RITUAL MENGERINGKAN DUKA - Lia Nameera

 


Ritual Mengeringkan Duka

Lia Nameera


Sejak ibu meninggal, kau jadi takut pada jemuran. Kau takut pada tali tambangnya. Kau takut pada pakaian-pakaian yang bergoyang diterpa angin. Kau takut sebab benda-benda itu mengingatkanmu bahwa dunia selalu menemukan cara untuk menilai perempuan, bahkan dari kebiasaan menjemur pakaian.


Kali pertama kau mendengar hal itu dari ibumu, kau tertawa geli. Itu saat pertama kali kau mencuci pakaianmu sendiri. Kaudapati seragam SMP-mu kotor terkena lumpur, sementara seragam itu adalah satu-satunya. Kau takut dimarahi, lalu kau cuci seadanya, dan kau jemur sembarangan. Kau gantung seragammu di antara celana ayah dan sepreimu yang bermotif bunga-bunga.


Ibu memergokimu. Melihat raut wajah paniknya dan matanya yang memelotot karena kaget, kaukira kau bakalan diusir.


“Jangan sampai tetangga melihatmu menjemur pakaian seperti itu,” katanya. Kau melongo, masih belum tahu salahmu apa. “Menjemur pakaian harus rapi. Baju dengan baju. Celana dengan celana. Susun dari besar ke kecil. Kalau tidak, orang akan bilang kau punya hati yang kotor dan jahat.”


Kau tergelak, mengira ibumu bercanda. Namun, raut wajahnya tak menyiratkan sedikit pun ada hal lucu. “Kok, repot sekali, sih, Bu?“ katamu.


Sambil membetulkan letak jemuran, ibumu berkata, “Nanti kalau kau menjadi istri, kau akan paham.”


Kau ingin membantah, hidup perempuan tak mungkin digantung di tali jemuran, tapi urung karena melihat binar di mata ibumu, seolah-olah ia sedang merapikan seluruh hidupnya, bukan jemuran.


Menjemur pakaian akhirnya menjadi pekerjaan paling menjengkelkan bagimu. Ibu akan merapikan jemuran yang sudah kaususun hanya karena ada satu baju terselip di antara celana, atau sebaliknya. Atau, ia akan repot turun ke tengah terik matahari saat menyadari urutan dari kain besar ke kecil tidak sempurna.


“Hanya perempuan busuk hati yang menjemur pakaian tidak rapi,” katanya berulang-ulang.


Kau kerap malas mencuci, kaubiarkan saja ditangani ibu. Toh, ibu akan mengulang pekerjaanmu—mungkin kau sudah menjadi perempuan busuk hati itu.


Semakin dewasa, kau mulai sadar bahwa dunia memang senang mengurusi bagaimana perempuan duduk, bicara, berpakaian, tertawa, bahkan menggantung pakaian.


Suatu hari seorang lelaki datang bersama keluarganya. Kau tahu lelaki itu, namanya Rahman. Kau sering berpapasan dengannya di jalan saat menemani ibu ke pasar, bertukar senyum. Kau juga tahu bahwa dia salah satu pegawai di kantor desa. Rambutnya selalu klimis. Kemejanya licin.


“Ayahmu bilang kamu jarang keluar rumah,” katanya sambil tersenyum.


Kau tidak menjawab.


“Perempuan yang baik biasanya betah di rumah.”


Lelaki itu mengatakannya sambil menyeruput teh buatan ibu, seolah kalimat itu sesuatu yang wajar. Ayah tersenyum mendengarnya. Ibu diam saja.


Obrolan setelahnya tak begitu menarik bagimu—malah, sejak semula memang tidak menarik. Kau bertukar senyum dengan Rahman hanya sebatas kesopanan. Lulus SMA bagimu adalah saatnya kau merantau jauh, kuliah di kota. Tidak mengapa tinggal di kamar sempit dekat stasiun, asalkan kau masih bisa membeli kopi murah saat pulang, menyeruputnya sambil membaca buku. Namun, ayahmu menentangnya. Dan, kau terkurung bertahun-tahun di rumah sampai para tetangga melabelimu perawan tua.


Ibunya Rahman bertanya apakah kau terbiasa bangun pagi, bisa memasak, dan mencuci—yang kau dengar seperti dengungan panjang, membuat kupingmu sakit. Ayahnya Rahman bilang, kau tidak perlu repot-repot bekerja, cukup di rumah saja. Mereka tidak bertanya apa yang kau suka, apa yang ingin kaulakukan dalam hidupmu, atau kenapa kau diam sejak tadi.


