereka hidup nyaman, dan memiliki posisi terhormat di tempat kerja yang mereka inginkan. Saya tidak ragu untuk mengorbankan apa pun untuk mereka terlepas dari apa yang saya terima sebagai timbal baliknya. Tidak, saya tidak membenci keberanianmu atau apa pun itu sedikitpun. Sudah terbiasa saya dengan perempuan-perempuan yang progresif dan moderat itu, perempuan yang mengagung-agungkan hak dan kebebasan mereka.

Apakah kau masih mengingat bagaimana saya menggandeng tangan Dedeng saat rumahnya tergusur longsor? Atau keluarga Sarpani yang buta huruf dan ditolak oleh rumah sakit ketika akan berobat? Atau kejadian saat saya dengan berani mengusir kontraktor yang meminta izin mengeruk cadas-cadas di bukit-bukit kampung kita? Lihatlah, bagaimana mungkin hanya karena saya menunda usulanmu, saya bisa dikatakan sebagai pemimpin yang tidak pernah memikirkan kemajuan penduduk?

Tidak, tidak. Sebagai warga negara yang berdaulat, saya mafhum kita sama-sama memiliki hak setara untuk mengemukakan ide yang berguna untuk kemajuan bersama. Bukankah saya tidak mempermasalahkanmu ketika meributkan makanan bergizi gratis yang dibagikan sebuah SPPG karena isinya hanya roti dan roti pabrik terus? Bukankah saya juga terbuka saat kau menanyakan pengaturan dana desa? 

Tidak pernah saya menyumpal telinga karena keberisikanmu selama ini, bukan? Malah hari itu saya berterima kasih dan mendukungmu, sebab saya pun berpikir bahwa program makanan bergizi gratis itu hanya menggendutkan saku para pemilik dapur saja. Perlu kau tahu, Sunengsih, para empunya dapur itu malam harinya bertamu ke rumah dan menekan saya, menuding bahwa saya memihakmu karena tak kebagian jatah alokasi saja. Di pemerintahan, ada banyak hal tersembunyi yang tidak dapat kau lihat dari permukaan saja, Sunengsih.

Oleh karenanya, mengenai ide taman baca yang kau ajukan di publik sebulan lalu dan kemudian kau minta secara pribadi kemarin hari saya tahan dulu. Siapa yang tidak setuju dengan literasi? Saya sendiri mengoleksi ratusan buku di ruang kerja dan di rumah. Semuanya bersampul tebal, jenis bacaan yang butuh dahi berkerut, bukan sekadar cerita pendek atau novel-novel picisan yang mungkin kau bayangkan akan digemari remaja di desa ini. Apa kau mengira ide itu hanya pernah muncul dari kepalamu? Tidak, Sunengsih. Saya pun pernah memikirkannya.

Akan tetapi, masalahnya bukan pada buku atau idemu itu, melainkan pada lokasi yang kau incar. Tanah kosong di samping balai desa itu adalah tanah yang saya siapkan untuk perluasan gudang logistik pasca-panen. Itu rencana strategis, Sunengsih. Literasi memang penting, tetapi perut warga harus lebih dulu dijamin, bukan?

"Dik Sunengsih," kata saya akhirnya tempo hari sambil menyesap kopi yang asapnya masih mengepul tenang.

 "Idemu itu mulia. Sangat kota. Namun, kau harus paham sosiologi masyarakat desa kita, Dik. Kadang, anak-anak di sini lebih butuh cangkul daripada buku bacaan saat musim tanam tiba."

Saya melihat matanya meredup, seakan-akan binar kepercayaan dirinya sedikit memudar. Yah, wajar. Tidak semua gagasan harus dipertahankan dengan keyakinan penuh sejak awal. Lagi pula saya mengatakan itu bukan karena iri atau untuk menjatuhkan mental. Itu adalah bentuk pengayoman seorang senior agar juniornya tidak gegabah. Karena itu, kemudian saya memberinya syarat bila proposal itu benar-benar mau saya setujui.

"Saya tidak bermaksud merendahkan kesarjanaanmu, Dik, tetapi cobalah dapatkan tanda tangan dari seluruh RT dahulu dan susun analisis dampak lingkungannya. Bisa?"

Sunengsih diam. Saya melanjutkan, "Semua harus dilakukan dengan prosedur yang benar, Dik. Saya jamin, sayalah yang akan menjadi orang pertama yang menyumbangkan buku jika kau bisa menyelesaikan administrasinya. Itu tantangan, bukan hambatan."

Sepulangnya Sunengsih hari itu, saya terkejut sendiri ketika teringat pesan singkat dari ketua RT 04 yang mengabarkan bahwa dia akan berkunjung ke mertuanya di luar kabupaten beberapa hari lalu. Sementara ketua RT 07 sedang sakit keras sudah lama. Namun, saya pikir tidak apa-apa. Bukankah ini waktu yang tepat untuk melihat apakah gagasan Sunengsih benar-benar matang atau hanya sekadar antusiasme sesaat?

Sementara itu, saya mulai menginstruksikan sekretaris desa untuk mulai memindahkan tumpukan semen ke lahan samping balai desa. Bukan saya licik atau bagaimana, tetapi keamanan material negara juga penting.

