Cerpen Juara Tiga
Event Benang Bahasa Kartini
AGAR TIDAK ADA DIPTA LAIN
Karya: Hana Tsuki Noa
“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?”
Puspa menepuk pundakku. Pelan saja, tapi cukup membuatku terkejut.
Aku segera membenarkan tas kain lusuh buatan Ibu, lalu mempercepat langkah.
Kami berjalan di gang sempit dekat rel Stasiun Pasar Senen, diapit dinding-dinding tripleks lapuk, jemuran yang digantung seadanya, kabel-kabel semrawut, bau got bercampur asap besi, serta suara kereta yang bergemuruh setiap beberapa menit sekali.
Di balik pagar rel berkarat, gedung-gedung tinggi terlihat seperti dunia lain yang sulit digapai oleh anak-anak seperti kami. Debu beterbangan, menempel di kulit yang lengket oleh keringat. Puspa melangkah cepat sambil menggendong Dipta di punggungnya.
Masih terbayang wajahku di cermin retak milik Bang Jalu yang tergantung miring di dinding warung kecil dekat gang. Aku selalu memantaskan diri sejenak setiap kali melewati jalan itu, merapikan pakaian dan rambut ikalku yang kusut. Baju kumal yang menempel di tubuh ini seolah berubah menjadi seragam putih dokter dalam pantulan cermin, lengkap dengan alat pemeriksa di leher. Bayangan itu tampak begitu nyata hingga aku tak ingin berkedip saat menatapnya.
“Kartika, kamu ngelamun lagi, ya?” tegur Puspa.
“Nggak, aku cuma—”
“Gak usah dijelasin. Pasti kamu mengkhayal jadi dokter lagi, kan?”
Aku diam. Tebakannya tepat.
Ia berhenti, menatapku tajam dengan kedua mata bulatnya. “Boleh mimpi, tapi lihat keadaan juga, Kartika. Besok masih bisa makan aja udah bagus.” Suaranya keras, tapi matanya sayu. “Cepat pungut botol-botol itu! Jangan buang-buang waktu dengan mimpi di siang bolong! Adik kita sudah kelaparan!”
Adikku menangis serak di punggungnya. Suaranya lirih. Perut mungilnya belum tersentuh makanan sejak pagi.
Segera kuturuti perintah kakakku. Ia akan marah kalau melihatku berkhayal lagi. Tapi apa salahnya bermimpi? Aku ingin menjadi dokter agar tak ada Dipta lain di luar sana. Kasihan sekali adikku itu. Ia bahkan belum sempat menyusu pada Ibu.
Kalau hidup kami cukup dan Ibu masih ada, mungkin aku duduk di kelas enam sekarang. Mengenakan seragam merah putih. Setiap hari belajar berhitung dan menulis di papan tulis, bukan di tumpukan sampah seperti ini.
Bau anyir pasar, kertas basah, peluh manusia, dan asap kendaraan sudah menjadi kawanku sehari-hari. Setiap kali memulung di Pasar Senen, aku tak hanya mencari botol atau kardus, tetapi juga buku. Bagiku, buku lebih berharga daripada botol plastik paling mahal sekalipun.
Kadang kutemukan buku pelajaran sobek, majalah bekas, koran usang, atau lembaran cerita anak tanpa sampul di pembuangan sampah. Sengaja tidak kujual benda berharga itu. Semuanya kubawa pulang, kususun di sudut rumah reot kami, di atas meja kayu tua dekat lampu minyak yang nyalanya sering bergetar tertiup angin malam.
Rumah kami berdinding seng berkarat, beratap terpal kusam dengan lubang-lubang yang tak lagi bisa kuhitung jumlahnya. Lantainya tanah lembap, dingin saat diinjak pada pagi hari, dan menjadi lumpur yang berbau besi ketika turun hujan. Saat siang, panas seng membakar udara hingga sesak. Saat malam, suara tikus berlarian dan getaran rel mengusik tidur kami. Bila kereta lewat, rumah seperti hendak roboh.
Di luar, suara klakson, pedagang nasi uduk, teriakan kernet, dan gemuruh rel bersahut-sahutan.
“Bandrek! Bandrek hangat!”
Seruan penjual bandrek keliling selalu mengingatkanku pada Ibu, pada malam-malam ketika ia merebus jahe hasil memulung di lapak sayuran agar tubuh kami tetap hangat.
Suatu sore, saat aku membaca koran bekas di dekat lapak buku loak, pemilik lapak itu menghampiriku.
