Cerpen Juara Harapan 1
Event Benang Bahasa Mythic Romance
NADA YANG TAK PERNAH USAI
Karya: Earendel
Sebelumnya, aku tidak pernah tahu persis seperti apa rupa cinta. Katanya, ia bisa berupa rekah bibir pada perjumpaan pertama, atau degup yang terlalu cepat saat dua mata bersitatap tanpa sengaja. Katanya, cinta adalah hangat yang merambat pelan dari segala indra hingga ke dada, seperti cahaya pagi yang diam-diam menyusup dari celah embun dan dedaunan.
Namun saat ini, menurutku cinta ialah getar yang bermula dari suara.
Aku menemukannya di antara batang-batang pohon zaitun. Di suatu sore, saat langit baru mulai belajar memerah, bermula dari melodi asing yang sangat lembut menyapa telinga. Bukan dari kicauan burung di antara pohon, atau arus air sungai yang menabrak batu, ia duduk dengan lira yang dipetik sangat teguh.
Aku tidak tahu lagu apa yang ia mainkan, aku hanya tahu bahwa lagu itu selalu berhasil memakuku tiap kali ia bermain. Pernah sekali, dengan suaranya yang seperti bass terindah, ia bertanya, "apakah musikku mengganggumu?" Matanya yang seindah padang rumput nampak berbinar kala itu.
Entah karena terlalu malu sebab tertangkap basah sedang diam-diam mengamati, atau karena tatapannya yang disertai rekah bibir sehangat sinar di tengah kutub, aku hanya terpaku dengan kata "tidak" yang terpenjara di dalam mulut. Saat itu, ia tertawa, dan aku dibuat semakin bingung sebab baru pertama mendengar tawa yang semerdu itu.
Namun, saat itu aku tidak langsung jatuh cinta. Ia tidak datang sebagai badai, melainkan sebagai hujan yang berulang. Setiap hari di waktu yang sama, lira yang dipetik dengan penuh penghayatan itu selalu berhasil membawaku untuk duduk di salah satu dahan pohon. Aku mengamati ia yang bermain sangat khusyuk, seolah dengan cara itu ia bisa berkomunikasi dengan segala makhluk di dunia—termasuk aku.
Aku tidak tahu lagunya, tetapi aku bisa mengerti bahwa semua musik yang ia mainkan adalah syair cinta—entah kenapa aku bisa mengartikannya demikian. Sebab, tiap kali matanya itu menemukanku yang terpaku, cinta seperti hadir di sela-sela suara yang nampaknya memang dicipta untukku.
Namanya Orpheus—ia adalah bentuk cintaku—aku bahkan tahu itu dari angin yang lebih dulu membisikkan kabar sebelum ia sendiri yang berucap. Entah karena Orpheus adalah seorang musisi, sebab tiap kali ia memanggil namaku, ada sesuatu dari suaranya yang membuat dedaunan berhenti bergerak, seolah memberi ruang untuk euforia yang tercipta agar menetap lebih lama.
Karenanya aku mulai menunggu sore. Bukan untuk menyaksikan langit yang sudah lihai memerah, tetapi untuk mengamati ia dan jari kekarnya memetik dawai pertama. Aku menunggu saat-saat ketika udara berubah menjadi getar, sebab karena itu, dada yang selama ini hanya kupakai untuk bernapas, mendadak belajar merindukan.
Aku tidak tahu kapan pastinya, kini aku hanya merasa bahwa penghujung hari tidak akan sempurna tanpa ia dan lagunya. Orpheus tidak banyak bicara, tetapi setiap lagu yang ia mainkan seolah mengajakku bercerita. Dari lira dan lagu yang ia petik, aku dibawa memutari rasi bintang, lalu menyelami rahasia laut, bahkan ia membawaku ke dunia para dewa yang agung.
