DI AMBANG TATAPAN - Utari Ranu

Cerpen Naskah Terpilih
Event Benang Bahasa Mythic Romance

DI AMBANG TATAPAN
Karya: Utari Ranu


"Panas merambati dinding, meredam ruang semadiku, udara dicemari pengap, wabah mengepung seonggok tubuh pasrah, dan kini demam telah menyusup ke pori-pori dada.

Nama-nama di luar berguguran satu persatu, layaknya daun kering ditunggangi buhul tarikan bumi.

Aku menulis agar tak lesap dari edaran, menorehkan segenap sunyi yang selalu luput dikenang.
Bilamana wajah kematian itu datang--
akan kubiarkan dengan sukacita, membawa kecup paling rela.

Lalu duduklah di hadap diamku, kan kupejamkan mata selayaknya menyambutmu sebagai kekasih yang dipilih nadir.

Tiadalah aku meminta hidup lebih lama, jikalau pertemuanku ini adalah terakhir kali untuk sempurna."

Ennamu meletakkan batang alang-alang yang setia menuliskan puisi-puisinya di atas tanah liat pipih. Udara yang terlalu panas mengusik tidurnya yang tak pernah mampu melelapkan meski sekejap.

Kain linen tipis yang melekat di tubuh Ennamu kusam oleh keringat dan debu. Warnanya pernah terang—entah putih atau gading—kini samar, seperti ingatan yang terlalu sering disentuh. Di beberapa bagian sedikit berubah warna dan menempel di kulit yang basah. Ennamu tak lagi mampu menahan ketidaknyamanan oleh keringat tubuhnya.

Rambut panjang yang dikepang sudah kehilangan bentuk. Sebagian terlepas dari kepangan dan menempel di lehernya yang lengket.

Kemarau kali ini luar biasa menggila. Matahari seperti sedang melampiaskan murka. Bahkan tatkala siang usai melepas jubahnya, malam seolah-olah telah kehilangan dingin.

Ennamu bangkit dari kursi, lalu melangkah menuju jendela. Perlahan tangannya membuka jendela dan membiarkan udara luar menyeruak masuk. Ia mematung sejenak sambil memejamkan mata, menikmati embusan angin malam yang memberinya sedikit kesejukan.

Tatkala Ennamu membuka mata, tatapannya tertumbuk pada sosok berjubah yang berdiri mematung di luar. Ia tak bisa menebak siapa itu. Cahaya bulan temaram tak cukup membuatnya tampak jelas. Ia hanya bisa melihat sosok itu adalah seorang pria.

Ennamu berusaha memandang wajahnya ketika angin malam sedikit menyibak jubah yang melindungi kepalanya. Sepasang mata setajam elang bertemu pandang dengannya. Pria itu mengukir senyum tipis sangat singkat, membuat jantung Ennamu berdegup lebih cepat.

Samar-samar Ennamu melihat sosok itu mengangkat tangan seperti ingin melambai padanya, tetapi urung. Sepasang tangannya lalu bersedekap setelah merapikan kain penutup kepalanya hingga wajahnya tak lagi tampak oleh Ennamu. Keduanya mematung, saling tatap dalam gelap yang menyamarkan pandangan.

Kehadiran sosok itu selayak oase di padang tandus. Ada denyut hidup yang menyapa halus jantungnya, meskipun ia merasakan hawa panas yang asing. Tiadalah sosok itu memberi Ennamu rasa takut atau terancam karena ia hanya diam.

Senyum tipis meski hanya sekilas bagi Ennamu terbaca sebagai isyarat ia tak membahayakan. Justru ia merasakan keintiman yang menjelma tiba-tiba. Seumpama bersua sosok dalam kehidupan sebelumnya. Dalam satu debaran dada, Ennamu mengulas senyum. Singkat, tapi cukup nyata terlihat.

Ennamu memandang bulan separuh yang menggantung di langit, mirip piring pucat yang retak dan tinggal sebelah. Sejenak ia terpana, tepat kala telinganya menangkap bisikan samar memanggil namanya. Spontan ia berpaling ke arah sosok berjubah yang tiba-tiba melangkah pergi.

Langkah-langkah panjang membawa sosok misterius itu menjauh, menyatu dengan gelap yang tak lagi memantulkan bayangan.

