ASMARANDANA SANG KINASIH - Min Mika

Cerpen Juara 2
Event Benang Bahasa Mythic Romance

ASMARANDANA SANG KINASIH
Karya: Min Mika


Drrrt!

Sebuah panggilan tak terjawab berjejak di ponsel Jati yang sedang asyik menikmati oseng-oseng mercon, menyusul sebuah pesan tak terduga dari kontak yang dia beri nama Kinasih. Buru-buru Jati menenggak air putih yang ada di hadapannya, lalu dia membaca pesan WA, “Jati tolong aku.”

Hampir saja Jati tersedak, seketika pikirannya kacau. Dia segera menekan ikon memanggil di layar HP-nya demi memastikan perempuan yang pernah mengisi hatinya itu baik-baik saja. Jeda nada dering telepon yang belum diangkat semakin merisaukannya. Ada apa? Kemalangan apalagi yang membuat Gendis meminta tolong kepadanya? Setumpuk tanya berkelidan di benaknya.

“Halo nDis, kamu baik-baik saja? Kamu di mana?” Jati memberondong Gendis dengan pertanyaan bertubi-tubi tanpa jeda.

“Emm, anu Jat, bentar, sabar. I’m literally fine. Aku tunggu di tempat biasa, ya.”

Tanpa menyelesaikan makannya Jati segera memelesat ke arah Selasar Malioboro, tempat biasa mereka nongkrong sejak masih sama-sama kuliah di ISI.

Lampu merah di perempatan Titik Nol memaksa Jati menghentikan motornya. Semilir angin dari Jalan Jend. Ahmad Yani mengaburkan pemandangan lalu lalang pendatang yang mulai memadati salah satu ikon Jogja yang tidak boleh dilewatkan apabila sedang melancong ke kota gudeg ini. Sesaat angan Jati mengembara kembali di hari pertama bertemu Gendis. Hari itu GESPER hari terakhir, seperti biasanya sebagai penutup rangkaian acara Gelar Seni Pertunjukan Rakyat anak Teater tampil dan hari itu Jati yang ditunjuk menjadi penanggung jawab para penampil mengambil topeng hasil karya anak Kriya. Jati tertegun melihat seorang perempuan yang sangat lihai memainkan pisau walinya untuk memberi detail topeng kayu yang sedang dikerjakannya.

“Permisi, saya Jati dari Teater mau ambil topeng untuk penampil.”

“Oh, iya. Itu di kardus bawah meja ya.” Perempuan ayu berkulit sawo matang itu hanya melihat sekilas kepadanya, dia meletakkan garapannya dan segera berdiri untuk mengangkat kardus yang dimaksud. “Ini,” lanjutnya sambil menyodorkannya kepada Jati yang justru terpaku dengan topeng yang ada di meja.

“Eh, iya. Terima kasih.” Setengah tergagap dia menerima kardus itu, “Yang itu topeng apa?” ucapnya penasaran.

Detik selanjutnya Jati terpukau pada perempuan yang lugas menceritakan Panji sosok di balik topengnya. “Betewe namamu siapa? Kita belum kenalan.”

“Aku Gendis.”

“Dan aku Panji, eh, Jati. Mari kita berteman.” Tanpa permisi Jati sudah menjabat tangan Gendis yang baru saja menyimpan pisau wali ke dalam pethitnya.

Tin! Tin!

Suara klakson menyadarkan lamunan Jati. Segera dia melajukan motornya lurus membelah jalanan Malioboro dengan perasaan khawatir tak menentu. Lalu, gerimis pun mulai jatuh satu per satu tepat setelah Jati memarkir motornya di area parkir angkringan yang lebih dikenal dengan kopi Josnya.

Jati mengibas titik-titik air yang menempel di jaketnya, dan saat dia menyugar rambutnya matanya tertumbuk ke pemandangan yang sangat tak dinyana. Perempuan yang pernah membuat dirinya kehilangan arah tersebab dia Wong Kalang dan Jati keturunan Abdi Dalem itu sedang duduk menghadap ke pintu dengan tatapan kosong, Gendis merokok.

“Hai Jati, apa kabar?”

Gendis mematikan rokoknya lalu menghambur ke pelukan Jati membuatnya terhuyung karena kaget. Dia hampir tidak mengenali Gendis yang ada di hadapannya sekarang, wajahnya kuyu meski dipoles make-up tebal berbeda dengan sosok yang dikenalnya sebelum hari kehancurannya dulu.

Kemudian, sambil menikmati mie nyemek Gendis menceritakan takdir buruknya. Selepas pesta pernikahannya, Gendis diboyong Satria—suaminya—ke Prancis. Awalnya Gendis merasa beruntung memiliki suami yang pengertian mengizinkannya melanjutkan S-2 demi cita-citanya mengangkat warisan leluhurnya Wong Kalang, Gendis akan membawa kerajinan perak dan kayu ke kancah internasional.

Ternyata kepiawaian Gendis justru dimanfaatkan Satria untuk mendapatkan tender besar dari koleganya di KJRI. Awalnya bagi Gendis itu bukan masalah besar selama memberikan keuntungan untuk suaminya, tetapi justru yang membuat Gendis marah karena idealisme Gendis dalam berkarya dirampas karena semua karya yang dipesan harus sesuai arahan Satria, bukan murni dari ide kreatifnya.Puncaknya ketika Gendis memergoki Satria membawa perempuan di bussiness trip, yang diakui sebagai sekretarisnya padahl Gendis tahu siapa sekretaris kantor suaminya.

“Aku kesal, Jat. Aku mogok dan menyabotase produksi perhiasan perak kami. Satria murka dan memukuliku semaunya,” ucap Gendis mulai terisak.