Bersama Orpheus aku menjadi nimfa yang sempurna. Dan tanpa kusadari, aku benar-benar jatuh ke dalamnya. "Menurutmu, cinta itu seperti apa?" tanyanya di suatu sore.
Dengan puing-puing keberanian yang berhasil kukumpulkan, aku menatap matanya dan menjawab, "seperti kamu dan lagumu yang tidak pernah berhenti membuat dadaku bergetar." Di wajahnya yang bak pahatan sempurna itu, aku bisa melihat titik kejut. Aku tertawa. "Kenapa? Apa nimfa tidak pantas untuk manusia?" tanyaku.
Lalu ia buru-buru menggeleng. Rambut lurus panjangnya bahkan ikut bergoyang. "Bukan begitu, aku hanya terkejut karena kamu mencuri sesuatu yang seharusnya kulakukan lebih dulu. Dan, seharusnya aku yang bertanya, apa manusia sepertiku pantas untukmu?"
Apakah ada batasan dan aturan dalam mencinta?
Beberapa kali aku bertanya, dan mereka selalu berkata bahwa cinta adalah kebebasan. Aku bebas mencinta pada siapa dan dalam bentuk yang bagaimana, sebab cinta adalah yang tak bisa diatur tempat dan waktunya, bahkan pada siapa pemiliknya.
Lantas, di bawah langit yang sudah berani menyatu dengan jingga, aku menjawab, "jika kita sama-sama berpikir tidak pantas untuk satu sama lain, bukankah itu artinya kita sangat cocok? Kamu bisa berubah menjadi manusia yang pantas untukku, dan aku pun akan berubah menjadi nimfa yang pantas untukmu. Bagaimana, apakah aku sudah boleh menyebutmu sebagai bentuk dari cintaku?"
Tidak hanya Orpheus yang nampak terkejut sampai bangkit dari duduknya, aku pun sungguh merasa malu dengan apa yang kusampaikan. Beruntung malam mulai mengambil alih, hingga senja yang berpindah ke wajahku bisa tersamarkan. "Lupakan." Lalu aku ikut berdiri. "Su-sudah malam, kamu harus pulang. Sa-sampai jumpa besok."
Aku mendorong tubuhnya menjauh, tetapi ia seperti dipaku. Orpheus dan liranya bahkan tidak bergerak sedikit pun. Ia memandangiku dengan raut wajah yang tidak pernah kulihat, lalu sebelah tangannya yang bergetar tiba-tiba bergerak memukul pemiliknya sendiri. "Sepertinya aku bermimpi," ujarnya, tangan itu menampar pemiliknya.
Tamparan itu berulang beberapa kali. Tidak keras memang, tetapi mampu membuatku terlonjak dari malu yang belum sempat surut. Aku yang diiringi panik berusaha menahan tangannya yang ingin bergerak menampar lagi. "Orpheus, apa yang kau lakukan?!"
Lalu seolah baru terbangun dari tidur panjang, Orpheus menatapku dengan wajahnya yang linglung. Ia bertanya dengan nada suaranya yang bergetar, "aku tidak bermimpi?"
Entah apa maksudnya, tetapi apakah selama ini Orpheus menganggap bahwa pertemuannya denganku hanyalah mimpinya di sore hari? Jika benar begitu, bukankah itu artinya dia tidak benar-benar menganggapku ada? Dan saat itu aku merasa seperti ada ranting yang bergerek menembus dadaku, gelinya perlahan berubah perih. "Jadi hanya aku yang menganggap pertemuan ini berarti, ya?" Aku tidak tahu mengapa suaraku terdengar getir.
Orpheus menggeleng lagi, kali ini lebih keras. "Tidak, bukan begitu maksudku." Ia bahkan mengesampingkan lira kesayangannya hanya untuk menahanku yang hendak menjauh. "Selama ini aku berpikir bahwa tidak akan ada yang mau mencintaiku. Seperti yang kamu lihat, saat bermain lira, aku akan sepenuhnya hanyut dalam laguku, dan orang-orang sering menganggapku aneh karena hal itu. Tetapi kamu malah menjadikanku sebagai cinta? Aku merasa seperti sedang bermimpi! Bukan karena aku tidak menganggapmu ada, tetapi karena kenyataan ini bahkan tidak berani kuminta dalam mimpi sekali pun."