Ada hampa yang tiba-tiba mengisi dada Ennamu. Hawa panas yang asing perlahan berkurang, menyisakan udara panas dan pengap yang membuatnya jenuh. Ennamu tetap berdiri, seolah-olah sebagian dirinya ikut terbawa pergi.

Di luar tembok istana, Nergal sekali pun tak menoleh kembali meski pertemuan itu telah lama dinantikannya. Sungguh-sungguh lama. Semenjak ia tahu ada seorang penyair istana yang menuliskan puisi tentangnya dengan pandangan yang berbeda.

Nergal telah lama berdiri di antara kota-kota yang membusuk, menyaksikan manusia saling menuding langit ketika tanah mereka sendiri retak oleh kelalaian. Wabah selalu dipanggil dengan namanya, seolah-olah ialah satu-satunya penyebab, padahal manusia telah menanam benih kehancuran jauh sebelum ia datang memanen.

Namun, Ennamu sungguh berbeda. Dalam tubuh yang terbakar demam, ia tak mengutuk, tak pula menawar nasib. Ia terus menulis—seakan-akan memahami bahwa kematian bukanlah musuh, melainkan akibat. Kekaguman itu bertumbuh diam-diam dalam diri Nergal, bukan sebagai hasrat untuk memiliki, melainkan satu penghormatan yang jarang ia berikan kepada manusia mana pun. 
 
Nergal sangat paham, kekaguman tiadalah mampu mengubah hukum. Kota-kota tetap akan runtuh, tubuh-tubuh tetap terlahap demam, dan namanya akan terus disebut dengan kebencian. Ia tahu dan telah lama menerima itu.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia berjalan sambil membawa sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya: kesaksian bahwa seorang manusia mampu menatap kematian tanpa sebuah tuduhan.

Sekian lama Ennamu terjebak dalam kesendirian di ruang tempat tinggalnya, di satu sudut istana. Wabah yang tak kenal kasta melanda kota-kota hingga menyelinap ke istana.

Ennamu pun ikut terpuruk didera wabah. Ia hanya bisa mengurung diri di ruangannya, menghabiskan waktu di pembaringan dan membunuh jenuh dengan menulis puisi.

Sesekali tabib datang memeriksa dan memberinya ramuan obat. Ramuan yang baginya tak lebih dari sekadar cairan penambah pahitnya derita. Sakit tiada kunjung reda, justru terkadang ia merasa mual usai meminumnya. Tabib hanya mengatakan itu efek ramuan, tak mengapa. Ennamu pun tak mempermasalahkannya.

Ennamu merasa waktunya tak lama lagi. Ia yakin akan kalah tersebab wabah. Alih-alih mengutuk Nergal sebagai dewa wabah dan menyalahkan istana yang memicu lahirnya wabah, ia berusaha mengatur agar kematiannya nanti datang dengan indah.

Ia sungguh-sungguh mengingat tatkala raja mengerahkan pasukannya untuk melenyapkan para pemberontak di salah satu wilayah kekuasaannya tepat ketika tengah malam tiba. Wilayah yang bersebelahan dengan sungai itu dikepung pasukan kerajaan, lalu dalam sekejap mereka menghabisi para pemberontak yang kalah jauh dalam jumlah dan tak siap dengan serangan mendadak. Tak lama kemudian, mayat-mayat bersimbah darah bergelimpangan. Jerit dan tangis ketakutan memenuhi udara malam.

Ketika sebuah komando terdengar, para prajurit bergerak cepat, lalu tak lama kobaran api muncul di mana-mana. Dalam sekejap wilayah itu menjelma lautan api.

Namun, tiba-tiba hujan turun dan membuat para prajurit segera kembali. Bagi mereka, tunai sudah tugas yang diemban.

Setelah berminggu-minggu berlalu dari peristiwa itu, orang-orang yang tinggal tak jauh dari wilayah itu mulai sakit dan meninggal. Ada wabah yang mulai menyebar lewat air yang tercemar, hingga puncaknya wabah itu sampai ke istana ketika musim kering menyapa.

