CAHAYA DI BATAS LINGKARAN - Hana Tsuki Noa


Cerpen Juara Harapan 2
Event Benang Bahasa Mythic Romance

CAHAYA DI BATAS LINGKARAN


𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑠𝑢𝑎𝑡𝑢 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑘𝑎𝑢 𝑚𝑒𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑟𝑢𝑚𝑝𝑢𝑡 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 ℎ𝑖𝑗𝑎𝑢 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑟𝑛𝑎𝑚𝑎, 𝑖𝑡𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑟𝑡𝑖 ... 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝐼𝑒𝑙𝑒¹ 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑡𝑢ℎ 𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎.

Purnama tumpah di ladang gandum yang berbatasan langsung dengan padang rumput, membuat bulir-bulirnya berkilau keperakan. Angin bergerak lembut, membawa desir halus dari batang-batang kering yang saling bergesekan. Rumput liar dan bunga kecil di sisi lainnya menunduk khusyuk seakan menyimpan rahasia yang tak ingin diketahui.

Aroma gandum kering bercampur tanah basah terasa begitu lekat di perbatasan tanpa pagar itu. Malam bulan purnama tidak lewat begitu saja. Di sana, waktu seolah berhenti beberapa saat untuk memberitahu bahwa keindahan paling berbahaya selalu lahir di garis peralihan.

Udara semakin menusuk saat Matei—putra Domnul Petru dan Doamna Anna—berkeliling mengawasi ladang milik keluarganya. Ia tuli dan bisu sejak lahir. Karena penglihatannya tajam, ia ditugaskan menjaga ladang gandum setiap malam. Matei sangat menyukai pekerjaannya yang hening.

Malam itu, Doamna Anna berpesan pada putranya, “Jauhi lingkaran yang tiba-tiba muncul di padang rumput, Matei.”

Matei mengangguk. Bukan karena mitos itu, melainkan karena ia paham kekhawatiran sang ibu yang tak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa setelah ayahnya meninggal.

Pemuda itu berkeliling seperti biasa, memastikan ladang aman dari serangan babi hutan. Langkah kakinya berhenti saat memasuki batas ladang dan padang rumput, ia melihat sesuatu yang menakjubkan untuk pertama kali dalam hidupnya. Selama ini, Iele hanya ia kenal dari buku dongeng yang diceritakan ibunya. Kisah-kisah itu ia yakini tak lebih dari mitos belaka. Namun, peristiwa malam itu—bahkan sebelum ia menyadari—telah mengubah hidupnya untuk selamanya.

Aroma gandum dan tanah basah tak lagi menguar, berganti wangi bunga liar. Baunya lebih manis, hampir memabukkan. Rumput di padang kecil itu menunduk serempak, membentuk lingkaran halus. Tanah berkilau oleh cahaya lembut yang muncul dari bawah.

Sosok-sosok itu hadir tanpa melangkah. Tubuh mereka terbentuk dari kilau pucat dan bayangan bulan. Rambut panjang tergerai mengikuti angin yang tak lagi terasa dingin. Gaun mereka jatuh mengalir, putih dan ringan seperti kabut.

𝐻𝑜𝑟𝑎 𝐼𝑒𝑙𝑒𝑙𝑜𝑟—tarian bangsa Iele—bermula tanpa aba-aba. Tubuh-tubuh itu bergerak serempak seolah mengikuti musik, berputar perlahan membentuk lingkaran. Kaki-kaki mereka nyaris tak menyentuh bumi, meninggalkan jejak cahaya yang segera menghilang setiap kali memulai langkah baru.

Lengan mereka terangkat, membentuk lengkung yang saling menyambung, terlepas, lalu menyatu kembali. Gerakannya lembut, namun pasti.

Rambut panjang para Iele mengikuti putaran, memantulkan cahaya bulan seperti air yang bergerak tanpa riak. Mereka menari sambil menyanyikan nyanyian bangsa peri yang dapat memikat pria, namun Matei tak bisa mendengarnya.

Putaran itu kadang melambat, hampir berhenti, lalu kembali mengalir lebih rapat menuju pusat lingkaran. Di sana, udara menjadi hangat dan berat, seakan setiap langkah menenun sesuatu yang tak kasatmata.

