KAKAWIN YANG TERLARANG - Mas Matahari

Cerpen Juara 3
Event Benang Bahasa Mythic Romance

KAKAWIN YANG TERLARANG


Di tanah antara Golan dan Mirah, waktu berjalan seperti kerbau tua yang lamban, berat, dan hafal jalan pulang menuju luka yang sama. Orang-orang desa menanam padi sekaligus memupuk cerita, mereka menuai panen sekaligus dendam yang diwariskan. Tanah itu subur oleh hujan musiman, tetapi tandus oleh ingatan luka yang tak pernah sembuh.

Sawah-sawah hijau seperti permadani yang robek di tengah, dibelah sungai yang tak pernah lelah mengalir. Sungai itu, meskipun tidak lebar, tetapi cukup dalam untuk menenggelamkan pemuda-pemudi yang terlalu berani saling melempar cinta. Airnya jernih, tetapi ingatan manusia lebih keruh dari dasar lumpur. Di tepiannya, batu-batu besar berdiri menjadi saksi bisu, diukir angin dan waktu, menjadi bentuk-bentuk aneh yang orang-orang tafsirkan sebagai peringatan.

Tak ada yang benar-benar tahu kisah mulanya. Hanya sebuah larangan yang terus tumbuh seperti pagar bambu: semakin tinggi, semakin rapuh, semakin ditakuti. Anak-anak diajarkan sejak kecil untuk tidak menyeberang sungai, dan tidak membiarkan hati melintasi batas. Larangan itu bab mantra yang diulang di setiap upacara panen, di setiap malam bulan purnama.

Kemarau panjang menimpa tanah itu layaknya kutukan yang lupa pulang. Padi mengering sebelum berisi, air sumur menyusut, dan permukaannya memantulkan wajah-wajah cemas. Daun-daun pohon randu menguning. Warga Golan berkumpul di balai desa, wajah mereka kusut oleh kekhawatiran.

"Air kita habis," kata Tetua Desa Golan, suaranya berat seperti batu sungai. "Kita harus cari sumber baru, sebelum sawah jadi makam."

Tetua Desa mengutus Bumi, seorang pemuda pembuat keris yang lebih sering berbicara pada bara api daripada pada manusia. Jemarinya hitam oleh arang, dadanya dipenuhi dongeng-dongeng. Ia tinggal di pondok kecil di pinggir desa, dimana asap dari perapiannya naik bak doa yang tak pernah terjawab. Ayahnya, seorang pandai besi tua, telah mewariskan rahasia besi yang membara, dan juga beban dendam yang tak pernah ia ceritakan sepenuhnya.

Bumi ditugaskan mencari sumber air. Ia ditunjuk bukan karena paling kuat atau pandai, melainkan karena pendiam, yang dipercaya dapat menyimpan rahasia lebih rapat daripada peti besi. Ia berangkat pagi-pagi, membawa bekal dan perlengkapan seadanya.

Ia berjalan melewati ladang-ladang mati hingga tiba di batas sungai. Angin membawa aroma bunga kenanga dari Desa Mirah, wangi yang selama ini hanya dikenal sebagai cerita terlarang. Aroma itu terasa manis, menyusup ke hidungnya.

Di sanalah ia melihat Awan, seorang gadis penjaga sendang keramat yang airnya dipercaya sebagai mata kehidupan. Rambutnya panjang dan matanya membawa kesedihan. Ia hidup sendirian di gubuk dekat sendang, dimana embun pagi menetes seperti air mata. Ibunya telah meninggal saat melahirkannya, meninggalkan warisan tugas menjaga air suci itu, serta cerita-cerita bisu tentang cinta yang hilang. Ia berdiri di tepi sendang, gaunnya putih kusam oleh debu kemarau, rambutnya ditiup angin sepoi.

Mata mereka bertemu, tak ada petir atau badai seperti yang selalu dituturkan Tetua Desa dan dipercayai warganya. Hanya ada rasa asing yang tiba-tiba menjadi nyaman.

Mereka saling tersenyum. Bumi merasa dadanya bergetar, dan Awan menunduk, tetapi matanya tak lepas melirik wajah tampan pemuda itu.

"Air ini suci," kata Awan pelan. "Jangan ambil tanpa izin."