***

Demam kembali naik menjelang tengah malam. Kali ini lebih pelan, lebih tekun, seolah-olah tubuh Ennamu sedang diuji batasnya sedikit demi sedikit. Ia terbangun dengan napas berat dan tenggorokan kering. Namun, yang lebih mengganggunya adalah perasaan kehilangan yang tak mampu dinamainya.

Ia bangkit dari pembaringan, menatap jendela yang tertutup. Udara malam masih terasa panas dan menyiksa. Ada panas lain yang ia cari-cari dalam ingatan—panas asing yang sempat singgah tanpa membakar.

Ennamu merapikan baju dan rambut panjangnya, lalu berjalan menuju jendela. Ia terpaku sedetik sambil menutup mata. Dadanya sedikit bergemuruh. Perlahan ia membuka mata sambil mendorong daun jendela.

Matanya menyapu pemandangan di luar jendela.

Ia menghela napas dalam-dalam, lalu mendesah. Binar matanya meredup. Bibirnya mengatup rapat. Pandangannya tertahan pada tempat di mana pertama kali sosok misterius berjubah itu terlihat. Tak ada siapa pun di luar sana.

Hampa di dadanya mengembang—hampa yang sungguh ganjil. Bagaimana bisa ia merasa hampa kala tak mendapati sosok yang bahkan tak pernah ia kenal?

Ada yang tak beres dengan dirinya. Ia sungguh yakin demam dan sakitnya belumlah cukup menggerogoti kewarasannya. Ennamu beranjak ke kursi tempatnya biasa menulis puisi. Beberapa teguk air membasahi kerongkongannya sebelum ia mengambil batang alang-alang di mejanya.

Hari-hari selanjutnya waktu seolah-olah merangkak lebih pelan. Pagi terbit tanpa janji pulih, malam turun tanpa harapan sembuh. Demam Ennamu semakin tak menentu—kadang melonjak tiba-tiba, kadang juga hangat merayap. Demam itu menetap di kulit, di tulang, dan di belakang mata. Tubuhnya terasa lengket oleh panas sendiri, seakan-akan ia memanggul musim kering ke mana pun ia pergi.

Kadangkala Ennamu ingin sekali mandi, tetapi ketika air menyentuh tubuhnya, ia sering menggigil tiba-tiba dan seakan-akan kehabisan tenaga. Ia pun urung mandi. Selain itu, ia sendiri merasa harus sangat berhati-hati menggunakan air bersih yang semakin sulit didapat.

Ennamu mulai sering menggigil kala terbangun di pagi buta atau saat petang menjelang. Bahkan, ketika terik matahari mencapai puncaknya atau tengah malam yang semestinya dibuai mimpi.

Tubuhnya yang ramping semakin ringkih dan kurus. Tangan yang dulu ringan dan cekatan kini sering gemetar meski sekadar untuk mengikat rambut. Mulutnya pahit. Selera makan menguap.

Namun, ada satu kebiasaan baru yang tak pernah ia tinggalkan. Setiap tengah malam ia terjaga, lalu membuka jendela dan menatap keluar, berharap melihat sosok misterius itu lagi.

Bahkan, puisi-puisi Ennamu kini lebih banyak menceritakan tentang sosok itu. Seluruh isi kepalanya hanya tentang dia.

Di dalam istana yang megah pun mulai berubah. Wangi dupa dan bunga kering berganti aroma campuran ramuan obat, keringat, dan air yang disimpan terlalu lama.

Istana pun merintih sakit. Beberapa kamar ditutup. Beberapa tirai tak lagi dibuka, seolah-olah semua pantang untuk dipandang. Nama-nama disebut dengan nada lebih rendah, lalu hilang dari percakapan. Seorang pelayan kerajaan pingsan saat jam makan. Dua hari kemudian, ranjangnya kosong. Tak ada pengumuman. Tak ada upacara.

Istana mulai meninggalkan ritual-ritual yang sebelumnya dianggap sakral. Keadaan darurat menjadi alasan utama selain banyak ritual yang memang terlupa akibat sibuk bertahan dari wabah. Tak ada lagi yang membuka tirai pada jam tertentu di malam hari agar roh malam tahu jalan pulang. Tak ada lagi dupa khusus yang dibakar di ambang pintu. Istana telah melanggar adatnya sendiri.