Langit sudah benar-benar gelap ketika Orpheus bergerak mempersempit jarak. Angin bergerak lebih dingin, mengangkat helai rambutnya dan rambutku hingga sesekali menyatu. Tangannya yang tadi gemetar kini terangkat menuju pipiku. Kali ini bukan untuk memberi pukulan, tetapi elusan hangat yang membawa kembali senja ke sana.
"Aku memberikanmu kebebasan untuk menjadikanku sebagai objek dari cinta yang kamu pahami. Sebagai gantinya, bebaskan aku menyimpanmu dalam setiap petikan liraku. Bebaskan aku membawamu pada setiap laguku. Dan bebaskan aku mencintaimu dalam syair-syair yang terhubung langsung dengan jantungku."
Dan malam itu untuk pertama kalinya aku tahu seperti apa rupa dari cinta. Ia bisa bermula dari suara yang asing, atau berupa getar yang tidak langsung disampaikan, tetapi yang pasti ia akan berwujud sebagai Orpheus.
***
Banyak yang mengatakan bahwa di dunia yang fana ini tidak ada yang bersifat kekal, termasuk cinta. Mereka berkata bahwa manusia adalah makhluk yang paling cepat dan mudah untuk lupa, termasuk pada janji untuk saling mencinta. Dan Orpheus adalah salah satu manusia yang dicemooh seperti itu.@
Mereka berkata bahwa Orpheus hanya tertarik pada paras anggun seorang nimfa, dan cintanya akan memudar seiring dengan perjalanannya yang kini sudah dikenal dunia. Mereka berkata bahwa saat manusia mencapai puncak, aku akan menjadi cerita usang yang harus bersiap untuk dilupakan. Katanya, hukum cinta pada manusia memang sedangkal itu.@
Namun, Orpheus berbeda. Tidak seperti kata mereka, laki-laki yang menjadi objek dari bentuk cintaku itu bahkan masih menjadikanku tokoh utama dalam lagunya, meskipun kini kami menapak di dunia yang berbeda.
Aku mengira bahwa kematianku akan menjadi akhir dari cintanya, berpikir bahwa setelah itu Orpheus akan bangkit kembali dan menemukan cinta lain. Bukankah begitulah manusia bertahan? Mereka meratap, lalu perlahan menyembuhkan diri, lalu, pada waktunya, mereka membiarkan kenangan mengendap menjadi sekadar cerita. Namun, yang kudengar justru sebaliknya.
Jiwa-jiwa yang tiba di dunia bawah membawa kabar tentang seorang lelaki yang berjalan tanpa tujuan, memanggul lira seperti memanggul separuh jiwanya yang patah.
Mereka berkata, setiap nada yang ia petik bukan lagi tentang musim semi atau anggur yang melimpah, melainkan tentang seorang nimfa yang terbaring di antara akar dan bayang-bayang.
Namaku hidup di bibir dan lagunya. Ia tidak menyebutku dengan jerit, melainkan seperti doa yang tak pernah ingin diselesaikan. Lirik-liriknya adalah kalimat permohonan agar cintanya kembali, yang tentu saja hal itu tidak akan pernah terjadi.
Aku menghilang dari sisi Orpheus tepat di hari pernikahan. Sepertinya alam dan semesta tidak benar-benar mengizinkan kami yang berbeda untuk bersama. Di hari itu, entah dari mana semua kemalangan berasal, seekor ular hadir di tengah-tengah jalanku menuju altar.