Bumi mengangguk. "Aku cuma cari sumber air, desaku kekeringan."

Awan ragu sejenak, lalu mengangguk. "Ikut aku, ada rembesan di bawah pohon randu tepi sungai di ujung."

Mereka berjalan pelan, tanpa menyeberang sungai sepenuhnya, hanya mengikuti tepian yang aman. Langkah-langkah itu sudah cukup untuk memulai retakan di pagar bambu larangan.

Sambil melangkah pelan, mereka berbincang tentang musim yang berubah, tentang orang tua yang takut pada masa lalu, tentang masa depan yang terasa seperti cerita rakyat yang terlalu indah untuk dipercaya. Bumi menceritakan bagaimana ia membentuk keris dari besi mentah, bagaimana api mengajarinya kesabaran. Sedangkan Awan berbagi rahasia sendang, tentang bagaimana airnya berubah warna saat bulan purnama, seolah menyimpan rahasia dunia.

Hari-hari berikutnya, mereka terus bertemu dengan alasan mencari sumber air yang melimpah. Padahal alasan sebenarnya lebih dari itu.

"Air tidak pernah memilih desa. Mengapa kita harus?" tanya Bumi di suatu sore.

Awan tersenyum pahit, memungut daun randu yang jatuh. "Karena manusia takut pada apa yang tidak bisa mereka kendalikan, termasuk hati sendiri."

Bumi mendekat, suaranya rendah. "Hati ini tak bisa dibendung seperti sungai."

Awan menatapnya lama. "Tapi arusnya bisa menenggelamkan kita berdua."

Rumor kedekatan mereka tumbuh lebih cepat dari rumput ilalang. Menyebar ke warga-warga di Desa Golan dan Mirah.

"Kau main api, Nak," tutur ayahnya Bumi dengan suara gemetar. "Jangan ulangi kesalahan ayahmu dulu!"

Bumi menatap piring kosong. "Kesalahan apa?"

Ayahnya diam, matanya penuh bayangan cerita lama tentang cinta terlarang yang hampir menghancurkan keluarganya.

Di sisi lain, buleknya Awan datang ke gubuk. "Kau ingin kekacauan datang? Kutukan itu nyata!"

Awan menunduk. "Ini bukan kutukan, Bulek. Ini perihal hati."

"Hati bisa dibohongi, tetapi sungai tidak!" serunya.

***

Awan dan Bumi bertemu diam-diam di bawah jembatan bambu, tempat yang terlalu mustahil untuk dicurigai warga. Bumi membawa keris setengah jadi. Sedangkan Awan membawa bunga cempaka yang baru mekar.

"Keris ini belum punya nama. Berikam nama yang tidak membawa perang," kata Bumi sambil menyodorkannya.

"Tirta Lelana, berarti air mengembara yang tak mengenal batas," jawab Awan jarinya menyentuh besi dingin dan mengusapkan bunga cempaka yang ia genggam.

Bumi tersenyum, memegang tangan Awan pelan. "Tapi kita tak bisa terus sembunyi," katanya.

Awan mengangguk. "Desa kita seperti musuh abadi, Bumi!"

Malam itu mereka berjanji: setelah hujan kembali datang, mereka akan meninggalkan kedua desa dan membangun hidup baru di tempat yang tidak mengenal mitos lama.

***

Hujan akhirnya turun dengan deras. Sungai meluap, sawah-sawah tergenang. Orang-orang panik, menyalahkan apa pun yang mudah disalahkan. Air naik cepat, menghanyutkan ayam-ayam dan perabot sederhana.

"Ini akibat pelanggaran!" teriak seorang warga Golan, suaranya hilang dalam gemuruh hujan.

Bumi dan Awan disebut seperti mantra buruk. Di Mirah, orang-orang berkumpul, menyalahkan gadis penjaga sendang itu. Sedangkan di Golan, Bumi dihadapkan ke Tetua Desa.

"Kau membawa malapetaka!" bentak Tetua Desa. "Larangan itu ada untuk sebuah alasan yang tak kasatmata."

Bumi berdiri tegap. "Larangan itu buatan manusia, bukan dewa."

Ayahnya menarik Bumi pergi. "Hidupmu akan berakhir sia-sia jika terbuai oleh cinta!"