Air menjelma harta yang paling berharga. Tempayan haram diisi penuh. Pelayan-pelayan berdiri lama di depan sumur, menunggu ember terisi perlahan. Wajah-wajah tegang tenggelam dalam diam. Tak ada senyum pun sapaan.

Dalam ketidakberdayaan, Ennamu masih berusaha menghemat air. Setiap teguk terasa seperti dosa mencuri dari mereka yang lebih membutuhkan.

Malam-malam terasa lebih panjang. Ennamu sering terjaga berkali-kali, bermandi keringat, dada sesak bak terinjak, napas pendek. Ada kalanya ia merasa ada sosok yang berdiri di samping pembaringannya. Bukan bayangan, bukan pula mimpi. Hanya kehadiran asing yang menjadikan udara di sekitarnya terasa lebih berat. Namun, ketika ia membuka mata, ia hanya mendapati dirinya sendiri.

Kini hal yang paling menyiksanya bukanlah derita tersebab wabah, melainkan pasal ingin tahu yang terus hadir mengganggu tanpa kenal waktu. Bila memang itu hanya khayalan, mengapa ia datang dengan ketenangan?

Bila ia adalah dewa kematian, mengapa tak langsung saja mengambil nyawanya? Mengapa harus menunggu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berjejalan, menggerogoti pikirannya lebih kejam daripada demam. Mungkinkah ini pertanda ajal yang ditunda? Atau ujian yang tak ia mengerti aturannya? Ah, sialnya ia tak pernah menemukan jawabannya sendiri. Ia meraba pergelangan tangannya—terlalu kurus, denyutnya lemah tetapi masih ada. Tubuhnya jelas belum menyerah. Jiwanya pun belum siap dilepas.

Namun, ia tahu, istana di sekelilingnya runtuh pelan-pelan. Ketakutan menyusup ke lorong-lorong sunyi dan dinding batu. Dan di tengah semua itu, Ennamu justru merasa seperti dipanggil—bukan untuk pergi, melainkan untuk menghadap.

Malam itu, sambil duduk lemah di kursi tulisnya, ia menyadari sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat: yang paling ia takuti bukanlah mati, melainkan jika sosok itu datang bukan untuk menjemputnya, tetapi karena istana ini sedang menuju sesuatu yang jauh lebih buruk, dan ia, entah bagaimana, terlibat di dalamnya.

***

Nergal menjaga jarak. Ia memahami pasal yang tak pernah diajarkan kehancuran: bahwa kehadiran pun mampu memberi luka. Bahwa diam yang terlalu dekat akan menjadi beban bagi tubuh yang rapuh.

Satu kemunculannya sebagai sosok berjubah di depan Ennamu dianggapnya cukup. Meskipun ia tahu dirinya pun Ennamu sungguh sangat menginginkan pertemuan itu.

"Wabah ini sudah cukup memberinya siksa. Aku tak perlu menambahkan deritanya," gumam Nergal dengan bibir bergetar.

Ia menyaksikan demam Ennamu berulang seumpama gelombang yang tak pernah benar-benar surut.

Tubuh perempuan itu merespons ketiadaan Nergal dengan cara yang tak terduga. Ia seperti menikmati sakitnya. Namun, puisi-puisinya mendadak sunyi. Kata-katanya memendek. Jarak antarbaris melebar, seakan-akan ia memberi ruang bagi sesuatu yang tak lagi datang. Dan untuk pertama kalinya, Nergal merasakan rasa bersalah tanpa saksi.

Nergal tahu waktunya segera tiba. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang menolak mengambil jiwa Ennamu.

***

Nergal baru saja kembali dari dunia manusia. Udara Irkalla yang selalu dingin dan hampa seumpama debu kubur menyambutnya.

Ereshkigal, istrinya sekaligus ratu kematian duduk di singgasana yang diukir dari batu hitam. Ia menatap wajah Nergal tanpa berkedip. "Engkau lama di dunia atas." Suaranya terdengar lembut, tetapi terasa tajam menghujam dada Nergal.

Hening. Nergal hanya mematung.

"Jiwa-jiwa datang lebih banyak akhir-akhir ini. Wabahmu bekerja dengan baik."