“Kamu suka baca, Nak?” tanyanya.
Aku mengangguk, tak berani menatap.
Ia tersenyum, lalu menyerahkan sebuah buku tebal bergambar tubuh manusia.
“Dulu ada juga anak kecil yang sering duduk baca di sini,” katanya.
“Sekarang?”
Lelaki itu tersenyum tipis. “Udah nggak ada. Rawat bukunya baik-baik, ya. Itu bisa membuka matamu.”
Aku menerimanya dengan senang hati. Aku takjub melihat begitu banyak bagian di dalam tubuh manusia. Aku jadi ingin tahu kenapa orang bisa sakit dan kenapa Ibu tak sempat ditolong.
Setelahnya, hampir setiap hari aku mampir ke lapaknya. Ia tak pernah melarangku berlama-lama di sana.
Kadang kami tak bicara apa-apa. Ia hanya membereskan buku-buku, sementara aku membaca di lantai semen dengan bersandar ke tembok yang dingin.
Setiap malam, aku membaca sampai minyak lampu hampir habis. Kadang Puspa marah, memintaku tidur karena besok harus bangun pagi. Tapi aku tak bisa berhenti. Ada sesuatu di dalam buku itu yang membuatku ingin tahu lebih banyak.
Aku ingin tahu apa yang membuat Ibu kehabisan darah saat melahirkan Dipta. Aku juga ingin tahu mengapa demam bisa sangat berbahaya.
Sedikit demi sedikit, hidupku mulai berubah. Aku membawa buku setiap pergi memulung. Kapan pun ada waktu, aku gunakan untuk membaca. Kadang aku bicara sendiri, mencoba menyebut nama-nama organ seperti yang tertulis. Puspa sering menatapku heran.
“Kamu sudah kayak orang dewasa, Kartika,” katanya suatu malam sambil menyalakan lampu minyak.
Aku tersenyum kecil. “Aku cuma mau tahu gimana Ibu bisa sampai kehabisan darah waktu melahirkan Dipta.”
Ia diam. Hening. Hanya bunyi napas tipis Dipta yang terdengar.
Ibu meninggal dua tahun lalu, saat melahirkan Dipta. Kami tak bisa membawanya ke rumah sakit karena biaya persalinan terlalu mahal. Ia melahirkan di rumah dengan bantuan tetangga. Darahnya tak berhenti sampai pagi. Aku masih ingat, sebelum pergi, ia berbisik, “Jaga adikmu.”
Ayah sudah lama pergi bekerja ke luar kota dan tak pernah kembali. Kadang ia mengirim kabar lewat orang lain, kadang berbulan-bulan menghilang begitu saja. Setelah Ibu meninggal, kabarnya tak pernah terdengar hingga akhirnya tak ada lagi yang kami tunggu. Kini, hanya Puspa yang berdiri di antara aku dan dunia yang tak kenal belas kasih.
Puspa terpaksa berhenti sekolah. Ia menggantikan peran Ibu, mengurusku dan adik kami.
Suatu sore, ketika aku sedang membaca di depan rumah, Puspa datang dengan wajah kesal.
“Kartika! Ngapain kamu malah baca buku? Sementara aku sudah capek keliling mulung!”
Aku menutup buku perlahan. “Kalau aku sering baca, mungkin aku bisa tahu kenapa orang bisa sakit.”
“Tapi buku itu gak bikin perut kita kenyang, Kartika!”
Aku diam saja. Mungkin dia benar, tapi hatiku diam-diam menolak ucapannya. Aku yakin, suatu hari nanti, buku ini akan berguna bagiku untuk menolong orang lain.
Malamnya, adikku demam. Tubuh kecilnya panas sekali hingga wajahnya memerah, napasnya cepat. Aku segera mencari air bersih di wadah tanah liat, mengompres dahinya, mengganti kain yang mulai kering. Dipta merengek lemah di pelukanku.
“Bertahanlah, Dipta,” bisikku.
Untuk beberapa saat, Dipta tampak tenang. Namun, ketika aku hendak tidur, Puspa berteriak panik.
“Kartika, Dipta gak berhenti menggigil!”
Aku menatap buku anatomi yang tergeletak di lantai. “Kita harus ke klinik,” kataku.
Puspa mengangguk, lalu kami berlari menembus jalan kumuh dan bau got, melewati rel menuju klinik kecil di tepi jalan besar. Lampu di dalam masih menyala. Petugas jaga memandang kami dari balik meja.