Malamnya kau mengomel pada Ibu.


“Aku tidak suka laki-laki itu.”


Ibu sedang melipat pakaian waktu itu. Tangannya berhenti sesaat.


“Kenapa?”


“Dia bicara seakan-akan tugasku cuma mengabdi, mengabdi, dan mengabdi.”


Ibu tersenyum kecil, “Tak ada yang salah dengan itu.”


“Aku tidak mau.”


Ibu menatapmu lama sekali. “Aku dulu juga bilang begitu.”


Kalimat itu membuatmu diam. Untuk pertama kalinya kau merasa bahwa mungkin ada kehidupan lain yang pernah diinginkan ibu.


“Dulu Ibu kuliah sampai semester satu,” katanya tiba-tiba.


“Kok, aku tidak pernah tahu?”


Ibu tidak menjawab pertanyaanmu, “Ibu juga suka membaca.”


“Membaca apa?”


“Apa saja.”


“Lalu?”


“Lalu Ibu menikah.”


Pembicaraan itu tak pernah selesai karena seminggu kemudian ibumu meninggal.


Pagi pertama setelah pemakaman, kau merasa rumah telah kehilangan jantungnya. Matahari belum tinggi. Embun masih menempel di daun belimbing. Di dapur, tak ada bunyi tutup panci dibuka, tak ada suara sendok beradu dengan gelas.


Ayah yang terbiasa diurus ibu dari bangun tidur hingga tidur lagi pun ambruk. Semua benda di rumahmu menjelma anak ayam kehilangan induk: pot-pot berisi tanaman kesayangan ibu, piring-piring yang selalu ibu pastikan mengilat, bangku kayu di bawah pohon belimbing yang ibu buat sendiri, sapu, lemari, panci, jemuran ... jemuran yang kaubenci.


Ibu selalu bangun sebelum azan subuh. Saat orang lain masih terbungkus selimut, perempuan berusia lima puluh lima tahun itu sudah selesai menyapu seisi rumah. Kadang kau terbangun karena suara ember atau bunyi keran dibuka.


Setelah salat Subuh, ia akan membuka jendela satu per satu. Udara pagi masuk bersama bau tanah basah dan suara burung yang ribut di kabel listrik. Rambutnya yang mulai ditumbuhi uban selalu digelung seadanya. Daster bunganya longgar, warnanya memudar di bagian dada dan bahu karena terlalu sering kena matahari.


Kau tak pernah benar-benar membayangkan ibu bisa mati. Kau tak pernah membayangkan hidup tanpa ibumu.


Tangannya tak pernah betah diam. Kalau tidak memasak, ia melipat pakaian. Kalau tidak melipat pakaian, ia membersihkan meja atau merapikan sesuatu yang sebenarnya sudah rapi. Kadang ia memutar sedikit letak stoples gula hanya karena menurutnya miring.


Kini satu-satunya sumber kekuatanmu telah pergi. Kau patah, kau merasa siap kalah pada badai apa pun, sebab kau sudah tak punya doa ibumu lagi. Kau merasa angin paling jinak sekali pun mampu merobohkanmu.


Selesai tahlilan ke tiga hari, kerabat dan tetangga berkumpul sebab kau, ayah, dan adikmu memasuki fase berikutnya dari ritual duka: membagi peninggalan ibu. Mukena, sajadah, dan apa pun yang berlabel milik ibu, termasuk baju-baju, harus disedekahkan.


Beberapa orang berebut memilih pakaian terbaik, meskipun adikmu menangis memeluk kain-kain itu. Seorang kerabat menenangkan adikmu sambil berkata, “Kalau baju ibu tidak disedekahkan, ibu akan telanjang di alam barzakh.”


Kau tersenyum getir. Rupanya perempuan tetap harus menjaga kepantasannya bahkan setelah ia mati. Tiba-tiba kehilangan ibu terasa lebih menyakitkan bagimu, serasa ada yang mengoyak-ngoyak bagian tubuhmu.


Kaukira, kedukaan karena kehilangan ibu cukup bagimu, tapi ternyata harus ditambah kedukaan-kedukaan lainnya. Duka itu beranak pinak menjadi ratusan tusukan di dadamu. Untuk pertama kalinya kau merasa kau rela menjemur baju seribu kali dengan omelan ibu asalkan ibu masih ada.