Bisa dingin yang bergerak melebihi kecepatan arus darah, dalam sekejap merenggut kesadaranku, bahkan aku tidak diizinkan merasakan sakit dari gigitan ular itu, sebab kematian datang menjemputku lebih dulu. Justru, hal terakhir yang kurasakan adalah pilu tak tertahankan yang tergambar di wajah Orpheus.
Aku tidak mengira bahwa itu akan menjadi kemalangan terbesar di hidupnya, hingga dia dengan berani—entah bagaimana caranya—datang ke dunia bawah. Melalui jiwa-jiwa lain yang baru menginjak dunia milik Hades ini, aku mendengar bahwa Orpheus tengah merayu Hades dan istrinya, Persephone, agar bisa membawaku kembali ke dunia cahaya.
Dan saat itulah, setelah sekian lama, aku kembali mendengar suara dan liranya bersenandung. Namun kali ini bukan nada penuh cinta, melainkan melodi pilu yang nada-nadanya mengalir seperti air mata. Suara Orpheus yang biasanya terdengar tegar dan ceria kini sangat berbeda. Melalui lagunya, aku bisa merasakan bagaimana selama ini ia begitu terluka atas kematianku yang tidak pernah ada dalam rencana hidupnya.
Dadaku semakin menggema rindu, terlebih petikan lira itu benar-benar berhasil menyayat hatiku. Aku tidak pernah menyangka bahwa Orpheus akan seterpuruk ini, sebab selama ini aku berpikir bahwa kematianku tidak akan menaruh arti yang berarti. Barangkali aku terlalu meremehkan jejak yang kutinggalkan di hidupnya. Atau barangkali aku tidak pernah benar-benar memahami seberapa dalam ia menanamkan namaku di antara nada-nadanya.
Aku melihatnya dari kejauhan. Kini, sosoknya tampak lebih kurus dan lebih rapuh, sangat berbeda dengan Orpheus yang bernyanyi di bawah pohon zaitun dulu. Meskipun begitu, ia berdiri kokoh di hadapan penguasa dunia bawah, tanpa pedang, tanpa perisai, hanya dengan lira dan musiknya yang menggemakan kisah dua makhluk yang berbeda hingga akhirnya jatuh cinta.
Aku ingin berlari kepadanya. Ingin menyentuh wajah yang kini dihiasi duka. Ingin berkata bahwa aku di sini, bahwa aku tidak pernah benar-benar pergi, bahwa meskipun tak lagi bisa ia sentuh, aku akan tetap bisa ia rasakan dari lagu-lagu yang dulu ia mainkan untukku. Namun, keinginan itu terpaksa kutelan keras-keras sebab aku hanyalah gema di antara arwah. Pelukku juga tak ada gunanya.
Hingga entah bagaimana caranya Hades memberi harapan padanya yang berpangku putus asa, Hades sempat mendatangiku dan berkata, “ikutilah ia dengan napas yang bisu dan kamu akan benar-benar pergi dari duniaku.”
Sedangkan pada Orpheus, Hades berseru, “bawalah ia kembali, tetapi jangan menoleh sebelum kamu tiba di dunia cahaya.”
Dan aku menolak harapannya.
Sebagai makhluk kecil yang bahkan tidak memiliki waktu hidup yang lama, bukankah akan sangat tidak tahu malu ketika aku menerima harapan yang akan mengubah tatanan dunia? Bukankah kematianku telah menjadi bagian dari takdir yang sudah ditulis bahkan sebelum aku tahu seperti apa rupa cinta? Lalu siapa aku, hingga berani membalikkan garis yang sudah ditarik oleh semesta?
Di dunia yang sangat luas ini, tidak hanya kami yang memiliki kisah pilu, bahkan mungkin ada yang lebih tragis dari cinta Orpheus dan aku. Bagaimana jika setelah ini, mereka yang bernasib sama juga meminta hal serupa? Bukankah itu akan mengacaukan dua dunia?