Namun sebelum tarian mencapai puncaknya, salah satu dari mereka menyadari kehadiran Matei. Anehnya, untuk pertama kali setelah ratusan tahun, tarian itu tak berpengaruh pada manusia.

Benar kata ibunya, Iele selalu datang berkelompok dalam jumlah ganjil. Malam itu Matei melihat lima gadis Iele menari dengan anggun, tubuh molek mereka meliuk indah dibalut gaun transparan.

Ia terjebak antara rasa penasaran dan ingin pergi. Seperti yang pernah ia baca, siapa saja yang melihat dan mendengar mereka menari, atau masuk di bekas lingkarannya akan mengalami sakit keras, gila, bahkan kematian.

Salah satu dari mereka—Elena—menoleh ke luar lingkaran. Tatapannya jatuh tepat ke arah Matei, dan sesuatu yang lama terkunci dalam dirinya akhirnya terbuka.

Elena keluar dari lingkaran. Pusat tarian menjadi tak seimbang. Kekacauan pun terjadi. Para Iele saling bertabrakan.

Elena masih belum sadar telah melanggar aturan bangsanya, sementara kutukan telah berjalan seiring langkahnya menjauh.

Cahaya di tubuhnya meredup, begitu juga dengan Iele lainnya. Kulit seputih pualam memucat kebiruan dan dingin seperti embun. Kaki-kaki yang tadi nyaris tak menyentuh tanah kini benar-benar menjejak. Rumput merintih pelan, menekan diri ke bumi. Lingkaran itu menyisakan jejak gosong seperti habis terbakar.

Beberapa Iele saling berpandangan. Ada yang menunduk, seolah takut mengakui apa yang baru saja terjadi.

Elena berhenti tepat di depan Matei. Matanya bening, memantulkan cahaya bulan dan keheranan. Tanpa suara, sorot mata itu—setidaknya menurut Matei— seolah bertanya, "𝐴𝑝𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑡𝑎ℎ𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑙𝑖ℎ𝘢𝘵?"

Jantung Matei berdegup sangat kencang hingga ia bisa merasakan sesak di tenggorokannya. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya tak berkedip memandang keindahan di hadapannya.

Matei menyentuh dadanya pelan, lalu menunjuk Elena.

Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan dirinya tanpa suara. Namun Elena menangkap sesuatu dari gerakan sederhana itu—sebuah pengakuan yang tak memerlukan kata.

Rambut panjang Elena kehilangan kilaunya. Telapak kakinya mulai terasa sakit seperti tertusuk jarum saat menginjak rumput. Pada detik itu ia sadar, aturan paling sakral telah ia langgar.

Ia mencoba melangkah kembali ke lingkaran, namun tanah tak mengenalinya. Rumput-rumput liar tak lagi menunduk. Cahaya yang biasa menyambut kakinya padam, digantikan dingin yang menusuk.

Para Iele lain mundur satu langkah serempak. Bukan karena takut, melainkan karena aturan telah bekerja. Tak satu pun dari mereka boleh menatap manusia terlalu lama, apalagi sampai jatuh cinta. Elena dikucilkan karena telah melanggarnya. Cinta di dalam dadanya menyala saat memandang Matei.

Ia memang masih berdiri di batas yang tak boleh dilalui, tapi bukan lagi bagian dari lingkaran itu. Cahaya yang tersisa di tubuhnya bergetar, menunggu keputusan besar yang akan dipilihnya.

Ia bisa kembali ke hutan dan melebur menjadi ketiadaan, memulihkan aturan. Atau melangkah ke dunia manusia dan kehilangan keabadiannya.

Ia memilih mendekat pada Matei.

Pemuda itu tahu, kutukan telah berlaku atas diri Iele yang terbuang, juga padanya.

“Jika ini kutukan, kenapa ia terlihat lebih takut dariku?” batin Matei.

Elena menoleh sekali lagi ke padang rumput yang kini kosong. Di sana, ia pernah menjadi bagian dari sesuatu yang tak bisa mati. Namun, keputusan untuk melepas semuanya baru saja ia pilih.