“Apa kalian punya BPJS?” tanyanya datar.
Puspa menggeleng, lalu mengeluarkan beberapa koin dari tas lusuhnya. Tangannya gemetar.
“Tolong, adik kami sakit ....”
Petugas itu melirik Dipta sebentar, lalu menunduk kembali ke layar komputer.
“Kalau tidak ada BPJS atau uang muka, kami tidak bisa proses malam ini.”
“Tapi adik saya panas tinggi,” suara Puspa mulai pecah.
“Coba dibawa ke rumah sakit pemerintah besok pagi.”
“Tolong ... kami bakal bayar sedikit-sedikit.”
Petugas itu diam sebentar sebelum menggeleng pelan.
“Saya cuma menjalankan aturan.”
Kami berdiri lama di depan pintu. Angin malam berdebu menyapu wajah kami yang putus asa.
Malam itu, kami pulang dengan langkah berat. Dipta terlelap di pelukan Puspa, napasnya tipis-tipis. Aku memanaskan air, membasuh dahinya perlahan. Dari jauh terdengar suara kereta lewat membelah kesunyian.
Puspa memelukku. “Kartika ... dia berhenti menggigil.”
Aku tahu tubuh itu sudah terlalu tenang. Tak ada lagi suara napasnya, tapi aku tak menangis. Hanya diam, menatap wajah adikku yang tenang.
Puspa menangis keras, suaranya menyayat di tengah sepi. Aku hanya memeluk tubuh kecil Dipta, tak tahu harus apa.
Maafkan aku, Dipta. Aku belum cukup pintar untuk menyelamatkanmu.
Beberapa hari kemudian, aku tetap memulung. Puspa lebih banyak diam sekarang. Kadang kulihat ia menatap buku anatomi itu, membuka satu halaman, lalu menutupnya cepat-cepat.
Di rumah, aku menaruh kaleng bekas susu di sudut tumpukan buku. Di atasnya kutulis: “Untuk sekolah. Agar tak ada Dipta lain.”
Malam itu, Puspa membaca tulisan itu lama sekali. Ia menggenggam tanganku, bibirnya bergetar.
“Teruslah bermimpi, Kartika,” katanya lirih. “Biar aku yang bekerja lebih keras. Kamu harus sekolah lagi.”
Malam itu, kami berpelukan erat. Saat itulah aku sadar, Puspa adalah satu-satunya keluarga yang masih kupunya.
Hari-hari berikutnya seolah berjalan lebih lama dari biasanya. Puspa mulai bekerja sampai malam membantu mencuci piring di warung makan dekat terminal. Tangannya sampai pecah-pecah karena terlalu sering terkena air sabun, tetapi ia jarang sekali mengeluh.
Aku pun tak tinggal diam. Aku ikut membantu memilah kardus dan botol di pengepul demi mendapatkan uang tambahan. Kadang, sebelum tidur, aku masih sempat membaca buku-buku bekas di bawah lampu minyak yang makin redup.
Kaleng bekas susu di sudut rumah pelan-pelan mulai kami isi recehan.
Beberapa minggu kemudian, Puspa pulang dengan wajah letih, tapi matanya bersinar. Di tangannya ada selembar kertas kusut dari sekolah pemerintah.
“Mulai besok, kamu sekolah lagi,” katanya. Ia menatapku dengan senyum kecil. “Sekolah yang bener, Kartika.”
“Kata Bu Rina, masih ada program bantuan buat anak yang putus sekolah. Tapi kamu harus rajin,”ujar Puspa sambil mengelus kepalaku.
Hari pertamaku kembali duduk di bangku kelas terasa seperti membuka pintu menuju dunia baru. Seragamku sederhana dan sedikit kebesaran, tetapi aku mengenakannya seperti baju kebanggaan.
Bu Guru memandang namaku di daftar hadir, lalu tersenyum hangat.
“Namamu bagus, Kartika. Belajar yang rajin, ya. Perempuan juga berhak punya cita-cita besar.”
Aku menggenggam buku di mejaku erat-erat. Aku semakin yakin dengan cita-citaku.
Mungkin dunia tak mengenal nama Puspa. Tapi aku tahu, kakakku adalah alasan mimpiku masih hidup.
Di luar, suara penjual bandrek menggema di antara rel dan langit Jakarta yang muram.
“Bandrek! Bandrek hangat!”
Malam ini, suara itu terdengar seperti harapan.
Tamat

0 Komentar