Satu bulan hampir berlalu, dan saya sudah hampir lupa pada usulan Sunengsih. Namun, siapa sangka, saat saya sedang sibuk mengatur pengiriman material untuk fondasi gudang logistik di lahan samping balai desa itu, dia datang lagi. Rambutnya yang biasanya rapi sedikit berantakan, wajahnya yang tanpa make-up terlihat kuyu. Persisnya dia seperti orang yang berhari-hari tidak cukup tidur. Kali ini dia tidak membawa map. Benar-benar gadis bengal dia adanya. Namun, kopi di mulut saya terasa masam begitu dia menyampaikan sebuah kabar.

"Sepertinya sekarang hanya tinggal izin dari Pak Kades." Dia berujar dengan nada sok tenang.

Saya tertawa pendek dan mengangguk-angguk. 

Sunengsih lalu melanjutkan perkataannya. "Saya tidak menyangka kalau istri Pak RT 04 itu orang luar kabupaten." 

"Maaf, saya pun baru ingat belakangan kalau beliau sedang keluar. Bagaimana dengan sisanya?"

 "Untuk Pak RT 07, saya membantunya mengurus sedikit administrasi rumah sakitnya, lalu istrinya memandu tangan beliau untuk tanda tangan. Mereka semua setuju."

Lihat, kan? Gadis ini mulai bermain kotor dengan cara menyuap emosi warga. Dia pikir dengan sedikit bantuan administrasi, dia bisa melompati wewenang saya. Ini tipikal anak muda zaman sekarang. Mereka selalu merasa sudah melakukan revolusi hanya karena mau berkeringat sedikit di atas ketenangan kertas-kertas.

"Bagus, Dik. Namun, seperti yang saya katakan, gudang logistik adalah prioritas. Kamu tidak bisa membuka taman baca di atas semen dan pasir yang diperuntukan bagi gudang ketahanan pangan, kan?" kata saya sambil kembali mengangguk-angguk. Beberapa kali saya memandangnya lewat sudut mata, dan senyuman Sunengsih yang tidak lepas dari wajahnya membuat saya merasa—ah, entahlah.

"Saya tahu, Pak. Karena itu, saya tidak lagi meminta lahan itu. Keluarga Bang Sarpani, yang sudah Bapak tolong tempo lalu, menghibahkan tanah di belakang rumahnya. Katanya, mereka ingin meniru kedermawanan Pak Kades." Dia mengucapkannya sambil menatap saya lekat-lekat. Entah itu bentuk hormat atau cara halus untuk memastikan saya tidak akan lagi menolaknya.

Saya tertegun. Saya tidak mengira dia akan menggunakan nama saya tanpa malu untuk memuluskan rencananya sendiri. Rasa-rasanya ini bukan lagi soal literasi, ini adalah sabotase halus. Seakan-akan, dia sedang memojokkan saya dengan cara paling licin. Namun, karena itu pula saya tidak bicara lagi. Tak masalah. Toh, saya kades yang lebih mementingkan masa depan anak-anak desa daripada sentimen pribadi.

Setelah urusan itu selesai, setiap sore, saya sengaja melewati rumah Sarpani yang belakang rumahnya sekarang ramai oleh suara anak-anak. Dari suara-suara itu, saya bisa membayangkan Sunengsih sedang duduk dikelilingi anak-anak di sana, memegang buku-buku tipis yang sebenarnya sama sekali tidak terlalu bergizi bagi intelektualitas desa. Saya paham Sunengsih tidak hanya sedang mengajarkan literasi, tetapi dia mungkin sedang membangun barisan pengikut. Entah dia sadari atau tidak. Menurut hemat saya, sekarang dia tampak sedang membangun narasi bahwa dialah sang penyelamat; sang Kartini masa kini.

Hal itu terbukti kemudian. Saat saya melakukan kunjungan kerja atau berkumpul bersama masyarakat, ada saja orang yang menyebut nama Sunengsih dengan kekaguman di samping berterima kasih kepada saya karena telah mengizinkan Sunengsih membuat taman baca.

Saya sama sekali tidak masalah dan tidak peduli dengan euforia utopis itu. Dengung nyamuk-nyamuk kecil seperti itu nanti juga akan sirna dikebut angin. Namun, dari semua obrolan-obrolan itu, saya tidak pernah mendengar mereka menyinggung gudang logistik yang saya bangun, padahal proyek itu lebih nyata daripada sekadar dongeng sebelum tidur di belakang rumah Sarpani, bukan? Apa alasannya?

Ah, saya tidak iri ataupun haus pujian, tetapi baiklah saya akui. Perempuan itu memang pintar. Namun, dia hanya pintar bermain peran. Dia tidak tahu bahwa memimpin desa bukan sekadar membacakan cerita dan mengajarkan dialektika sedini mungkin, tetapi juga menahan beban agar seluruh struktur yang sudah berjalan berabad-abad tidak runtuh.

Untuk saat ini mari biarkan saja dia dengan taman bacaannya. Kita lihat saja berapa lama semangat Kartini-kartinian-nya itu bertahan sebelum dia bosan dan lari kembali ke kenyamanan kota, meninggalkan saya yang tetap harus membereskan sisa-sisa kekacauan yang dia sebut sebagai kemajuan. Kalau, toh, dia tidak berubah dan benar-benar kompeten serta tulus, siapa tahu dia cocok dengan saya di pilkades mendatang, bukan? 


Curugkembar, 5 Mei 2026.

Posting Komentar

0 Komentar