Malam itu, Matei membawa Elena ke gubuk tua di tengah ladang gandum. Setidaknya itu adalah tempat persembunyian yang aman untuk sementara waktu. Ia akan memikirkan kembali cara menyelamatkan gadis Iele itu kemudian. Entah mengapa hati kecilnya tak tega bila Elena harus melebur di dalam hutan.

Masa panen gandum masih lima bulan lagi. Ibunya tak akan mendatangi gubuk tua itu. Namun ia harus bergerak cepat sebelum terjadi sesuatu yang tak terduga.

Matei pulang ke rumahnya seperti biasa. Pagi itu ibunya sedang memasak roti selai. Ia mengambil beberapa potong untuk dibawa ke ladang.

“Mau ke mana, Matei?” tanya ibunya saat melihat putranya hendak bersiap pergi lagi.

Matei menjelaskan dengan bahasa isyarat, bahwa ada batang-batang gandum yang roboh ditiup angin. Ia akan kembali ke ladang untuk menegakkannya.

Doamna Anna percaya. Ia menambahkan lagi beberapa potong roti dan susu segar untuk bekal putranya.

Hari-hari berikutnya dijalani Matei dengan sangat hati-hati. Ia tak ingin ibunya mengetahui rahasia besar yang ia sembunyikan, lalu membuat wanita kesayangannya itu khawatir.

Tubuh Elena semakin lemah dari waktu ke waktu. Cahaya di tubuhnya kian redup. Kulitnya sering terasa dingin saat fajar, dan rambutnya rontok helaian demi helaian karena kehilangan kilau bulan yang dulu menyertainya. Ia tak lagi bisa berjalan jauh. Setiap langkahnya di ladang terasa menyakitkan, seolah bumi menolak keberadaannya.

Matei menyadari itu, ia tak tinggal diam. Meski masa panen gandum masih lama dan keberadaan Elena di gubuknya aman, ia terus mencari tahu cara untuk menyembuhkan lebih cepat agar bisa memindahkannya ke tempat yang layak.

Ia menemaninya di gubuk tua setiap malam, membawa roti, susu, dan selimut tebal. Siang hari ia masuk ke hutan, mencari bahan-bahan untuk membuat ramuan herbal yang dipelajari dari ayahnya dulu. Domnul Petru adalah tetua di desanya yang dikenal bisa menyembuhkan segala penyakit.

Matei tidak bicara, namun tangannya selalu ada untuk menopang, menghangatkan, dan melindungi Elena.

Setiap kali gadis itu tampak takut, Matei akan menempelkan dahinya ke dahi Elena—bahasa sederhana yang mereka ciptakan sendiri.

Elena akhirnya mengerti arti gerakan itu: aku di sini.

Matei juga belajar membaca perubahan di wajah Elena, cara matanya meredup saat rembulan tertutup awan dan kerutan tipis di dahi yang mulai muncul setelahnya.

Setiap malam, Elena belajar bahasa isyarat dari Matei agar bisa berkomunikasi. Begitu pun sebaliknya, Matei belajar membaca gerak bibir Elena. Tak hanya itu, gadis Iele itu juga mengajarkannya membaca pergerakan angin dan cuaca. Matei jadi tahu kapan waktu yang tepat untuk menanam dan memanen gandum-gandumnya.

Elena tersenyum setiap kali Matei berhasil membuat api unggun. Ia akan duduk dekat-dekat, menyandarkan kepala ke bahu pemuda itu. Untuk pertama kalinya, Elena merasa aman dengan kehadiran manusia.

Namun, kebahagiaan yang mereka bangun begitu rapuh.

Suatu malam, Elena terbangun dengan napas tersengal. Cahaya di tubuhnya hampir padam. Matei panik. Ia memeluk Elena, mencoba menghangatkan tubuhnya, namun dingin itu tidak berasal dari udara.

Keesokan harinya, Matei membongkar peti tua peninggalan ayahnya. Buku-buku kuno berisi resep ramuan herbal itu tampak berdebu. Sebagian sampulnya koyak dan tintanya nyaris pudar ditingkahi waktu. Matanya terkunci pada satu buku bersampul kulit kusam dengan simbol lingkaran. Di sanalah Matei menemukan jawabannya.