Aku mencintai Orpheus seperti nada dari liranya yang teratur, mengalun dengan indah karena tahu kapan harus bermula dan kapan harus berhenti. Sebab bahkan lagu yang paling merdu pun akan berubah menjadi gaduh jika ia menolak untuk berakhir.
Namun ternyata, Orpheus sangat keras kepala perihal cinta. "Kalau begitu, mohon izinkan aku menetap di duniamu," katanya dengan memangku harapan baru.
Orpheus menurunkan liranya. Kali ini ia bersimpuh di hadapan kuasa Hades, sementara tawa penguasa dunia kematian itu menggema ke seluruh penjuru dunia bawah. Barangkali dewa itu terkejut dengan permintaan Orpheus yang semakin berani menentang kuasanya. "Apa kau mengerti apa yang kau minta?" tanya Hades.
Ternyata mencintai Orpheus selama hampir dua tahun tidak cukup untuk membuatku benar-benar memahami caranya mencinta. Melabuhkan kisah kami di dalam sebuah lagu ternyata hanyalah perkiraan kecil dariku—sebuah kesalahpahaman tentang betapa keras kepala hatinya. Namun anehnya aku tidak tersentuh. Mengetahui bahwa ia bahkan berani menentang dunia justru membuatku merasa bahwa cintaku sendiri adalah sebuah kesalahan.
Orpheus kembali menegakkan punggungnya, ia mengangguk dengan keyakinan yang menurutku keliru. "Jika dunia atas tidak lagi memiliki dirinya, maka dunia itu juga tidak lagi memiliki aku.”
Dan jawaban itu membuat sesuatu di dalam dadaku runtuh.
Aku ingin berteriak bahwa ia salah. Bahwa dunia atas masih memiliki langit yang luas, angin yang hangat, dan cahaya yang dulu selalu menyinari wajahnya ketika ia bercinta dengan liranya di bawah pohon zaitun. Aku ingin mengatakan bahwa dunia itu masih memerlukan Orpheus, setidaknya untuk menemani langit yang mungkin suatu hari nanti akan kembali belajar memerah.
Namun, sekali lagi aku hanyalah arwah yang tidak memiliki suara.
Hades terdiam cukup lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun. Lalu akhirnya ia berkata dengan nada yang tidak bisa dibantah oleh makhluk mana pun. “Tidak ada manusia hidup yang boleh tinggal di dunia kematian.”
Itu adalah hukum mutlak, sebuah aturan yang tidak mungkin bisa untuk dilanggar. Namun Orpheus tidak bergerak. Punggungnya tetap tegap, seolah sikap itu cukup untuk memaksa Hades memahami keinginannya. Maka Hades melanjutkan, "dan tidak ada pula yang boleh menukar hidupnya hanya demi menentang hukum dunia. Hiduplah hingga kau mencapai batasmu, jangan membuat kekacauan di duniaku."
Namun Orpheus masih sangat keras kepala, ancaman Hades sama sekali tidak menggentarkan keyakinannya yang semakin keliru. "Jika masalahnya hanya karena aku masih hidup, maka aku bersedia untuk mati."
Kalimat itu kali ini benar-benar menyentakku. Bagaimana bisa Orpheus berpikir seperti itu?
Hingga entah bagaimana caranya, kali ini aku bisa berdiri di sebelah kuasa Hades, menatap nanar pada Orpheus yang terkejut. Ia mencoba meraihku, tetapi kami memiliki sekat yang tidak akan bisa ia tembus. Ia nampak putus asa, begitu pula dengan aku yang mencoba untuk membuatnya menyerah. "Jangan jadikan cintaku sebagai alasan untuk kau menentang dunia," kataku, "jangan egois, Orpheus. Aku mohon dengan sangat, berlapang dadalah pada takdir, jangan ubah cinta tulusku menjadi sesuatu yang kotor."