Rahman lebih sering datang setelah itu. Sore selepas bekerja, ia menemani ayahmu duduk-duduk sambil mengobrol. Sampai suatu ketika ayahmu bilang, “Ayah sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian.”


Kau tercekat. Dukamu saja belum kering. Kau membantah, tapi kata ayah, “Kalau ibumu ada, ibu pasti setuju dengan ayah. Ingatlah usiamu—”


“Aku tidak mau menikah!”


“Jangan keras kepala. Rahman lelaki baik, punya pekerjaan tetap. Kau beruntung. Ayah yakin ia bisa membimbingmu.”


Membimbing. Kau membenci kata itu. Seumur hidup perempuan dibimbing ke tempat-tempat yang tidak mereka inginkan. Rasanya kau ingin mengamuk, tapi menambahkan pertengkaran di tengah duka seperti mengetuk retak pada gelas yang sudah pecah.


Kau sudah takpeduli lagi soal apa yang direncanakan ayahmu dan Rahman. Diammu disalah pahami sebagai kepasrahan. Kau jadi lebih suka berdiam di halaman belakang, menatap tali jemuran yang kaubenci setengah mati. Lalu kau ingat tentang cucian yang kaubiarkan lama teronggok di sudut kamar mandi. Baju kotor yang belum sempat ibumu cuci, ada pakaian ayah, baju adikmu, dan dua daster lusuh milik ibu.


Air keran perlahan mengisi ember. Bau sabun segera memenuhi ruangan sempit itu. Kau mengucek, membilas, memeras. Gerakan yang dulu paling malas kaulakukan terasa bagimu seperti cara untuk memanggil ibu pulang sebentar saja.


Satu daster ibu kau angkat dekat wajahmu. Masih ada sedikit aroma minyak kayu putih di sana. Dadamu mendadak nyeri.


Selesai mencuci, kau membawa pakaian-pakaian itu ke halaman belakang.


Langit pagi masih berwarna pucat. Angin bertiup menggerakkan daun belimbing perlahan. Kau mulai menggantung pakaian satu per satu. Baju dengan baju. Celana dengan celana. Kain besar ke kain kecil. Persis seperti yang diajarkan ibu.


Saat kain terakhir kau pasang, tali jemuran itu putus. Begitu saja. Seperti kepergian ibu. Tanpa tanda dan tanpa aba-aba. Semua pakaian jatuh ke tanah.


Kau terdiam.


Daster ibu tergeletak di dekat kakimu. Sesuatu di dalam dadamu ikut runtuh bersamanya.


Kau menangis.


Kau sadar tangisanmu bukan karena tali jemuran yang putus. Kau berjongkok memunguti pakaian-pakaian basah itu. Kau bilas lagi, lalu kau teringat wajah ibu setiap kali ia merapikan jemuran: telaten, hati-hati, seolah hidup bisa menjadi lebih baik jika semuanya tersusun rapi.


Kau memasang kembali tali jemuran itu seadanya. Sedikit miring. Setelah itu kau menggantung pakaian tanpa urutan. Celana bercampur baju. Kain besar menindih kain kecil. Berantakan. Serampangan. Persetan, kau bilang.


Biar saja ibu mengomel. Biar saja orang tahu hatimu berantakan, atau busuk, atau tak memilikinya pun terasa baik-baik saja. Kau bertekad akan pergi, mengejar mimpimu yang tertunda, dengan atau tanpa restu ayahmu.


Keranjang cucian telah kosong, dan kau menyadari tak ada lagi yang tersisa untuk digantung selain tubuhmu sendiri. Kau menatap lama pada tali di hadapanmu. Ada tetesan air jatuh ke tanah. Lihat, katamu, cucian pun menangis karena bukan ibu yang menanganinya.

 

Kau memanjat bangku kecil. Angin berembus pelan. Kaukaitkan tali jemuran di pundakmu, kaurentangkan tangan sejajar dengan bentangannya.


Kain-kain di sekelilingmu menari perlahan, menampar pipimu lembut. Kau berpikir, menjadi jemuran tidak begitu buruk. Ada kedamaian menyelusup di hatimu, semacam kelegaan yang membuat dada terasa ringan. Tubuhmu berayun pelan bersama pakaian ibu.


Senja datang ketika ayah dan adikmu memanggil-manggil namamu. Diam dan tunggulah, aku masih harus mengeringkan duka, katamu. Entah mereka mendengar atau tidak. []

Posting Komentar

0 Komentar