Matei menutup buku itu dengan tangan gemetar.

Pada malam 24 Juni yang bertepatan dengan perayaan 𝘮𝘪𝘥𝘴𝘶𝘮𝘮𝘦𝘳, bulan sempurna tanpa cela naik perlahan. Lingkaran cahaya kembali terbuka di padang rumput, lebih terang dari malam-malam sebelumnya.

Angin berembus pelan, membuat rumput-rumput liar menunduk patuh, sementara ladang gandum di seberangnya tetap tegak tak ikut campur.

Matei menggendong Elena dengan langkah berat, membawa gadis itu ke perbatasan padang rumput.

Tubuh Elena terasa semakin ringan, nyaris seperti bayangan. Napasnya terputus-putus. Cahaya di kulitnya berpendar lemah, berkedip seperti lilin yang hampir padam.

Elena menangkap maksud Matei saat ia berhenti di tepi lingkaran.

Ia meraih wajah pemuda itu dengan kedua tangannya yang dingin, memaksa Matei menatapnya. Air mata mengalir membasahi pipinya.

Ia menggeleng keras. Bibirnya bergerak membentuk satu kata: 𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘.

Matei menempelkan dahinya ke dahi Elena—seperti setiap malam ketika ia ingin mengatakan sesuatu yang tak bisa diucapkannya.

Kali ini Elena mengerti sepenuhnya, bahwa pemuda itu tak ingin kehilangan dirinya.

Elena terisak. Ia belum pernah merasakan cinta dan takut kehilangan sebelum ini.

Dengan tenang, Matei melangkah masuk ke dalam lingkaran. Cahaya meledak dari bawah kaki menembus tubuhnya, mengoyak segala yang bernama hidup. Matei terhuyung, lututnya menghantam tanah. Alih-alih menjerit, ia justru tersenyum kecil. Senyum yang Elena kenal seperti saat pemuda itu mengisyaratkan bahwa ia selalu ada untuknya.

Cahaya menyembur dari tubuhnya, mengalir menuju Elena.

Gadis itu menjerit, suaranya pecah di langit malam. Ia berusaha maju, namun lingkaran menahannya. Cahaya menyelimuti tubuhnya, mengisi setiap kekosongan dan rasa kehilangan. Cahaya itu bukan dari hutan, bukan dari tanah, tapi dari cinta tanpa syarat seorang manusia untuknya.

Rambut Elena kembali berkilau. Kulitnya menghangat seiring dengan napasnya yang kembali teratur. Sementara itu, cahaya di tubuh Matei kian memudar. Sebelum menutup mata, dalam benaknya yang sunyi, Matei sempat berpikir bahwa mencintai Elena adalah satu-satunya suara yang pernah ia miliki.

Ketika purnama mencapai titik tertingginya, Matei jatuh tersungkur. Lingkaran perlahan menutup mengiringi napas terakhirnya. Kali ini tak meninggalkan bekas gosong seperti sebelumnya.

Para Iele muncul kembali, sunyi dan anggun. Mereka melanjutkan tarian seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Elena melangkah ke dalam tarian, membawa cinta dan pengorbanan Matei. Setiap kali cahaya kembali membentuk lingkaran pada malam musim panas yang hangat, ia selalu ingin menoleh ke ladang gandum, tempat di mana ia pernah merasa dimiliki.


Tamat. 

Catatan kaki:
Iele (yele) adalah makhluk mitologis dalam folklor Rumania, digambarkan sebagai roh perempuan cantik dengan kekuatan supranatural. Mereka dipercaya menghuni hutan, sungai, dan padang rumput, serta sering muncul pada malam hari untuk menari dan bernyanyi di bawah cahaya bulan. Iele dikenal mampu memikat manusia, memanipulasi cuaca dan mimpi, memberi berkah maupun menjatuhkan kutukan. Bersifat misterius dan tak terduga, mereka sangat melindungi alam dan tempat-tempat suci, serta digambarkan sebagai makhluk abadi yang berada di luar batas waktu manusia.

Posting Komentar

0 Komentar