Orpheus membeku di tempatnya berdiri. Tangannya yang terulur ke arahku perlahan jatuh, seolah sesuatu yang tak kasatmata baru saja memotong kekuatannya. Anak sungai mengalir di pipinya, dan itu berhasil membuat sesuatu di tubuhku yang sudah berhenti berdetak kembali merasakan sakit. “Aku mencintaimu, Orpheus. Karena itu, aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan hidupmu demi sesuatu yang bahkan tidak boleh dimiliki oleh dunia ini.”
Ia menatapku lama. Mata yang dulu penuh cahaya itu kini dipenuhi oleh harapan dan keputusasaan yang saling berebut tempat. "Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya. Kali ini punggungnya benar-benar roboh.
Aku terdiam sesaat. Jawaban apa yang harus kuberikan padanya, sementara aku juga tidak tahu bagaimana seharusnya seseorang hidup setelah kehilangan separuh jiawanya. Tidak akan ada lagi ketegaran pada seseorang yang putus asa, kecuali ia kembali menemukan cahayanya.
"Kenang aku dalam lagumu," kataku akhirnya, "cintaku bermula dari dirimu yang sangat indah saat bermain lira. Maka simpan aku di sana, jadikan setiap petikanmu sebagai pertanda untuk cintaku yang sempurna. Lalu, biarkan aku tetap tinggal di sini sebagai kenangan yang tidak bisa kau sentuh,” kataku lagi.
Sebab jiwa yang hidup dan yang mati selamanya akan terus bertentangan, tetapi cintaku akan selalu hidup membersamai setiap langkahnya.
Namun Orpheus nampaknya masih tidak terima, dan Hades pun nampaknya sudah mencapai pada puncak kesabaran. Sebelum Orpheus melahirkan keyakinannya yang baru, Hades mengirimnya kembali ke dunia atas, dunia untuk makhluk yang masih hidup.
Ia menghilang begitu saja di antara cahaya yang kini memudar. Dan sunyi kembali mengambil alih tempat ini, seolah tidak pernah ada manusia yang berani datang untuk menantang hukum kematian demi seorang nimfa yang telah hilang dari dunia.
Dan sejak hari itu, jiwa-jiwa yang baru tiba di sini selalu membawa kabar tentangnya. Mereka berkata Orpheus kembali berjalan di dunia atas seperti seseorang yang kehilangan arah. Ia masih memanggul liranya ke mana pun ia pergi, seperti dulu ia memanggul separuh jiwanya, tetapi kini musiknya berbeda.
Mereka berkata bahwa setiap kali jemarinya menyentuh dawai, lagu yang lahir tidak lagi bercerita tentang musim semi, atau tentang anggur yang melimpah di bawah matahari. Semua nadanya hanya bercerita tentang aku—seorang nimfa yang tidak lagi berada di dunia yang sama.
Sejak saat itu, dunia atas masih memiliki Orpheus, tetapi musiknya tidak pernah lagi memiliki nada yang sama. Musik Orpheus berubah menjadi melodi putus asa yang menggema di dua dunia. Dan aku menjadi arwah yang turut menangis di setiap gemanya.
Medan, 20 Februari 2026
Catatan kaki:
Nimfa: makhluk perempuan dalam mitologi Yunani
Lira: alat musik peti kuno Yunani
Kisah Orpheus dan Eurydice berasal dari mitologi Yunani. Orpheus adalah musisi dengan lira yang mampu memikat alam dan makhluk hidup, sedangkan Eurydice adalah nimfa yang menjadi istrinya. Pada hari pernikahan mereka, Eurydice meninggal karena gigitan ular. Orpheus turun ke dunia bawah dan memohon kepada Hades agar mengizinkannya membawa Eurydice kembali. Permohonannya dikabulkan dengan syarat ia tidak boleh menoleh sebelum tiba di dunia atas. Namun, karena ragu, Orpheus menoleh dan Eurydice pun hilang untuk selamanya.

0 Komentar