Nergal memandang lantai batu berwarna gelap yang dingin.

"Tetapi … ada satu yang belum kau ambil," katanya dengan tenang.

Dada Nergal terasa menghangat dan berat.

Ereshkigal tersenyum tipis, lalu melanjutkan, "Seorang penyair wanita."

Nergal mengangkat dagu, menatap istrinya dengan sebertik ragu.

"Engkau mengawasinya," kata sang ratu. "Aku bisa merasakan matamu di dunia manusia."

"Dia … dia sungguh berbeda."

"Semua manusia berbeda bagi diri mereka sendiri."

"Dia tidak mengutukku."

Ereshkigal menatap Nergal lekat-lekat seolah-olah ingin menelanjangi pikiran dan hati suaminya. Pandangan selayak hakim yang menimbang keseimbangan semesta sekaligus curiga.

"Justru itulah yang berbahaya bagimu," ucap Ereshkigal pelan. "Manusia yang tidak membenci dewa wabah bisa membuat dewa lalai akan tugasnya."

Hening sesaat.

"Setiap jiwa yang mati harus datang ke kerajaanku. Bahkan penyair yang menulis kematian dengan indah."

"Aku hanya ingin memberinya sedikit waktu lagi."

Ereshkigal sedikit terkesiap, tetapi segera menguasai diri.

"Waktu bukan milikmu. Bahkan para dewa meminjamnya." Ereshkigal terdiam sesaat. "Engkau dewa wabah. Tapi mengapa malam ini engkau bicara selayaknya manusia?"

***

Tubuh Ennamu tak lagi menggigil. Panas kini tinggal selayak penghuni lama yang menyatu dengan dirinya. Kulitnya kering, bibirnya pecah, dan matanya layu.

Tabib datang lebih jarang. Tak ada lagi yang perlu diamati dalam penyerahan diri Ennamu. Ramuan hanya membuatnya tidur sejenak, lalu terbangun dengan kesadaran yang semakin terkikis.

Namun, ada satu hal tetap utuh: keinginan Ennamu untuk menulis. Tangannya gemetar meraih batang alang-alang. Setiap tarikan napas adalah sebentuk keputusan. Ia tahu ini bukan malam sembuh. Ia juga tahu ini bukan malam panik. Ini adalah malam yang tenang untuk pulang.

"Tiadalah kita pernah saling kenal,
tiadalah pantas kusebut rindu 
pada rasa menggebu yang terus menyeru bertemu.

Senyumanmu tinggal di kepala,
tanpa nama, tanpa kata.
Namun cukup merenggut rasa.

Waktuku tak lagi bersisa,
sungguh kuingin kau menatapku sekali saja,
hanya agar aku usai tanpa bertanya."

Puisi itu menghantam Nergal laiknya bintang jatuh. Ia runtuh oleh sesuatu yang tak pernah diberi nama dalam hukum: sesal yang tak punya jalan pulang. Tiadalah Ennamu meminta hidup, hanya satu tatapan, dan justru itulah yang tak sempat ia berikan. Di hadapan baris-baris yang selesai tanpa marah, Nergal mengerti bahwa ia telah setia pada aturan, tetapi gagal pada satu hal yang tak bisa diulang: hadir ketika masih ada yang menunggu.



Trenggalek, 20 Februari 2026

Catatan kaki: 
Nergal: dewa kematian dan wabah dalam mitologi Mesopotamia, penguasa dunia bawah yang jarang muncul namun selalu menuntut keseimbangan antara hidup dan mati.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Wah, tepuk tangan dulu sebelum berkomentar. Naskah ini begitu dalam dan gelap. Puisi pada opening, kurasa lebih dari sekadar puisi. Ia seperti syair mantra yang terlantun dari jiwa yang patah dan pasrah. Begitu dingin dan nrimo: tanpa tuntutan, tanpa elakan.

    Aku sangat suka penggambaran pada paragraf kedua setelah puisi opening. Begitu nyata dan penuh perasaan. Paragraf-paragraf selanjutnya dirangkai dengan pemilihan diksi setara yang konsisten.

    Sudah lama rasanya aku gak baca karya yang memuaskan dahaga seperti ini. Selamat, empat jempol untuk penulisnya.

    BalasHapus