***

Kedua desa memutuskan menggelar ritual masing-masing. Ritual pemisahan, sebuah upacara yang konon dipercaya dapat menjaga keseimbangan alam. “Mereka harus dipisahkan, atau desa akan hancur,” kata para tetua. Ritual itu melibatkan doa panjang yang dibaca berulang, asap dupa yang mengepul tebal membungkus malam, dan pengorbanan ayam cemani—darahnya diteteskan ke tanah sebagai simbol bahwa darah lain tak boleh tumpah lagi karena cinta.

Malam sebelum ritual berlangsung, Bumi menyelinap keluar pondoknya, langkahnya pelan menghindari daun-daun kering. Ia menuju jembatan perbatasan. Awan sudah menunggu di sana, tubuhnya dibalut kain jarik basah oleh gerimis tipis yang mulai turun. Rambutnya menempel di pipi, air menetes dari ujung-ujungnya. Matanya merah karena menahan tangis sejak sore.

Mereka berdiri berhadapan. Tak ada kata langsung selama beberapa tarikan napas. Hujan semakin menderas.

“Aku mendengar mereka sudah menyiapkan sesajen untuk memisahkan kita besok. Ayo kita pergi malam ini,” kata Bumi akhirnya.

Awan mengangguk, tatapannya tampak keruh. "Aku takut, Bumi. Bagaimana jika kutukan itu benar adanya?"

"Semua tak nyata, percayalah!" jawab Bumi sambil memeluknya. "Semua hanya cerita untuk menakut-nakuti dan menguji ketangguhan cinta."

Tanggul tua di hulu jebol dengan suara menggelegar, seperti kayu besar yang patah sekaligus. Gelombang lumpur datang, air sunga seolah berubah menjadi binatang raksasa yang lapar, menyeret apa saja yang ada di jalurnya.

Bumi menarik Awan ke belakangnya, mencoba melindungi. “Pegang erat!”

Awan menggenggam tangannya kuat-kuat. “Aku percaya padamu!”

Bumi berjuang melawan arus, kakinya mencari pijakan di lumpur licin. Keris Tirta Lelana terlepas dari sarungnya, berkilat sekali di bawah kilat petir, lalu lenyap ditelan air keruh.

Arus semakin ganas. Mereka terseret. Tangan Awan mulai terlepas sedikit demi sedikit. 

“Bumi—!”

Awan meraih lagi, mencari tangan Bumi, tetapi air lebih kuat. Teriakan Awan tertelan gemuruh.

Bumi berbalik, mencoba menangkapnya, tubuhnya ikut terbawa. Air menarik mereka ke arah yang berlawanan.

Awan berhasil meraih akar pohon randu yang menjorok ke sungai. Ia menarik diri ke tepian, terengah-engah, air mata bercampur lumpur. Matanya mencari-cari di kegelapan.

“Bumi …!”

Namun, sungai sudah menelan segalanya. Hanya kilatan petir yang sesekali menerangi permukaan air yang bergolak. Tak ada lagi suara Bumi.


Selesai.


Ponorogo, 6 Februari 2026

Catatan kaki:
Golan dan Mirah adalah dua desa di Sukorejo, Ponorogo, yang memiliki legenda populer tentang cinta terlarang antara Joko Lancur (putra Ki Ageng Honggolono dari Golan) dan Siti Amirah (putri Ki Ageng Mirah dari Mirah).Kisah ini berujung pada sumpah serapah Ki Ageng Honggolono yang melarang penyatuan segala hal dari kedua desa tetersebut: Warga Desa Golan dan Desa Mirah dilarang saling menikah. Benda-benda dari kedua desa (seperti kayu, air, atau hasil bumi) tidak boleh disatukan.

Secara fisik, terdapat dua aliran sungai dari masing-masing desa yang konon airnya tidak dapat bercampur meski bertemu di satu titik. Latar belakang Ki Ageng Honggolono dikenal sebagai tokoh sakti (penganut Hindu/Kejawen), sementara Ki Ageng Mirah adalah penyebar agama Islam yang mendampingi Raden Bathara Katong dalam mendirikan Ponorogo.

Hingga detik ini mayoritas warga dari kedua desa masih mempercayai mitos kutukan itu dan memilih jalan aman untuk tidak melanggar pantangan.

Posting Komentar

0 Komentar