Amarah Jati tersulut, dia mencengkeram erat kursi kayu yang didudukinya. Terlintas di benaknya betapa bahagianya Gendis malam itu saat dia memberikan undangan pernikahannya bersama kotak beludru biru berisi sebuah kalung perak dengan liontin buah Jati yang dinamai Kinasih. Hal itulah yang membuat Jati merelakannya pergi tanpa sempat menyatakan isi hatinya.

Gendis tidak pernah tahu bahwa kepergiannya telah menorehkan lubang menganga di hatinya. Berbulan-bulan Jati menjalani hidupnya dalam kesuraman. Bahkan wejangan dari Simbok bahwa sebagai keturunan Wong Kalang, Gendis tidak akan diizinkan berhubungan dengan Abdi Dalem mengingat luka masa lalu Wong Kalang yang dimarginalkan oleh kalangan bangsawan Keraton Jogja, pun tidak digubrisnya.

Kalung Kinasih pemberian Gendis justru semakin melilit jiwanya sampai membuat Jati kehilangan kesadaran. Dia mulai menjauh dari kehidupan semestinya. Hingga pada suatu malam purnama, tanpa dia sadari Jati berjalan menyusuri labirin Gedhong Parikesit menuju Sumur Gumuling.

Di remang-remang Sumur Gumuling, Jati bertemu dengan sosok Ki Lurah Praja Suwarno—Abdi Dalem Gaib—yang terpanggil karena kalung Kinasih yang menggantung di leher Jati. Seketika tubuh Jati menegang, dadanya sesak seperti sedang dipeluk erat oleh sesuatu yang sangat besar.

Gegaraning wong akrama
Dudu bandha dudu rupa…

Tiba-tiba sebuah tembang Asmarandana yang bertutur “Jika bukan harta dan rupa, lalu apa yang memisahkan mereka?” mengalun syahdu menjadikan suasana kian mencekam.

Wujud pucat Ki Lurah Praja Suwarno berkelebat mendekat nyaris tanpa suara.

“Apa yang kau sesali, Jati?”

Jati bergeming takjub. Selama ini dia hanya mengenal leluhurnya itu lewat dongeng simboknya yang nyaris tak pernah dia percaya.

“Uripmu wis ginaris, Le. Kowe ora bisa selak.”

Jati hanya terpekur dalam simpuhnya saat Ki Lurah Praja Suwarno menjelaskan asal-usulnya, bahwa garis hidupnya sudah ditentukan dan tidak bisa dihindari lagi. Berhari-hari Jati bertapa sambil sesekali mendengar wejangan dari sesepuhnya itu, Jati mulai mengerti mengapa Simbok tidak pernah bicara siapa bapaknya. Justru dari Ki Lurah Praja Suwarno yang dulunya Abdi Dalem kesayangan Pangeran, Jati tahu siapa bapaknya yang pantang disebut oleh wong cilik. Itulah sebabnya hubungan asmara antara dia dan Gendis mustahil terjadi.

Setelah menyadari bahwa penolakan bukan dari pihak keluarga Gendis, Jati dijaga oleh kekuatan leluhurnya agar tidak melahirkan darah campuran dari dua kubu yang sudah berseteru sejak zaman nenek moyang mereka, batin Jati menjadi legowo. Semakin hari dia merenung, jiwanya pulih, terlahir kembali dengan sumpahnya bahwa dia akan menjadi abdi dalem lajang seumur hidupnya.

“Aku lelah, Jat. Rasanya ingin kembali ke masa itu, saat segalanya terasa sederhana dan bahagia.” Ucapan lirih Gendis menyadarkan Jati kembali.

Jati menatap Gendis bimbang. Batinnya bergejolak lagi setelah bertahun-tahun bisa lepas dari ikatan kalung Kinasih, mengapa malam ini mendadak goyah.

“Yuk, temenin aku jalan, ya,” ajak Gendis setelah membayar tagihan makan malam mereka.

Gendis masih seperti dulu menjadi superior bila bersama Jati, dan Jati pun membiarkannya sebab dia tahu hal itu yang membuat nyaman Gendis di sisinya.

“Jati, kamu jangan salah paham, ya. Kedatanganku kembali ke sini bukan untuk menarikmu dalam kerumitan hidupku,” bisik Gendis lirih saat mereka berdua sudah duduk di bentor menuju alun-alun kidul another favorite place-nya Gendis saat kuliah.

“Aku tahu betapa jahatnya perbuatanku kepadamu, Jat,” lanjutnya.

Jati hanya terdiam, pikirannya kosong, justru saat bentor yang mereka tumpangi melewati pohon beringin purba di alun-alun telinganya mendengar kidung Asmarandana mengalun lirih.

Ananging adat kang jumeneng
Ngiket rasa lan janji
Tresna tetep dadi gegaran
Tan kena tinumbas arta

Seolah-olah mengingatkan Jati bahwa adatlah yang bertahta mengikat rasa dan janji, meskipun terkadang cinta menjadi penyebab yang tak terbayar dengan harta. Jati kembali ke alam sadarnya bahwa mereka berdua bisa sama-sama bahagia tanpa harus saling memiliki.


Selesai



Jababeka, 20 Februari 2026

Catatan: Asmaradana adalah salah satu tembang Macapat
Cerpen ini mengambil 2 mitos dari Yogyakarta yaitu:
Wong Kalang mitosnya bahwa asal-usul mereka berkaitan dengan legenda anjing sakti dan kabarnya keturunan Wong Kalang memiliki ekor, sehingga mereka dikucilkan dan menjadi masyarakat terpinggirkan.

Abdi Dalem Gaib adalah salah satu aspek paling mistis dalam kosmologi Keraton Yogyakarta yang dipercaya sebagai mahluk halus yang "mengabdi" atau menjaga stabilitas spiritual kerajaan.


Posting Komentar

0 Komentar